Selasa, 21 April 2026

16 Mahasiswa UI Diduga Terlibat Pelecehan Seksual, Komisi X DPR Desak Sanksi Tegas

Kasus kekerasan seksual di lingkungan universitas kembali muncul hingga memicu sorotan tajam dari parlemen. 

Penulis: Reza Deni
Editor: Hasanudin Aco
HO/IST
Anggota Komisi X DPR RI Habib Syarief Muhammad, menyoroti kasus kekerasan seksual di lingkungan universitas. 
Ringkasan Berita:
  • Kasus pelecehan seksual verbal kembali mencuat, terbaru di Universitas Indonesia dengan 16 mahasiswa diduga terlibat melalui grup WhatsApp.
  • Anggota DPR Habib Syarief Muhammad mendesak tindakan tegas, termasuk sanksi berat, serta menilai kasus ini mencederai nilai pendidikan dan kemanusiaan.
  • Ia juga meminta pemerintah melakukan evaluasi menyeluruh karena kasus serupa terjadi di sejumlah kampus dan membutuhkan penanganan nasional.

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA -  Kasus kekerasan seksual di lingkungan universitas kembali muncul hingga memicu sorotan tajam dari parlemen. 

Kasus terbaru terjadi di Universitas Indonesia (U), tepatnya di Fakultas Hukum, dimana sebanyak 16 mahasiswa diduga terlibat dalam tindakan pelecehan seksual melalui grup WhatsApp.

Grup tersebut disebut digunakan untuk merendahkan dan melecehkan mahasiswi.

Anggota Komisi X DPR RI dari Fraksi PKB, Habib Syarief Muhammad, mendesak pemerintah mengambil langkah tegas agar kasus serupa tidak terus berulang.

“Kita tidak boleh memberi ruang toleransi terhadap pelaku kekerasan seksual di kampus. Harus ada tindakan tegas, termasuk sanksi berat hingga pemberhentian sebagai mahasiswa agar menimbulkan efek jera,” kata Habib Syarief kepada wartawan, Rabu (15/4/2026).

Dia menilai, kekerasan seksual di kampus merupakan pelanggaran serius terhadap nilai kemanusiaan sekaligus mencederai dunia pendidikan yang seharusnya menjunjung tinggi etika dan penghormatan.

“Ini ironis. Kampus seharusnya menjadi tempat menanamkan nilai-nilai kesetaraan dan penghormatan, tapi justru kasus seperti ini terus bermunculan,” ujarnya.

Habib Syarief juga menyoroti bahwa kasus serupa tidak hanya terjadi di UI. 

Terjadi di Universitas Budi Luhur Juga

Dugaan kekerasan seksual juga muncul di Universitas Budi Luhur yang melibatkan dosen terhadap mahasiswa, serta di Universitas Sultan Ageng Tirtayasa yang melibatkan mahasiswa terhadap dosen.

Melihat tren tersebut, ia mendesak Kementerian Pendidikan Tinggi Sains dan Teknologi untuk tidak lagi menyerahkan penanganan sepenuhnya kepada kampus.

“Penanganan tidak boleh parsial. Ini sudah menjadi persoalan nasional yang membutuhkan intervensi dan kebijakan menyeluruh dari pemerintah,” katanya.

Dia lantas mendorong evaluasi total terhadap sistem pencegahan dan penanganan kekerasan seksual di perguruan tinggi, mulai dari penguatan regulasi, mekanisme pelaporan yang aman bagi korban, hingga edukasi berkelanjutan.

“Kampus harus menjadi ruang aman bagi seluruh civitas akademika. Negara tidak boleh abai dalam menjamin perlindungan itu,” pungkasnya.

Kronologi Kasus

Sementara itu, Wakil Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI), Fathimah Azzahra, membeberkan kronologi terkait awal mula kasus dugaan pelecehan seksual verbal melalui grup chat ini mencuat.

Ia mengatakan, peristiwa bermula saat viralnya isi percakapan dari grup chat yang beranggotakan para pelaku pada Minggu (12/4/2026).

"Pada 12 April 2026 di mana IKM (Ikatan Keluarga Mahasiswa) UI dan masyarakat Indonesia dikejutkan terbongkarnya isi percakapan grup chat yang melibatkan 16 mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Indonesia melalui sebuah akun X bernama @sampahfhui," katanya dalam konferensi pers di Kampus UI, Depok, Jawa Barat, Selasa (14/4/2026).

Azzahra menegaskan isi percakapan para pelaku bermuatan pelecehan seksual dan objektifikasi terhadap perempuan.

Ia menyesalkan para pelaku yang menempuh studi di bidang hukum jusrtu melakukan pelanggaran hukum.

"Hal ini merupakan hal yang sangat mengkhawatirkan mengingat mereka adalah mahasiswa Fakultas Hukum yang semestinya paling sadar hukum," tuturnya.

Azzahra juga menyayangkan ada beberapa pelaku yang menjabat sebagai petinggi di organisasi kemahasiswaan FH UI atau di luar kampus.

Azzahra lantas menyebut adanya isi percakapan oleh para pelaku yang kembali bocor.

Para pelaku, sambungnya, merasa jemawa dengan merasa kebal hukum sehingga bisa tidak dipermasalahkan ketika melakukan pelecehan.

"Mereka bahkan mengatakan sendiri punya power di kampus ini. Mereka punya bekingan yang bisa mem-back up mereka dan itu disampaikan senyata-nyatanya," ujarnya.

Ia menyatakan, seluruh pernyataan para pelaku merupakan sebuah ironi karena dianggap sebagai penghinaan terhadap institusi pendidikan seperti UI.

 

Sumber: Tribunnews.com
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved