LLDIKTI Ungkap Hanya 3 Persen Dosen jadi Guru Besar, Kemunculan Profesor Muda jadi Sorotan
Prof. Jhanghiz Syahrivar menjadi salah satu profesor termuda di lingkungan LLDIKTI Wilayah IV.
Ringkasan Berita:
- Kepala LLDIKTI Wilayah IV mengungkapkan hanya sekitar 3 persen dosen di Indonesia yang mencapai jabatan Guru Besar, menunjukkan masih terbatasnya jumlah profesor.
- Prof. Jhanghiz Syahrivar menjadi salah satu profesor termuda di lingkungan LLDIKTI Wilayah IV, dengan rekam jejak akademik berprestasi dari S1 hingga doktoral.
- Kehadiran profesor muda dinilai menjadi harapan baru untuk mendorong peningkatan kualitas riset, pendidikan, dan kontribusi perguruan tinggi di Indonesia.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Kepala LLDIKTI Wilayah IV, Lukman, mengungkapkan hanya terdapat sebanyak sekitar 333 ribu dosen di Indonesia.
Meski begitu, hanya sekitar 12 ribu yang berhasil meraih jabatan Guru Besar atau setara sekitar 3 persen.
"Dari sekitar 333 ribu dosen di Indonesia, hanya sekitar 12 ribu yang berhasil menjadi Guru Besar, atau sekitar 3 persen saja. Ini menunjukkan bahwa pencapaian ini sangat luar biasa," ujar Lukman dalam keterangan tertulis, Jumat (1/5/2026).
Di tengah minimnya jumlah Guru Besar, Prof. Dr. Jhanghiz Syahrivar sebagai Guru Besar President University pada 21 April 2026.
Ia menjadi salah satu profesor termuda, sekaligus yang termuda di lingkungan LLDIKTI Wilayah IV yang mencakup Jawa Barat dan Banten.
Prof. Jhanghiz sendiri merupakan alumni President University angkatan 2005.
Ia menamatkan studi sarjana dengan predikat cum laude, melanjutkan magister di Universitas Tarumanagara dengan predikat magna cum laude.
Serta meraih gelar doktor di Corvinus University of Budapest melalui beasiswa Stipendium Hungaricum dengan predikat summa cum laude.
Dirinya juga tercatat sebagai mahasiswa Indonesia pertama yang menyelesaikan program doktor di universitas tersebut dalam waktu kurang dari empat tahun.
Dalam orasi ilmiahnya, Prof. Jhanghiz menyoroti pentingnya pergeseran paradigma dalam ilmu pemasaran. Menurutnya, pemasaran tidak sekadar alat ekonomi, melainkan memiliki peran dalam membentuk nilai sosial dan relasi kekuasaan di masyarakat.
"Melalui mekanisme pasar, beban moral didistribusikan, makna sosial diproduksi, dan relasi kuasa dilembagakan dalam bentuk yang sering kali tampak wajar," ujarnya.
Ia juga mendorong riset yang lebih berorientasi pada pemberdayaan konsumen dan tanggung jawab bisnis, termasuk mengkritisi praktik seperti greenwashing dan eksploitasi nilai sosial dalam strategi pemasaran.
Rektor President University, Handa Abidin, menilai pencapaian ini sebagai simbol keberhasilan institusi dalam membina alumninya.
"Hari ini, beliau kembali sebagai profesor. Ini membuktikan bahwa kami mampu melahirkan Guru Besar dari alumninya sendiri," kata Handa.
Kemunculan profesor muda menjadi sorotan sekaligus harapan bagi peningkatan kualitas pendidikan tinggi di Indonesia.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Prof-Dr-Jhanghiz-Syahrivar.jpg)