Prof Satryo Brodjonegoro Dorong Transformasi Kampus: Tinggalkan Pola Komando, Perkuat Kolegialitas
Satryo dorong kampus tinggalkan pola komando. Rektor diminta jadi fasilitator dan bangun budaya kepercayaan di perguruan tinggi.
Ringkasan Berita:
- Satryo Soemantri Brodjonegoro menilai kepemimpinan perguruan tinggi perlu bergeser dari pola komando ke pendekatan yang memberdayakan
- Rektor harus menjadi fasilitator yang memberi ruang dan kepercayaan bagi sivitas akademika
- Ia juga menekankan pentingnya penataan ulang tridharma dan tata kelola berbasis meritokrasi
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Kepemimpinan di perguruan tinggi mulai bergeser. Pola komando yang selama ini identik dengan struktur birokrasi perlahan dinilai tidak lagi memadai untuk menjawab kompleksitas dunia akademik saat ini.
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Periode 2024-2025, Prof. Ir. Satryo Soemantri Brodjonegoro, M.Sc., Ph.D mengatakan, menekankan pentingnya pendekatan yang lebih memberdayakan yakni kampus perlu dibangun di atas prinsip empowering dan kolegialitas, di mana setiap unsur memiliki ruang untuk berkembang.
"Seorang rektor tidak hanya berperan sebagai atasan, tetapi juga sebagai fasilitator yang perlu menciptakan lingkungan yang memberi kepercayaan dan dukungan bagi seluruh sivitas akademika," kata Satryo saat diskusi Publik bertema Meritokrasi Pendidikan yang digelar Aliansi Kebangsaan secara daring, Jumat (24/4/2026).
Untuk itu, kata dia, Rektor harus memberi ruang, kepercayaan, dan dukungan agar setiap elemen di kampus bisa mencapai potensi terbaiknya.
Dalam kerangka yang sama, konsep Tri Dharma Perguruan Tinggi juga perlu dilihat kembali mengingat selama ini, pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat sering diposisikan sebagai beban individu dosen.
Padahal, menurut Satryo, tridharma sejatinya melekat pada institusi.
Baca juga: Robotika dan AI Perkuat Pembelajaran STEM di Perguruan Tinggi
"Setiap perguruan tinggi memiliki kekuatan dan karakter yang berbeda, sehingga implementasi Tridharma pun seharusnya menyesuaikan dengan keunikan tersebut," katanya.
Dengan pendekatan ini, ketiga unsur tridharma dapat berjalan lebih seimbang yang artinya tidak ada yang lebih tinggi atau lebih rendah.
"Pendidikan, penelitian, dan pengabdian sama-sama penting dan saling melengkapi dalam memberi kontribusi bagi masyarakat," katanya.
Satryo juga mengingatkan bahwa perguruan tinggi merupakan organisasi yang sangat kompleks. Di dalamnya, berbagai fungsi berjalan bersamaan, mulai dari pendidikan dan riset hingga peran dalam pengembangan ekonomi dan perubahan sosial.
Karakter ini membuat kampus tidak bisa dikelola dengan pendekatan yang kaku. Sebaliknya, dibutuhkan organisasi yang fleksibel dan adaptif, yang mampu menyesuaikan diri dengan dinamika zaman.
Dalam konteks ini, kebebasan akademik menjadi kunci. Dosen perlu diberi ruang untuk berkarya, bereksperimen, dan mengembangkan diri sesuai minat dan keahliannya. Kampus, pada akhirnya, menjadi ruang kolaboratif yang mempertemukan beragam gagasan dan inovasi.
Sementara itu, Ketua Aliansi Kebangsaan Pontjo Sutowo mengingatkan bahwa pendidikan Indonesia masih menghadapi tantangan mendasar. Salah satunya adalah warisan pola lama yang cenderung menekankan hafalan dan kepatuhan.
Padahal, semangat pendidikan yang diwariskan Ki Hajar Dewantara justru menempatkan kemerdekaan berpikir dan pembentukan karakter sebagai inti.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/satryo-soemantri-brodjonegoro1.jpg)