Jumat, 24 April 2026

Bukan Hanya Pelengkap Reputasi, Pemeringkatan Global Penentu Daya Saing PTS Indonesia

Bagi perguruan tinggi swasta di Indonesia, posisi dalam ranking dunia jadi indikator daya saing sekaligus cermin kesiapan bersaing di level global.

Penulis: Eko Sutriyanto
Editor: Willem Jonata
HO/IST
PEMERINGKATAN GLOBAL - Rektor Universitas Mercu Buana, Andi Adriansyah, menilai pemeringkatan global memiliki peran strategis bagi PTS. Selain menjadi alat ukur objektif kualitas riset, capaian dalam ranking juga berdampak langsung pada tingkat kepercayaan publik dan komunitas akademik internasional. 

Ringkasan Berita:
  • Pemeringkatan global kini menjadi indikator utama daya saing perguruan tinggi swasta Indonesia di tengah persaingan internasional
  • Meski berbagai lembaga seperti SCImago Institutions Rankings digunakan, jumlah PTS yang masuk peringkat global masih terbatas
  • Penguatan riset, inovasi, dan kolaborasi menjadi kunci meningkatkan posisi di level dunia.
 

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Di tengah persaingan pendidikan tinggi global yang semakin ketat, pemeringkatan internasional kini tak lagi sekadar pelengkap reputasi.

Bagi perguruan tinggi swasta (PTS) di Indonesia, posisi dalam ranking dunia menjadi indikator nyata daya saing sekaligus cermin kesiapan bersaing di level global.

Berbagai lembaga pemeringkatan seperti QS World University Rankings (QS WUR), Times Higher Education World University Rankings (THE), AppliedHE, hingga SCImago Institutions Rankings 2026, menjadi rujukan dalam mengukur kualitas perguruan tinggi secara komprehensif.

Namun, dibandingkan negara lain di kawasan Asia, jumlah perguruan tinggi Indonesia—khususnya PTS—yang mampu menembus pemeringkatan global masih relatif terbatas. Kondisi ini menunjukkan bahwa penguatan kualitas riset dan inovasi masih menjadi tantangan besar.

Baca juga: Universitas Padjadjaran Terapkan WFH Setiap Jumat, Kuliah Praktikum Tetap Luring

SCImago Institutions Rankings, misalnya, menilai kinerja perguruan tinggi melalui tiga indikator utama: kinerja penelitian (research), inovasi (innovation), dan dampak sosial (societal impact).

Aspek riset diukur dari publikasi ilmiah terindeks Scopus, inovasi dari paten, serta dampak sosial dari visibilitas dan kontribusi institusi di ruang digital.

Rektor Universitas Mercu Buana, Andi Adriansyah, menilai pemeringkatan global memiliki peran strategis bagi PTS.

Selain menjadi alat ukur objektif kualitas riset, capaian dalam ranking juga berdampak langsung pada tingkat kepercayaan publik dan komunitas akademik internasional.

“Tidak hanya itu, posisi dalam pemeringkatan turut membuka peluang kolaborasi lintas negara serta memperluas akses terhadap pendanaan riset,” ujarnya, Kamis (9/4/2026).

Meski demikian, tantangan yang dihadapi PTS di Indonesia tidak sederhana.

Produktivitas publikasi ilmiah yang belum merata, keterbatasan pendanaan riset, hingga belum optimalnya hilirisasi inovasi menjadi hambatan utama dalam meningkatkan posisi di level global.

Menurut Andi, penguatan budaya riset menjadi kunci untuk menjawab tantangan tersebut.

Perguruan tinggi perlu mendorong dosen dan mahasiswa tidak hanya aktif meneliti, tetapi juga menghasilkan karya ilmiah yang berdampak luas.

“Penguatan budaya riset menjadi fokus utama kami dalam beberapa tahun terakhir. Kami mendorong publikasi ilmiah serta inovasi yang tidak berhenti di laboratorium, tetapi bisa dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,” katanya.

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved