Industri Kreatif Indonesia Berpotensi Besar, Namun Terkendala Struktur
Dengan pengelolaan berbasis sistem, distribusi kuat, dan orientasi global, industri kreatif dinilai berpotensi menjadi pilar utama ekonomi nasional
Ringkasan Berita:
- Renaldy Pujiansyah menilai persoalan utama industri kreatif Indonesia terletak pada lemahnya sistem, bukan kurangnya kreativitas.
- Polemik yang kerap muncul, termasuk kasus publik, disebut sebagai refleksi masalah struktural seperti miskomunikasi, konflik kepentingan, dan lemahnya pengelolaan.
- Dengan pengelolaan berbasis sistem, distribusi kuat, dan orientasi global, industri kreatif dinilai berpotensi menjadi pilar utama ekonomi nasional.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Renaldy Pujiansyah, praktisi dan serial entrepreneur dan strategic architect, menilai industri kreatif Indonesia masih belum mencapai potensi optimal akibat lemahnya sistem pengelolaan.
Dengan pengalaman membangun bisnis lintas sektor, ia melihat persoalan utama bukan pada kurangnya kreativitas, melainkan pada belum terbentuknya struktur industri yang matang.
Baca juga: Muhammad Tito Karnavian Minta Pemda Kreatif Tingkatkan PAD, Jangan Bergantung pada Pusat
Menurut Renaldy, berbagai polemik yang kerap muncul di ruang publik, termasuk kasus yang melibatkan Amsal Sitepu, mencerminkan persoalan sistemik dalam ekosistem industri kreatif.
“Masalahnya bukan di orangnya, tapi di sistem yang belum terbentuk,” ujarnya, Kamis (9/4/2026).
Baca juga: Bukan Hanya Pelengkap Reputasi, Pemeringkatan Global Penentu Daya Saing PTS Indonesia
Ia menambahkan, setiap konflik yang muncul sering kali hanya dilihat dari sisi individu, tanpa menyentuh akar persoalan yang lebih mendasar.
“Setiap kali ada kasus, publik fokus ke siapa yang salah. Padahal kalau dilihat lebih dalam, ini masalah sistem yang belum matang,” kata Renaldy.
Ketiadaan struktur yang jelas, lanjutnya, membuat pelaku industri rentan terhadap miskomunikasi, konflik kepentingan, hingga kesalahan dalam mengelola ekspektasi publik.
Renaldy menilai Indonesia memiliki potensi kreativitas yang sangat besar, baik dari sisi budaya, ide, maupun talenta.
Namun, potensi tersebut belum sepenuhnya dikonversi menjadi kekuatan ekonomi yang berkelanjutan.
“Kita tidak kekurangan kreativitas, kita kekurangan cara mengelolanya,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa selama ini industri kreatif masih sering dipandang sebagai sektor pelengkap, bukan sebagai industri utama yang dikelola secara serius.
“Banyak yang masih menganggap industri kreatif itu sektor tambahan. Padahal kalau dikelola dengan benar, ini bisa jadi sektor utama,” katanya.
Menurutnya, kesalahan mendasar terletak pada cara memposisikan kreativitas yang masih dianggap sebagai ekspresi semata, bukan sebagai sistem industri.
“Selama ini, kreativitas diperlakukan seperti ekspresi. Padahal di level industri, kreativitas harus diperlakukan seperti sistem,” tegasnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/tantangaaaannnn-industri-kreatif.jpg)