Wabah Hantavirus
Waspada Boleh Tapi Jangan Cemas Berlebihan, Pakar Ungkap Perbedaan Virus Hanta dan Covid-19
Munculnya kabar tentang virus hanta membuat sebagian masyarakat kembali khawatir akan potensi wabah baru seperti Covid-19.
“Indonesia bekerjasama dengan Amerika, mengumpulkan data hanta di Indonesia. Mencatat ada 39 kasus hanta ini,” ujarnya.
Menurut Prof Dominicus, sumber utama penularan virus hanta tetap berasal dari tikus atau hewan pengerat lain.
“Tertular biasanya melalui partikel virus yang ada di air kencingnya tikus. Atau kotorannya tikus, atau liurnya tikus,” katanya.
Karena itu, risiko lebih tinggi ditemukan pada orang yang sering berada di lingkungan dengan infestasi tikus.
“Makin tertutup tempat itu, makin besar kemungkinan untuk berjadi,” ujarnya.
Ia juga menjelaskan penularan antarmanusia hanya ditemukan pada jenis virus tertentu, salah satunya virus Andes di Amerika Selatan.
“Virus Andes ini adalah satu-satunya dari keluarga hanta yang bisa menyebabkan penularan dari orang ke orang,” jelasnya.
Namun kasus tersebut tetap membutuhkan kontak erat dan tidak mudah menyebar cepat seperti Covid-19.
Kenapa Masyarakat Tetap Perlu Waspada?
Meski risiko wabah besar rendah, Prof Dominicus menegaskan masyarakat tetap tidak boleh lengah.
Sebab virus hanta bisa menyebabkan gangguan paru dan ginjal berat.
“Yang terutama terjadi adalah kegagalan pernafasan. Gagal paru berat,” katanya.
Pada sebagian kasus, pasien bisa mengalami penurunan kondisi sangat cepat hingga membutuhkan ICU.
“Sering berakhir kasus hanta ini di ICU,” ujarnya.
Yang menjadi tantangan, hingga kini belum ada vaksin maupun obat khusus untuk virus ini.
“Hingga saat ini, vaksin terhadap hantai ini tidak ada,” kata Prof Dominicus.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/PASIEN-HANTAVIRUS-DIEVAKUASI-Tiga-pasien-suspek-dari-kapal-MV-Hondius-dievakuasi-ke-Belanda.jpg)