Kamis, 7 Mei 2026

Kardinal Suharyo: Alasan Pentingnya Bahasa Indonesia Digunakan Vatikan

Uskup Agung Jakarta, Ignatius Kardinal Suharyo menyambut baik ditandatanganinya MoU penggunaan Bahasa Indonesia di Vatican News. 

Tayang:
HO/IST
MOU PENGGUNAAN BAHASA INDONESIA - Uskup Agung Jakarta, Ignatius Kardinal Suharyo saat menerima kunjungan Paguyuban Wartawan Katolik Indonesia (PWKI) di Wisma Keuskupan Agung Jakarta pada Senin (04/05/2026).  Kardinal Suharyo menyambut baik ditandatanganinya MoU penggunaan Bahasa Indonesia di Vatican News.  

Dalam pertemuan pada sore itu, Kardinal Suharyo juga mengingatkan berbagai persoalan yang mungkin dihadapi dalam konteks penggunaan Bahasa Indonesia di Vatican News nanti.

“Misalnya, dulu pernah edisi bahasa Indonesia dari Radio Veritas di Filipina. Karena biayanya makin lama makin besar akhirnya diputuskan KWI untuk dihentikan. Itu sudah lama sekali. Jadi tantangannya seperti itu, tidak mudah,” ucap Mgr Suharyo. 

Di sisi lain, Kardinal Suharyo mengatakan bahwa Gereja Katolik Indonesia sebenarnya lebih maju, terutama dibandingkan di Eropa. Dia mencontohkan soal agenda yang akan dibahas pada Sinode atau sidang para Uskup di Roma, Juni mendatang.

“Yang dibicarakan nanti sebenarnya sudah kita lakukan di sini 20 tahun lalu. Tema berjalan bersama, misalnya, kan kita sudah sejak awal berjalan bersama, seolah-olah itu barang baru,” katanya.

“Kita sudah punya dewan paroki sejak tahun berapa itu, ada ketua lingkungan, wilayah. Itu kan berjalan bersama. Tidak pernah seorang uskup itu mengambil keputusan sendiri.Tetapi diberikan kepada paroki-paroki,” ujarnya

Baca juga: 10 Negara dengan Populasi Paling Sedikit di Eropa: Vatikan Dihuni Kurang dari 900 Orang, Ada Monako

Kardinal Suharyo menambahkan, jika melihat sejarah sejak tahun 1934 Gereja Katolik Indonesia sudah membicarakan apa yang dibicarakan di Konsili Vatikan II tahun 1962. 

“Gaudium et Spes bahwa gereja dalam dunia itu sudah dicetuskan oleh Rm Soegijapranata pada tahun 1934 dan itu tidak diberitakan luas,” imbuhnya.

Kata Kardinal Suharyo, dirinya membaca artikel terbitan tahun 1974 mengenai gereja Indonesia yang ditulis dalam bahasa Belanda yang bunyinya “Kring: Menuju Gereja yang Lain”.  Menurut Kardinal Suharyo, di tulisan tersebut sudah sangat jelas orientasi gereja Katolik Indonesia sekurang-kurangnya di tanah Jawa tahun 1974. Berbeda sekali dengan orientasi gereja Katolik di Eropa sana,” ucapnya.

Oleh karena itu, Kardinal Suharyo menegaskan bahwa Gereja Indonesia maju sekali baik pemikiran-peemikirannya maupun praktik-praktiknya.  

“Sinode yang berlangsung satu bulan baru membicarakan. Kita di Indonesia sudah melaksanakan, sayangnya informasi tentang itu tidak keluar,” jelasnya.     

Baca juga: Perangko Indonesia-Takhta Suci Vatikan Diluncurkan Ada Gambar Garuda dan Takhta Suci 

Ketua PWKI Asni Ovier menambahkan, PWKI siap membantu upaya untuk mewujudkan penggunaan Bahasa Indonesia di Vatican News. Menurut Ovier, mengingat PWKI merupakan insiatior penggunaan Bahasa Indonesia dan terlibat aktif hingga Nota Kesepahaman (MoU) ditandatangani, PWKI ikut bertanggung jawab atas pelaksanaan MOU tersebut.

“Kami menyadari bahwa dalam pelaksanaannya nanti Komisi Komsos KWI yang memiliki otoritas. Sebagai tanggung jawab kami adalah memberi masukan kepada Komsos KWI. Dan diharapkan bahwa semua akan berjalan lancar dan memberikan harapan baik  bagi bangsa, negara dan Gereja Katolik Indonesia,“ ujar Ovier. 

Ovier menegaskan bahwa konten isu yang akan diangkat nantinya menyangkut perdamaian, toleransi dan kerukunan,  hubungan antaragama, kemanusiaan dan  kebhinnekaan.

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved