Kecelakaan Kereta di Bekasi Timur
Kecelakaan KA Argo Bromo Anggrek vs KRL, Pengamat: Taksi Mogok Bukan Penyebab Utama
Joni Martinus menilai, taksi listrik yang mogok di perlintasan hanyalah bagian dari rangkaian peristiwa kecelakaan kereta di Bekasi Timur.
Ringkasan Berita:
- Kecelakaan KA Argo Bromo Anggrek PLB 4B yang menyeruduk KRL Commuter Line PLB 5568A di Stasiun Bekasi Timur pada Senin (27/4/2026) malam menewaskan 15 orang.
- Dalam kecelakaan ini, mobil taksi listrik yang mogok di perlintasan disorot dan diduga jadi penyebab utama.
- Akan tetapi, pengamat transportasi Joni Martinus menilai, taksi listrik mogok bukan penyebab utamanya, melainkan sistem persinyalan yang membuat KA Argo Bromo Anggrek tetap melintas di jalur tempat KRL PLB 5568A masih berhenti.
TRIBUNNEWS.COM - Pengamat transportasi, Joni Martinus, menilai, taksi mogok bukan menjadi penyebab utama kecelakaan kereta di Bekasi Timur, Jawa Barat awal pekan ini.
Sebagai informasi, Kereta Api Jarak Jauh Argo Bromo Anggrek PLB 4B (relasi Gambir-Surabaya Pasarturi) menabrak kereta rel listrik atau KRL Commuter Line PLB 5568A (relasi Kampung Bandan-Cikarang) di emplasemen Stasiun Bekasi Timur KM 28+920, Senin (27/4/2026) malam, sekitar pukul 20.55 WIB.
Dalam kecelakaan ini, lokomotif KA Argo Bromo Anggrek menerobos masuk ke gerbong bagian belakang dan gerbong khusus perempuan di KRL.
Berdasarkan kronologi awal yang dikutip dari kemenhub.go.id, peristiwa ini bermula dari rangkaian KRL relasi Bekasi–Cikarang tertemper mobil taksi listrik yang hendak melintas tetapi tiba-tiba mogok di perlintasan sebidang JPL 85.
Akibat kejadian tersebut, rangkaian KRL harus dievakuasi dan ditetapkan sebagai Perjalanan Luar Biasa (PLB) dengan kode 5181 karena berhenti berdinas dan berjalan di luar jadwal reguler.
Dampak dari tertempernya KRL PLB 5181 ini, petugas memberhentikan satu rangkaian KRL lainnya dengan kode PLB 5568 yang mengarah ke Cikarang di peron Stasiun Bekasi Timur.
Namun, KA Argo Bromo Anggrek tidak sempat berhenti sepenuhnya, sehingga terlibat insiden dengan KRL Commuter Line PLB 5568 yang sedang berhenti.
Kabid Dokkes Polda Metro Jaya Kombes Pol dr. Martinus Ginting mengungkap, total ada 15 orang yang meninggal dunia dalam insiden ini.
“Iya, ada 15 (korban) meninggal dunia,” ungkap Martinus saat memberikan keterangan di RS Polri Kramat Jati, Selasa (28/4/2026) sore.
Selain korban jiwa, tercatat 84 orang lainnya mengalami luka-luka.
Kecelakaan kereta ini membuat mobil taksi listrik yang menemper KRL Bekasi–Cikarang dan belakangan diketahui milik Green SM Indonesia itu menjadi sorotan.
Baca juga: Pool Taksi Green SM di Bekasi Kena Sidak Kemenhub, Kelengkapan Administrasi Diperiksa
Bahkan, muncul dugaan bahwa mogoknya taksi tersebut merupakan penyebab utama dari peristiwa tragis ini. Lantas, apa kata pengamat?
Bukan Penyebab Utama
Joni Martinus yang pernah menjabat sebagai VP Corporate Secretary KAI Commuter itu menilai, mobil taksi mogok di perlintasan hanya bagian dari rangkaian peristiwa kecelakaan kereta di Bekasi Timur.
Kata Joni, mobil taksi yang mogok bukan penyebab utama.