Pertanian Indonesia
Krisis Pupuk Global Menguat, Indonesia Justru Berpotensi Ekspor
Krisis pupuk mulai tekan Eropa dan Asia, sementara Indonesia dinilai punya cadangan kuat.
TRIBUNNEWS.COM - Penutupan Selat Hormuz yang mengganggu rantai pasok pupuk global mulai menekan sektor pertanian di sejumlah negara Eropa.
Lonjakan harga energi dan kelangkaan pupuk memicu kekhawatiran terhadap penurunan produksi pangan di Jerman. Namun di tengah situasi tersebut, kondisi pertanian Indonesia dinilai relatif lebih terkendali karena ditopang ketersediaan pupuk yang memadai.
Akademisi pertanian dari IPB University, Handian Purwawangsa, menilai krisis yang terjadi di Eropa menjadi contoh nyata kerentanan sistem pangan akibat kondisi pasar global.
Sekitar sepertiga distribusi pupuk dunia diketahui melewati Selat Hormuz sehingga ketika jalur ini terganggu, dampaknya langsung terasa pada harga dan ketersediaan di berbagai negara.
Bahkan harga urea global dilaporkan melonjak dari kisaran 600–700 dollar AS per ton menjadi mendekati 900 dollar AS per ton.
“Krisis ini memperlihatkan bahwa ketahanan pangan sangat ditentukan oleh kemampuan menjaga pasokan input strategis seperti pupuk. Negara yang bergantung penuh pada pasar global akan lebih rentan saat terjadi disrupsi,” ujar Handian dalam keterangan tertulis yang diterima Tribunnews.com, Senin (4/5/2026).
Baca juga: Kementan Sebut Hilirisasi CPO Dorong Kemandirian Energi dan Kesejahteraan Petani
Dampak krisis ini juga mulai menjalar ke kawasan Asia Tenggara. Thailand dilaporkan menghadapi lonjakan biaya produksi yang mendorong sebagian petani menunda tanam. Sementara, Vietnam mengalami tekanan pada rantai pasok pupuk yang berpotensi mengganggu stabilitas produksi dan ekspor berasnya.
Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa bahkan negara produsen pangan pun tidak sepenuhnya kebal terhadap gejolak global.
Berbeda dengan kondisi itu, Presiden Prabowo justru menurunkan harga pupuk bersubsidi sebesar 20 persen yang terdiri dari urea, NPK dan ZA. Kebijakan ini dinilai sebagai respons strategis dalam menjaga keberlanjutan produksi pangan nasional
Handian juga menilai Indonesia memiliki bantalan yang lebih kuat. Kapasitas produksi pupuk nasional yang ditopang industri dalam negeri mampu menjaga kesinambungan pasokan, bahkan ketika pasar global mengalami tekanan.
Saat ini, total kapasitas produksi PT Pupuk Indonesia (Persero) mencapai 14,65 juta ton per tahun, yang terdiri dari urea sebesar 9,36 juta ton, NPK 4,52 juta ton, ZA 750 ribu ton, dan ZK 20 ribu ton per tahun.
Sementara itu, kebutuhan domestik berada di bawah angka tersebut sehingga kondisi ini menciptakan ruang surplus yang diperkirakan mencapai sekitar 1,5 juta ton pada 2026.
Baca juga: Kementan Percepat Hilirisasi Biofuel dan Bioetanol untuk Dorong Kemandirian Energi
Kemudian, secara operasional produksi urea nasional berada di kisaran 8,8–9,4 juta ton dengan konsumsi domestik sekitar 6 juta ton sehingga masih terdapat ruang ekspor yang cukup lebar tanpa mengganggu kebutuhan dalam negeri.
Pemerintah bahkan menargetkan ekspor pupuk hingga 1,5 juta ton dalam satu tahun dengan catatan kebutuhan petani dalam negeri tetap menjadi prioritas utama.
Handian menjelaskan bahwa keunggulan Indonesia tidak hanya terletak pada produksi, tetapi juga pada tata kelola distribusi dan kebijakan pemerintah yang menjaga ketersediaan pupuk di tingkat petani.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/ANALISIS-PANGAN.jpg)