El Nino Menguat, Sistem Kesehatan Jakarta Dinilai Belum Sepenuhnya Siap Hadapi Lonjakan Kasus
Fenomena El Nino yang semakin kuat menimbulkan kekhawatiran, terutama terkait kesiapan sistem kesehatan dalam menghadapi lonjakan kasus penyakit.
Ringkasan Berita:
- Fenomena El Nino yang semakin kuat menimbulkan kekhawatiran terhadap kesiapan sistem kesehatan, khususnya di Jakarta.
- Menurut pakar epidemiologi Dicky Budiman, meski Jakarta memiliki fasilitas kesehatan yang relatif lebih baik dibanding daerah lain, sistem tersebut belum sepenuhnya adaptif menghadapi risiko iklim ekstrem.
- Dicky menekankan bahwa jumlah rumah sakit dan puskesmas memang cukup, tetapi persoalan muncul ketika terjadi situasi darurat kompleks atau multi hazard.
Laporan Wartawan Tribunnews.com, Aisyah Nursyamsi
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Fenomena El Nino yang semakin kuat mulai menimbulkan kekhawatiran, terutama terkait kesiapan sistem kesehatan dalam menghadapi lonjakan kasus penyakit.
El Niño adalah fenomena iklim global yang terjadi akibat pemanasan suhu muka laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur, yang memengaruhi pola cuaca di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia.
Peneliti Global Health Security, dan pakar epidemiologi Dicky Budiman, menyebut bahwa Jakarta memang memiliki sistem kesehatan yang relatif lebih baik dibandingkan banyak daerah lain di Indonesia.
Namun, kondisi tersebut belum sepenuhnya menjamin kesiapan menghadapi dampak perubahan iklim ekstrem.
“Jadi bahwa secara struktural sistem kesehatan di Jakarta tentu relatif lebih siap dibanding daerah lain tapi ya belum sepenuhnya adaptif terhadap risiko iklim ekstrim ya apalagi bicara El Nino kuat ini ya,” ujar Dicky pada keterangannya, Rabu (15/4/2026).
Artinya, secara jumlah fasilitas kesehatan seperti rumah sakit dan puskesmas memang cukup.
Namun, persoalan muncul ketika terjadi situasi darurat yang kompleks atau disebut multi hazard.
Misalnya, saat panas ekstrem terjadi bersamaan dengan polusi udara tinggi dan munculnya penyakit infeksi.
Dalam kondisi seperti ini, beban layanan kesehatan bisa meningkat tajam dalam waktu singkat.
“Apalagi kalau ada panas ekstrim dengan polusi dan adanya wabah misalnya atau penyakit infeksi itu akan sangat rentan overload ya,” lanjutnya.
Kondisi overload ini berarti fasilitas kesehatan bisa kewalahan, baik dari sisi tenaga medis, ruang perawatan, maupun ketersediaan alat.
Tak hanya soal kapasitas layanan, sistem pemantauan penyakit juga menjadi perhatian.
Saat ini, sistem seperti e-wars dan SKDR memang sudah berjalan, tetapi dinilai masih bersifat reaktif.
Artinya, sistem baru merespons setelah kasus muncul, bukan mencegah sejak awal melalui peringatan dini berbasis risiko iklim.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/dicky-budiman22.jpg)