Kejar Target Bebas Malaria 2030, 80 Persen Daerah di Indonesia Sudah Nol Penularan
Hingga 2026, sekitar 80 persen wilayah kabupaten atau kota di Indonesia telah terbebas dari penularan penyakit Malaria.
Meski demikian, ada harapan yang mulai terlihat.
Kabupaten Maybrat di Papua Barat Daya berhasil meraih status bebas malaria, menjadi bukti bahwa eliminasi juga bisa dicapai di wilayah timur.
Untuk menekan angka kasus, Kemenkes menerapkan strategi khusus yang dikenal dengan TOKEN—Temukan, Obati, dan Kendalikan Vektor.
Pendekatan ini diperkuat dengan intervensi pada kelompok berisiko tinggi, seperti pekerja tambang, perambah hutan, aparat TNI/Polri, hingga masyarakat adat di wilayah terpencil.
Langkah yang dilakukan antara lain pembagian kelambu antinyamuk dan pemberian pengobatan pencegahan secara terarah.
Meski banyak daerah sudah bebas malaria, pemerintah mengingatkan bahwa perjuangan belum selesai.
Risiko penularan kembali tetap ada, terutama karena mobilitas penduduk yang tinggi dan kondisi lingkungan tropis yang mendukung berkembangnya nyamuk Anopheles.
“Bagi daerah yang sudah bebas, perjuangannya belum selesai. Mempertahankan status tersebut tidak kalah beratnya. Ada beberapa daerah justru mengalami lonjakan kasus, bahkan sampai Kejadian Luar Biasa (KLB) setelah sebelumnya dinyatakan bebas,” tegas Andi.
Upaya eliminasi malaria tidak bisa hanya mengandalkan sektor kesehatan.
Pengelolaan lingkungan seperti tambak, lahan bekas tambang, hingga rawa-rawa memerlukan kerja sama lintas sektor, termasuk pemerintah daerah, swasta, dan masyarakat.
Eliminasi malaria adalah perjalanan panjang, bukan sekadar target angka.
Dengan capaian 80 persen wilayah bebas, Indonesia sudah berada di jalur yang tepat.
Namun, untuk mencapai 100 persen pada 2030, dibutuhkan satu hal penting: konsistensi bersama.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Siti-Ismawati-Made-saat-menjalankan-tugasnya-sebagai-Kader-Malaria.jpg)