Selasa, 12 Mei 2026

Program Makan Bergizi Gratis

Buntut Insiden SPPG Pulogebang, Asosiasi Pengusaha Makanan Gratis Lakukan Pembenahan Rantai Pasok

Insiden dugaan keracunan pangan yang menimpa ratusan siswa Sekolah Dasar di wilayah Cakung dan Pulogebang, Jakarta Timur, direspons cepat.

Tayang:
Editor: Wahyu Aji
HO/IST
JENGUK KORBAN — Ketua Umum Asosiasi Pengusaha dan Pengelola Makan Bergizi Gratis Indonesia, Abdul Rivai Ras, mengunjungi puluhan siswa yang dirawat di Rumah Sakit Citra Harapan, Kota Bekasi, Jawa Barat, pada Minggu (10/5/2026). 

Ringkasan Berita:
  • Dugaan keracunan pangan dalam Program Makan Bergizi Gratis menimpa ratusan siswa SD di Jakarta Timur, dengan 252 laporan gejala seperti mual, muntah, dan diare; sekitar 30 siswa dirawat di rumah sakit.
  • Ketua Umum Asosiasi Pengusaha dan Pengelola Makan Bergizi Gratis Indonesia Abdul Rivai Ras bersama jajaran pengurus meninjau langsung siswa di Rumah Sakit Citra Harapan dan lokasi SPPG Pulogebang 15 sebagai bentuk empati dan evaluasi awal.

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA —Insiden dugaan keracunan pangan yang menimpa ratusan siswa Sekolah Dasar di wilayah Cakung dan Pulogebang, Jakarta Timur, memantik simpati dan perhatian serius dari berbagai pihak. 

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha dan Pengelola Makan Bergizi Gratis Indonesia (APPMBGI), Abdul Rivai Ras, turun langsung mengunjungi puluhan siswa yang dirawat di Rumah Sakit Citra Harapan, Kota Bekasi, Jawa Barat, pada Minggu (10/5/2026).

Peninjauan tersebut tidak hanya dilakukan ke fasilitas kesehatan, tetapi juga berlanjut ke lokasi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Pulogebang 15. 

Dalam kunjungannya, Abdul Rivai turut didampingi oleh Wakil Ketua Umum I, Siti Nur Azizah Ma’ruf Amin, beserta jajaran pengurus lainnya. 

Kehadiran mereka merupakan wujud empati mendalam sekaligus langkah awal untuk mendorong evaluasi bersama terkait standar operasional dan keamanan Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

“Kami datang untuk melihat langsung kondisi anak-anak, mendengarkan berbagai masukan, dan memastikan bahwa kejadian ini menjadi pelajaran penting bagi seluruh pihak agar kualitas pelayanan MBG semakin baik dan semakin aman bagi masyarakat,” ungkap Abdul Rivai Ras di sela-sela kunjungannya.

Sebelumnya, pada Jumat (8/5/2026), Dinas Kesehatan DKI Jakarta menerima laporan adanya 252 orang tua yang mengeluhkan anak-anak mereka mengalami gejala mual, muntah, diare, dan sakit perut usai menyantap sajian MBG. 

Dari jumlah tersebut, sekitar 30 siswa harus mendapatkan perawatan intensif di rumah sakit. 

Bagi Abdul Rivai, peristiwa ini tidak boleh dianggap remeh karena Program MBG berkaitan langsung dengan kesehatan dan masa depan generasi penerus bangsa.

“Anak-anak adalah amanah bangsa. Karena itu, setiap proses dalam penyelenggaraan MBG harus dilaksanakan dengan penuh kehati-hatian, disiplin, dan tanggung jawab tinggi,” tegasnya.

Menanggapi dugaan adanya penurunan kualitas pada salah satu menu akibat proses distribusi, pihak asosiasi menekankan pentingnya menunggu hasil investigasi resmi dari Dinas Kesehatan dan BPOM agar berjalan objektif. 

SPPG Pulogebang 15 sendiri diketahui baru beroperasi pada akhir Maret 2026 dan tengah dalam proses pemenuhan Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS).

Menyikapi temuan tersebut, asosiasi berkomitmen untuk menjadikan insiden ini sebagai momentum perbaikan yang terukur. 

Langkah-langkah strategis segera disiapkan untuk seluruh pengelola di berbagai daerah, mulai dari percepatan sertifikasi kelayakan dapur, pelatihan higiene bagi para pekerja pangan, hingga optimalisasi pusat kendali untuk mendeteksi risiko sejak dini. 

Selain itu, kolaborasi dengan pemerintah dan badan terkait akan diperkuat untuk memastikan pengawasan berjalan ketat.

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved