Pimpinan BIG Ungkap Bahaya Ketergantungan Data Peta Asing saat Perang: Peluru Kita Bisa Nyasar
Badan Informasi Geospasial (BIG) memperingatkan risiko fatal bagi pertahanan Indonesia akibat ketergantungan pada teknologi pemetaan asing.
Ringkasan Berita:
- Badan Informasi Geospasial (BIG) memperingatkan risiko fatal bagi pertahanan Indonesia akibat ketergantungan pada teknologi pemetaan asing.
- Mohamad Arief Syafii, mengingatkan Indonesia memiliki satelit sendiri untuk akurasi target militer.
- Ia mengambil contoh ketegangan konflik di Timur Tengah sebagai pelajaran krusial bagi kedaulatan data.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Badan Informasi Geospasial (BIG) memperingatkan risiko fatal bagi pertahanan Indonesia akibat ketergantungan pada teknologi pemetaan asing.
Hal ini disampaikan dalam rapat kerja bersama Badan Legislasi di Gedung DPR RI, Senin (6/4/2026).
Deputi Bidang Informasi Geospasial Dasar, Mohamad Arief Syafii, mengingatkan Indonesia memiliki satelit sendiri untuk akurasi target militer.
Baca juga: Pimpinan BIG Bongkar Fakta: Indonesia Belum Berdaulat, Data Kita Dikuasai Google Maps
Ia mengambil contoh ketegangan konflik di Timur Tengah sebagai pelajaran krusial bagi kedaulatan data.
"Mungkin perang Iran sama Amerika Israel ini contoh bagaimana mereka menggunakan citra satelit untuk menentukan objek mana yang akan ditembak, kalau kita ngga punya ini peluru kita bisa nyasar ke mana-mana, nah ini yang mungkin perlu," ungkap Arief.
Arief mengakui bahwa saat ini Indonesia belum berdaulat secara data.
Ia menyoroti perusahaan global seperti Google Maps justru memegang data pemetaan yang lebih lengkap dibandingkan institusi dalam negeri.
"Kami berharap kita ke depan punya kedaulatan terhadap data ini pak jujur saya sekarang ini kita belum berdaulat. Jangankan teknologinya Pak, data pun yang punya lengkap sekarang google maps, here maps, asing semua, kita nggak menguasai data-data ini," tuturnya.
Selain aspek keamanan, ketergantungan teknologi ini berdampak pada kecepatan pemutakhiran data nasional.
Dia bilang pemakaian pesawat terbang untuk memotret wilayah dinilai mahal dan memiliki cakupan area yang terbatas.
"Tadi Pak Sturman bilang ada perubahan di lapangan kita butuh teknologi yang cepat, ini hanya satelit yang bisa dilakukan ini, kalau pakai pesawat mahal dan hanya scoop yang kecil tapi dengan satelit kita bisa lakukan dengan cepat," jelas Arief.
Kritik Ketertinggalan Indonesia
Sementara itu, Anggota Komisi VI DPR RI Sturman Panjaitan mengkritik ketertinggalan teknologi Indonesia.
Ia menyebut teknologi Amerika Serikat sejak tahun 1996 sudah mampu memetakan objek sekecil mobil dengan sangat detail.
"Artinya teknologi yang sekarang itu jauh lebih mudah, dan siapapun bisa menggunakan teknologi utk melihat data Indonesia. Kalau kita masih mengandalkan pesawat yang bisa satu banding 100 ribu artinya berarti teknologi kita masih jauh tertinggal," tandasnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/RUDAL-GHADIR-w453423.jpg)