Literasi Digital Makin Penting untuk Hadapi Maraknya Hoaks
Bangsa Indonesia tidak boleh memberi ruang bagi penyebaran informasi yang bersifat provokatif dan menyesatkan.
Ringkasan Berita:
- Jagatara meluncurkan Gerakan Nasional Edukasi Anti-Disinformasi untuk memperkuat literasi digital dan menjaga persatuan bangsa di tengah derasnya arus informasi
- Ketua Dewan Pembina Agus Andrianto menegaskan pentingnya mencegah penyebaran hoaks yang dapat memecah belah masyarakat
- Program ini melibatkan edukasi komunitas, relawan anti-hoaks, dan kolaborasi lintas daerah.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Tantangan bangsa saat ini tidak hanya berkaitan dengan pembangunan ekonomi, tetapi juga derasnya arus informasi digital yang berpotensi memicu disinformasi dan memecah belah masyarakat.
Di tengah kondisi tersebut, penguatan literasi digital dinilai menjadi salah satu kunci utama menjaga ketahanan sosial dan persatuan nasional.
Ketua Dewan Pembina Jaga Nusantara Bersama (Jagatara), Jenderal Polisi (Purn) Drs. Agus Andrianto SH MH menegaskan bahwa bangsa Indonesia tidak boleh memberi ruang bagi penyebaran informasi yang bersifat provokatif dan menyesatkan.
Ia menekankan bahwa persatuan merupakan fondasi utama dalam melanjutkan agenda pembangunan nasional.
“Persatuan bangsa adalah fondasi utama pembangunan, dan seluruh elemen masyarakat harus berperan aktif menjaganya,” kata Agus dalam peluncuran Gerakan Nasional Edukasi Anti-Disinformasi di Kantor DPP Jagatara, Jakarta Selatan, Jumat (10/4/2026).
Agus yang juga menjabat sebagai Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan itu mengingatkan bahwa penyebaran informasi tanpa verifikasi dapat berdampak serius terhadap stabilitas sosial.
Karena itu, ia mengajak seluruh anggota dan jaringan Jagatara untuk aktif mendukung upaya pemerintah dalam menjaga kohesi sosial di tengah derasnya arus informasi digital.
Kegiatan peluncuran tersebut dihadiri jajaran pengurus pusat serta perwakilan daerah dari berbagai wilayah di Indonesia.
Kehadiran lintas daerah ini disebut mencerminkan kuatnya konsolidasi organisasi dalam merespons isu-isu strategis nasional, khususnya terkait keamanan informasi dan ketahanan sosial.
Ketua Umum Jagatara, Edy Koesriadi, menyampaikan bahwa Gerakan Nasional Edukasi Anti-Disinformasi merupakan langkah konkret organisasi dalam memperkuat ketahanan masyarakat di era digital.
Menurutnya, perkembangan teknologi informasi yang pesat tidak selalu diikuti dengan kesiapan literasi masyarakat dalam memilah informasi.
“Kami mendorong peningkatan literasi digital masyarakat agar lebih kritis dalam menyaring informasi, sekaligus menghindari potensi provokasi yang dapat memicu perpecahan,” ujar Edy.
Ia menambahkan, momentum Halalbihalal Nasional Jagatara yang turut digelar bersamaan dengan peluncuran program ini menjadi sarana strategis untuk memperkuat solidaritas internal organisasi.
Selain sebagai ajang silaturahmi, kegiatan tersebut juga dimanfaatkan untuk menyatukan arah gerak organisasi dalam menghadapi tantangan kebangsaan ke depan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Agus-Andrianto-1-13042026.jpg)