Senin, 13 April 2026

Sosok Parama Hansa Abhipraya, Anak 7 Tahun Peraih Rekor MURI dengan Prestasi Multidisiplin

Parama Hansa Abhipraya, anak 7 tahun asal Bojonegoro, mencatatkan namanya di MURI berkat prestasi lintas disiplin sejak dini

Penulis: Eko Sutriyanto
Editor: Wahyu Aji
HO/IST
RAIH REKOR MURI - Di usia 7 tahun, Parama Hansa Abhipraya atau Rama menapaki jalur berbeda dengan menekuni berbagai bidang, dari matematika hingga budaya. Minatnya yang luas mengantarkannya meraih pengakuan dari Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) sebagai anak dengan prestasi multidisiplin terbanyak. 

Ringkasan Berita:
  • Parama Hansa Abhipraya, anak 7 tahun asal Bojonegoro, mencatatkan namanya di Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) berkat prestasi lintas disiplin sejak dini
  • Ia menorehkan capaian di bidang matematika, musik, catur, literasi, hingga budaya
  • Perjalanannya mencerminkan perpaduan rasa ingin tahu, ketekunan, dan dukungan keluarga

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Di usia ketika sebagian besar anak masih larut dalam permainan dan rasa ingin tahu yang sederhana, Parama Hansa Abhipraya justru melangkah dengan cara yang berbeda.

Bocah yang akrab disapa Rama ini dikenal sebagai anak dengan minat yang luas.

Bukan hanya satu bidang, ia menekuni banyak hal sekaligus—mulai dari matematika, musik, hingga budaya. 

Perjalanannya kemudian mengantarkannya meraih pengakuan dari Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) sebagai anak usia dini dengan prestasi lintas disiplin terbanyak.

Namun, di balik pencapaian tersebut, kisah Rama sejatinya adalah tentang rasa ingin tahu yang tumbuh sejak dini.

Belajar dari Rasa Ingin Tahu

Sejak usia sekitar 3 tahun, Rama mulai menunjukkan ketertarikan pada berbagai hal.

Ia tidak dibatasi pada satu jalur tertentu. Hari-harinya diisi dengan mencoba, memahami, dan mengulang—proses sederhana yang perlahan membentuk kemampuannya.

Di bidang akademik, ia menemukan ketertarikan pada angka.

Matematika menjadi salah satu ruang eksplorasi yang ia tekuni. Dari situ, Rama mulai mengikuti berbagai kompetisi hingga akhirnya meraih gelar World Star Champion dalam ajang Thailand International Mathematical Olympiad (TIMO) 2025.

Namun bagi Rama, belajar bukan sekadar mengejar hasil.

Ada proses yang dinikmati di dalamnya—sebuah perjalanan memahami, bukan hanya menguasai.

Menemukan Irama di Tengah Angka

Di luar matematika, Rama juga menemukan dunia yang berbeda: musik.

Piano menjadi medium ekspresi yang ia tekuni dengan kesungguhan.

Melalui latihan dan kompetisi, ia meraih berbagai penghargaan, termasuk 2nd Silver Trophy dalam ajang Piano Golden Lion Singapore 2026.

Musik memberinya ruang untuk menyeimbangkan logika dengan rasa—dua hal yang berjalan berdampingan dalam kesehariannya.

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved