Senin, 27 April 2026

Profil dan Sosok

Profil Badri Munir Sukoco, Sekjen Kemendiktisaintek RI yang Berencana Hapus Prodi Tak Relevan

Simak profil Sekjen Kemendiktisaintek RI Prof. Badri Munir Sukoco, berencana tutup prodi yang tidak relevan dengan kebutuhan di masa depan

Tayang:

Ringkasan Berita:
  • Simak profil singkat Sekjen Kemendiktisaintek RI Prof. Badri Munir Sukoco yang melontarkan wacana menutup program studi yang tidak relevan dengan kebutuhan dunia di masa depan.
  • Nantinya, kata Badri, Kemendiktisaintek akan menyusun prodi yang dibutuhkan di masa mendatang.
  • Rencana penutupan prodi yang tidak relevan ini berkaitan dengan bonus demografi; lulusan pendidikan tinggi yang diharapkan bisa mengantar Indonesia menjadi negara maju harus disesuaikan dengan kebutuhan pertumbuhan ekonomi.

TRIBUNNEWS.COM - Simak profil Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI (Kemendiktisaintek), Prof. Badri Munir Sukoco, yang ramai dibicarakan setelah melontarkan wacana untuk menutup program studi (prodi) di perguruan tinggi yang tidak relevan dengan industri.

Badri menyebut, program studi-program studi yang ada di universitas di Indonesia saat ini akan dipilah-pilah, atau kalau perlu ditutup, demi menyesuaikan dengan relevansi kebutuhan kehidupan dunia di masa depan.

"Nanti mungkin ada beberapa hal yang harus kami eksekusi dalam waktu yang tidak terlalu lama terkait dengan prodi-prodi perlu kita pilih, kita pilah, dan kalau perlu ditutup, untuk bisa meningkatkan relevansi ini," ujar Badri dalam Simposium Nasional Kependudukan Tahun 2026, Kamis (23/4/2026), dikutip dari siaran di Kanal YouTube Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga RI (Kemendukbangga/BKKBN). 

Nantinya, kata Badri, Kemendiktisaintek akan menyusun prodi yang dibutuhkan di masa mendatang.

Penentuan tersebut juga akan didasarkan pada kajian-kajian program Perguruan Tinggi Peduli Kependudukan (PTPK).

Saat ini data statistik pendidikan tinggi, prodi bidang ilmu sosial mencakup 60 persen. Lebih rinci, prodi yang paling banyak adalah kependidikan atau keguruan.

"Kita meluluskan tiap tahun 490.000 dari kependidikan. Sedangkan pada waktu yang sama, lowongan untuk calon guru dan fasilitator di taman kanak-kanak hanya 20.000. Jadi yang 470.000 tidak punya pekerjaan," tutur Badri.

Badri berujar Indonesia saat ini terus menggaungkan soal bonus demografi.

Akan tetapi, jika lulusan pendidikan tinggi yang diharapkan bisa mengantar Indonesia menjadi negara maju tidak disesuaikan dengan kebutuhan pertumbuhan ekonomi ke masa depan, maka tidak akan tercapai tujuan itu.

"Kalau bahasa kami saat ini, perguruan tinggi yang ada di Indonesia sebagian besar ya itu menggunakan market driven strategy. Yang lagi laris apa dibuka gitu prodinya, kemudian oversupply di situ," ungkap Badri. 

Ia memberi contoh, berdasarkan data yang diperiksa olehnya, tahun 2028 sebenarnya Indonesia bisa mengalami kelebihan pasokan dokter berdasarkan standar minimal World Bank.

Baca juga: Prodi Pilihan Apakah Masih Bisa Diubah saat Daftar UM-PTKIN 2026? Ini Penjelasan dan Cara Daftarnya

Apalagi, bila terjadi maldistribusi atau ketidakseimbangan distribusi di masing-masing daerah.

Profil Singkat Badri Munir Sukoco

Badri Munir Sukoco lahir pada 11 September 1978, dan nama lengkapnya dengan gelar adalah Prof. Badri Munir Sukoco, SE., MBA., Ph.D.

Ia dilantik menjadi Sekjen Kemendiktisaintek RI pada 23 Februari 2026 lalu.  

Dikutip dari laman resmi badrisukoco.com, pria yang kini berusia 48 tahun tersebut merupakan Guru Besar Manajemen Strategi, Departemen Manajemen, dan Direktur Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga (UNAIR).

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved