Jumat, 8 Mei 2026

Wabah Hantavirus

Waspada Boleh Tapi Jangan Cemas Berlebihan, Pakar Ungkap Perbedaan Virus Hanta dan Covid-19 

Munculnya kabar tentang virus hanta membuat sebagian masyarakat kembali khawatir akan potensi wabah baru seperti Covid-19.

Tayang:
Penulis: Aisyah Nursyamsi
Editor: Willem Jonata
Akun X resmi Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Dr. Tedros Adhanom Ghebreyesu
PASIEN HANTAVIRUS DIEVAKUASI - Tiga pasien suspek dari kapal MV Hondius dievakuasi pada Rabu pagi waktu setempat (6/5/2026) menuju Belanda. 
Ringkasan Berita:
  • Data Kementerian Kesehatan menunjukkan terdapat 23 kasus virus hanta yang ditemukan di Indonesia
  • Prof Dominicus menjelaskan virus hanta memang bisa menyebabkan penyakit serius, tetapi penularannya sangat berbeda dengan Covid-19
  • Sumber utama penularan virus hanta tetap berasal dari tikus atau hewan pengerat lain, bukan ke sesama manusia

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Munculnya kabar tentang virus hanta membuat sebagian masyarakat kembali khawatir akan potensi wabah baru seperti Covid-19.

Apalagi virus ini disebut dapat menyebabkan kematian dan pernah memicu kasus serius di kapal pesiar internasional.

Namun Guru Besar Bidang Ilmu PD3I Kedokteran Universitas Airlangga (UNAIR) Surabaya sekaligus Unit Kerja Koordinasi Infeksi Penyakit Tropik IDAI, Prof DR Dr Dominicus Husada DTM&H MCTM(TP), meminta masyarakat tetap tenang dan tidak panik berlebihan.

“Menurut saya tidak terlalu menakutkan, ya. Tidak terlalu, kita tidak setakut itulah dengan (virus) hanta ini, tapi memang jangan sampai lengah,” ujarnya pada media briefing virtual, Jumat (8/5/2026). 

Baca juga: Virus Hanta Bukan Virus Baru, Pakar Jelaskan Cara Penularan hingga Gejala Awalnya

Prof Dominicus menjelaskan virus hanta memang bisa menyebabkan penyakit serius, tetapi penularannya sangat berbeda dengan Covid-19.

“Karena ini bukan COVID-19, bukan influenza,” katanya.

Menurutnya, virus ini tidak mudah menyebar luas dari manusia ke manusia.

“Cara penyebarannya sangat berbeda, maka resiko untuk menjadi sangat meluas menurut saya sangat kecil,” lanjutnya.

Prof Dominicus mengungkapkan Indonesia sebenarnya sudah mencatat kasus virus hanta sejak lama.

“Jadi sekali lagi, bukan barang baru,” katanya.

Data Kementerian Kesehatan menunjukkan terdapat 23 kasus virus hanta yang ditemukan di Indonesia.

Kasus tersebut tersebar di sembilan provinsi, yaitu Yogyakarta, Jawa Barat, DKI Jakarta, Sulawesi Utara, NTT, Sumatera Barat, Banten, Jawa Timur, dan Kalimantan Barat.

“Kementerian mencatat ada 23 kasus hanta di Indonesia,” jelasnya.

Bahkan sebelum pengumpulan data resmi tersebut, Indonesia pernah mencatat puluhan kasus lain melalui penelitian bersama Amerika Serikat.

“Indonesia bekerjasama dengan Amerika, mengumpulkan data hanta di Indonesia. Mencatat ada 39 kasus hanta ini,” ujarnya.

Menurut Prof Dominicus, sumber utama penularan virus hanta tetap berasal dari tikus atau hewan pengerat lain.

“Tertular biasanya melalui partikel virus yang ada di air kencingnya tikus. Atau kotorannya tikus, atau liurnya tikus,” katanya.

Karena itu, risiko lebih tinggi ditemukan pada orang yang sering berada di lingkungan dengan infestasi tikus.

“Makin tertutup tempat itu, makin besar kemungkinan untuk berjadi,” ujarnya.

Ia juga menjelaskan penularan antarmanusia hanya ditemukan pada jenis virus tertentu, salah satunya virus Andes di Amerika Selatan.

“Virus Andes ini adalah satu-satunya dari keluarga hanta yang bisa menyebabkan penularan dari orang ke orang,” jelasnya.

Namun kasus tersebut tetap membutuhkan kontak erat dan tidak mudah menyebar cepat seperti Covid-19.

Kenapa Masyarakat Tetap Perlu Waspada?

Meski risiko wabah besar rendah, Prof Dominicus menegaskan masyarakat tetap tidak boleh lengah.

Sebab virus hanta bisa menyebabkan gangguan paru dan ginjal berat.

“Yang terutama terjadi adalah kegagalan pernafasan. Gagal paru berat,” katanya.

Pada sebagian kasus, pasien bisa mengalami penurunan kondisi sangat cepat hingga membutuhkan ICU.

“Sering berakhir kasus hanta ini di ICU,” ujarnya.

Yang menjadi tantangan, hingga kini belum ada vaksin maupun obat khusus untuk virus ini.

“Hingga saat ini, vaksin terhadap hantai ini tidak ada,” kata Prof Dominicus.

Cara Sederhana Mengurangi Risiko

Prof Dominicus mengatakan langkah paling penting saat ini adalah menjaga lingkungan tetap bersih dan menghindari kontak dengan tikus.

“Maka yang terbaik biasanya adalah pencegahan,” katanya.

Ia juga mengingatkan masyarakat tidak menyapu langsung kotoran tikus karena bisa membuat partikel virus beterbangan.

“Membersihkan kotoran dan kecing tikus itu yang disarankan itu bukan disapu,” ujarnya.

Sebagai gantinya, gunakan cairan disinfektan saat membersihkan area yang terkontaminasi.

“Yang disarankan itu adalah pakai desinpektan,” katanya.

(Tribunnews.com/ Aisyah Nursyamsi)

 

Sumber: Tribunnews.com
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved