Aktivis KontraS Disiram Air Keras
Connie Bakrie Duga Kasus Andrie Yunus Operasi Intelijen Terstruktur, Ini Indikatornya
Connie Bakrie menyoroti soal kekerasan berupa penyiraman air keras terhadap aktivis KontraS Andrie Yunus.
Ringkasan Berita:
- Connie Bakrie menyoroti soal kekerasan berupa penyiraman air keras terhadap aktivis KontraS Andrie Yunus.
- Dia mengatakan ini bukan sekadar kasus pelanggaran hukum biasa melainkan sinyal serius adanya persoalan sistemik dalam tata kelola intelijen nasional.
- Menurut Connie kasus Andrie Yunus harus dijadikan momentum pembenahan bukan sekadar catatan kelam yang dilupakan.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pakar Militer dan Geopolitik Global, Connie Rahakundini Bakrie, menilai kasus kekerasan terhadap aktivis KontraS Andrie Yunus bukan sekadar pelanggaran hukum biasa melainkan sinyal serius adanya persoalan sistemik dalam tata kelola intelijen nasional.
Hal tersebut disampaikan Connie Rahakundini Bakrie dalam diskusi publik yang digelar Dewan Pimpinan Pusat Indonesia Youth Congress (DPP IYC) bertajuk “Relasi Strategis Kementerian Pertahanan dan BAIS TNI dalam Desain Intelijen Nasional: Garis Koordinasi, Kelembagaan, dan Perlindungan HAM di Indonesia” di Jakarta Kamis (9/4/2026).
Pembicara lain dalam diskusi ini adalah Akademisi Ilmu Politik Universitas Nasional Jakarta, Firdaus Syam, Analis Sosial-Politik UNJ Ubedillah Badrun, Direktur Eksekutif LIMA Ray Rangkuti dan Al A'raf selaku Ketua Badan Pengurus Centra Initiative.
Kegiatan ini dihadiri oleh mahasiswa, peneliti, organisasi kepemudaan, dan masyarakat umum.
Penjaga demokrasi dan HAM
Lebih jauh Connie menegaskan intelijen strategis seharusnya tidak hanya menjadi alat pertahanan negara, tetapi juga berfungsi sebagai penjaga demokrasi dan hak asasi manusia (HAM).
Namun, menurut dia, ketika koordinasi lemah, kelembagaan tidak transparan, dan perlindungan HAM diabaikan, maka intelijen justru berpotensi menjadi ancaman bagi rakyat.
"Intelijen strategis nasional itu bukan saja alat pertahanan negara tetapi juga penjaga demokrasi dan HAM. Jika koordinasi lemah dan perlindungan HAM diabaikan, maka intelijen bisa menjadi ancaman bagi rakyatnya sendiri,” ujar Connie.
Connie menyoroti temuan investigasi tim media Tempo terkait dugaan penggunaan rumah dinas Kementerian Pertahanan oleh BAIS TNI dalam rangkaian peristiwa penyerangan terhadap Andrie Yunus.
Menurutnya pola kejadian menunjukkan adanya operasi yang tidak bersifat spontan.
“Terlihat dari tahapan yang sistematis, mulai dari perencanaan, pelaksanaan hingga upaya pelarian. Ini mengindikasikan operasi yang terstruktur,” kata dia.
Connie menilai indikasi tersebut membuka kemungkinan adanya keterlibatan institusi atau setidaknya menunjukkan kegagalan serius dalam sistem pengendalian internal.
Ia juga mengaitkannya dengan gejala mission creep yakni meluasnya fungsi intelijen strategis ke ranah pengawasan politik domestik.
Padahal, kata dia, mandat BAIS TNI seharusnya berfokus pada intelijen pertahanan eksternal. Jika terjadi pergeseran ke wilayah domestik, maka hal itu menjadi ancaman nyata bagi demokrasi.
“Jika intelijen masuk ke wilayah pengawasan politik domestik, maka ada ancaman serius terhadap demokrasi dan perlindungan HAM,” tandas dia.
Lebih jauh, Connie menyebut kasus Andrie Yunus sebagai “alarm keras” bagi sistem bernegara.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/elembagaan-dan-Perlindungan-HAM-di-In.jpg)