Forum Lintas Generasi Temui KWI, Bahas Isu Krisis Moral dalam Bernegara
Pertemuan Forum Lintas Generasi dan KWI menjadi ruang refleksi bersama atas kondisi kebangsaan yang dinilai kian menjauh dari nilai-nilai moral.
"Konstitusi bilang A, yang dilakukan presiden adalah Z. Walhasil, aturan disetel sesuai kepentingan, ubah undang-undang. Kalau berkonstitusi kita begini terus, maka negeri ini sedang dalam banyak ancaman ke depan," kata Feri.
Dari sektor usaha, Anton Supit mengkritik persoalan inkompetensi dalam pengambilan kebijakan.
"Inkompetensi itu lebih bahaya daripada kejahatan," ujarnya.
Ia merujuk riset Indonesian Business Council (IBC) yang mencatat empat defisit utama ekonomi Indonesia, yakni jobs deficit, investment deficit, fiscal deficit, dan trust deficit, yang dipicu oleh lemahnya kepastian hukum, kapabilitas, dan modal.
Sementara itu, Diah Satyani Saminarsih menyoroti tekanan yang kian besar terhadap kelompok marjinal akibat kebijakan yang dianggap terlalu menyederhanakan persoalan.
Di sisi lain, Shofwan Al-Banna mengkritik arah kebijakan luar negeri yang dinilai impulsif.
"Akarnya terletak pada keterlibatan kita yang amat tinggi tanpa diikuti institusionalisasi yang baik; tidak hanya personalisasi, tapi egoisasi," kata Shofwan.
Aktivis senior Untoro Hariadi menambahkan, kondisi saat ini menunjukkan kecenderungan eksklusi publik dalam proses politik.
Dia menilai partai politik lebih menyerupai ruang transaksi dibandingkan wadah partisipasi, sehingga perlu penguatan masyarakat sipil sebagai pilar utama demokrasi.
Menutup pertemuan, Ketua KWI Mgr. Antonius Subianto Bunjamin mengapresiasi keberanian Forum Lintas Generasi dalam menjaga komitmen kebangsaan di tengah berbagai risiko.
"Kehadiran Anda-Anda ini seperti memberi kami multivitamin, yang meneguhkan dan menguatkan kami untuk menjadi komunitas pengharapan. Kami merasa diajak untuk memikirkan dan menyuarakan kebenaran lebih lantang lagi," ungkapnya.
Senada, Kardinal Ignatius Suharyo menyampaikan kekagumannya atas perjuangan delegasi yang dilandasi cinta Tanah Air dan iman.
Ia mengingatkan bahwa Indonesia tengah menghadapi tantangan serius berupa “dosa struktural” yang merasuk ke dalam sistem sosial, politik, dan ekonomi.
"Inspirasi kita adalah iman. Agamanya boleh berbeda-beda, tapi imannya satu. Kita berbicara ini adalah atas dasar moralitas murni untuk Tuhan dan juga untuk Tanah Air," pungkasnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Forum-Lintas-Generasi-temui-KWI_1.jpg)