Rabu, 22 April 2026

Menlu Sugiono Sebut Indonesia Masuk BRICS Jadi Bumper Hadapi Ketidakpastian Ekonomi Dunia

Keikutsertaan Indonesia dalam KTT BRICS di Kazan bukan sekadar kehadiran formal, melainkan upaya membangun benteng pertahanan ekonomi.

Penulis: Igman Ibrahim
/BPMI Setpres/Muchlis Jr
Presiden RI Prabowo Subianto menghadiri sesi pleno Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) BRICS 2025 yang digelar di Museum Seni Modern, Rio de Janeiro, Brasil, Minggu (6/7/2025). Menteri Luar Negeri RI, Sugiono, menegaskan bahwa keputusan Indonesia bergabung dengan blok multilateral BRICS untuk memperkuat ketahanan ekonomi nasional. 

Ringkasan Berita:
  • Menteri Luar Negeri RI, Sugiono, menegaskan bahwa keputusan Indonesia bergabung dengan blok multilateral BRICS untuk memperkuat ketahanan ekonomi nasional.
  • Langkah ini diambil atas instruksi langsung Presiden Prabowo Subianto untuk memastikan kepentingan Indonesia terlindungi di tengah dinamika geopolitik global yang tidak menentu.
  • Keikutsertaan Indonesia dalam KTT BRICS di Kazan beberapa waktu lalu bukan sekadar kehadiran formal, melainkan upaya membangun benteng pertahanan ekonomi.

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Menteri Luar Negeri RI, Sugiono, menegaskan bahwa keputusan Indonesia bergabung dengan blok multilateral BRICS untuk memperkuat ketahanan ekonomi nasional.

Langkah ini diambil atas instruksi langsung Presiden Prabowo Subianto untuk memastikan kepentingan Indonesia terlindungi di tengah dinamika geopolitik global yang tidak menentu.

Baca juga: Indonesia di Persimpangan BRICS dan Washington: Bebas Aktif yang Diuji Zaman

Pernyataan tersebut disampaikan Menlu Sugiono dalam konferensi pers mengenai perkembangan diplomasi internasional Indonesia di Kantor Staf Kepresidenan (KSP), Jakarta Pusat, Rabu (22/6/2026).

BRICS adalah organisasi antarpemerintah yang beranggotakan negara-negara dengan ekonomi besar dan berkembang, awalnya terdiri dari Brasil, Rusia, India, Tiongkok, dan Afrika Selatan. Kini, BRICS telah berkembang dengan anggota baru termasuk Indonesia sejak Januari 2025.

Menlu Sugiono menjelaskan bahwa keikutsertaan Indonesia dalam KTT BRICS di Kazan beberapa waktu lalu bukan sekadar kehadiran formal, melainkan upaya membangun benteng pertahanan ekonomi.

Menurutnya, kelompok ini terbukti mampu menjadi penopang stabilitas bagi negara-negara anggotanya di tengah krisis.

"Pada awal pemerintahan pada saat itu, kami mendapatkan perintah dari Bapak Presiden untuk menghadiri KTT BRICS di Kazan yang kemudian juga kami nilai merupakan sesuatu yang sifatnya sangat strategis karena multilateral grouping ini terbukti di beberapa bulan kemudian mampu menjadi bemper kita dalam rangka menghadapi ketidakpastian ekonomi dunia," ujar Sugiono.

Dijelaskan Sugiono, langkah ini disebut sebagai tindakan nyata pemerintah untuk memastikan kepentingan nasional tidak terganggu oleh fluktuasi ekonomi global yang ekstrem.

"Sekali lagi ini merupakan sebuah langkah yang konkret, yang nyata dalam rangka memastikan bahwa kepentingan nasional kita terakomodasi secara optimal," tambahnya.

Sugiono memaparkan bahwa saat ini dunia sedang berada dalam kondisi yang sangat sulit diprediksi. Tekanan ekonomi global dan krisis kemanusiaan di berbagai kawasan memaksa Indonesia untuk lebih aktif di panggung internasional.

Baca juga: Mengintip Masa Depan Mode Dunia Lewat BRICS+ Fashion Summit

Ia merujuk pada pesan Presiden bahwa posisi Indonesia harus tetap teguh pada prinsip politik luar negeri yang bebas aktif namun tetap merangkul banyak pihak.

"Dinamika yang terjadi sangat banyak dan begitu cepat, yang kemudian berimbas kepada tekanan-tekanan ekonomi global, krisis kemanusiaan di berbagai kawasan, dan fragmentasi dalam tata kelola global," jelas Sugiono.

"Kemudian juga seperti apa yang disampaikan oleh Bapak Presiden, bahwa seribu kawan terlalu sedikit dan satu lawan terlalu banyak, yang kita arahkan untuk menjaga dan memperjuangkan kepentingan-kepentingan nasional," lanjutnya.

Meski telah menjalin kedekatan dengan BRICS, Menlu Sugiono menegaskan bahwa Indonesia tidak menutup diri dari blok ekonomi lainnya. Indonesia saat ini masih konsisten menjalankan proses untuk menjadi anggota Organisasi Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD).

"Saat ini kita juga masih terus melakukan mendorong proses aksesi Indonesia ke OECD, dan upaya ini seiring dengan dorongan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional," tutur Sugiono.

 

 

Sumber: Tribunnews.com
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved