Dugaan Korupsi di Kemendikbud
Soal Budaya Diskusi, Saksi Ungkap Nadiem Makarim Sempat Buat Eselon I dan Eselon II Kaget
Saksi Iwan Syahril mengungkapkan, jajaran Eselon I dan Eselon II Kemdikbudristek sangat kaget dengan budaya baru yang dibawa Nadiem Makarim.
Ringkasan Berita:
- Staf Khusus Menteri (SKM) Kemendikbudristek periode 2019-2020, Iwan Syahril mengungkapkan, jajaran Eselon I dan Eselon II Kemdikbudristek sangat kaget dengan budaya baru yang dibawa Nadiem Makarim.
- Iwan mengatakan, budaya baru tersebut berupa kebebasan berpendapat dalam diskusi.
- Hal itu disampaikan Iwan Syahril, saat dihadirkan sebagai saksi meringankan untuk terdakwa Nadiem Makarim, di Pengadilan Tipikor Jakarta, Selasa (14/4/2026).
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Staf Khusus Menteri (SKM) Kemendikbudristek periode 2019-2020, Iwan Syahril mengungkapkan, jajaran Eselon I dan Eselon II Kemdikbudristek sangat kaget dengan budaya baru yang dibawa Nadiem Makarim.
Iwan mengatakan, budaya baru tersebut berupa kebebasan berpendapat dalam diskusi.
Hal itu disampaikan Iwan Syahril, saat dihadirkan sebagai saksi meringankan untuk terdakwa kasus dugaan korupsi pengadaan laptop Chromebook, Nadiem Makarim, di Pengadilan Tipikor Jakarta, Selasa (14/4/2026).
Pantauan Tribunnews.com di ruang sidang Hatta Ali sekira pukul 11.54 WIB, Iwan Syahril yang juga pernah menjabat sebagai eks Dirjen Guru dan Tenaga Kependidikan Kemdikbudristek dihadirkan sebagai saksi dalam persidangan.
Pria yang mengenakan kemeja batik warna dominasi cokelat itu duduk di kursi yang berhadapan dengan majelis hakim.
Iwan duduk di sebelah kanan saksi lainnya, yakni konsultan ekonomi, Rangga.
Baca juga: Sidang Tipikor Nadiem Makarim, Ahli Soroti Rekomendasi Pengadaan Chromebook
Dalam persidangan, tim penasihat hukum Nadiem Makarim mulanya meminta Iwan Syahril untuk menjelaskan bagaimana pola komunikasi Nadiem dengan semua bawahannya semasa menjabat Mendikbudristek.
Iwan mengatakan, Nadiem membawa budaya diskusi baru ke dalam birokrasi, dimana eks Mendikbudristek itu meminta bawahannya untuk menguji pendapatnya.
"Pola komunikasi Menteri dg SKM dan Dirjen di Eselon 1, Eselon 2, ketika berdiskusi, itu apakah ada arahan Menteri yang itu dianggap perintah Menteri?" tanya tim kuasa hukum Nadiem, dalam persidangan.
"Mas Menteri menurut saya membawa budaya baru dalam birokrasi. Satu hal yang saya perhatikan, di minggu pertama dan kedua, eselon I dan eselon II itu sangat kaget karena Mas Menteri minta untuk di-challenge (diuji). Artinya, 'tolong bantah saya kalau ada hal yang saya tidak paham atau mengerti'. Artinya Mas Menteri membuka ruang untuk berdiskusi," kata Iwan.
"Dan kenapa ini sangat mengagetkan, dalam budaya birokrasi biasanya apa yang diucapkan oleh pimpinan itu langsung menjadi perintah. Apalagi Mas Menteri bukan dari birokrasi ya," tambahnya.
Baca juga: Hak Jawab Tim Penasihat Hukum Nadiem Makarim terkait Chromebook the Only Option
Menurut Iwan, meski sempat terjadi keengganan dari para bawahan Nadiem untuk melakukan keterbukaan dalam diskusi. Namun, hal itu lama-kelamaan menjadi terbiasa dilakukan.
"Bahkan dalam pertemuan-pertemuan diskusi pun beberapa kali level yang di bawah eselon I juga bisa memberikan pendapat. Dan itu bisa ditanggapi dengan cukup lapang dada oleh Mas Menteri," ucap dia.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/SIDANG-LANJUTAN-144-NADIEM-MAKARIM.jpg)