Judi Online
Web Judol Sudah Diblokir, tapi Terus Muncul yang Baru, Pakar: Salah Penanganan atau Ada yang Bekingi
Pakar Keamanan Siber, Pratama Persadha menilai pemberantasan judi online mudah dilakukan. Pemerintah juga dinilai telah memiliki regulasi & kemampuan
Ringkasan Berita:
- Pakar Keamanan Siber, Pratama Persadha menilai pemberantasan judi online mudah dilakukan. Apalagi kini pemerintah juga sudah memiliki regulasi dan kemampuan yang cukup untuk menangani masalah judi online.
- Menurut Pratama, yang kini banyak jadi pertanyaan adalah mengapa situs judi online masih terus muncul meski pemerintah sudah banyak melakukan pemblokiran. Pratama menilai, hal itu karena kesalahan penggunaan cara yang salah dalam memberantas judol, serta kurangnya niat dan keberanian
TRIBUNNEWS.COM - Pakar keamanan siber Pratama Persadha menilai regulasi dan kemampuan pemerintah sudah mencukupi untuk memberantas judi online atau judol yang ada di Indonesia.
Hal ini diungkap Pratama dalam menanggapi kasus pengungkapan jaringan judi online internasional di Hayam Wuruk Tower, Jakarta Barat. Dari jaringan tersebut, total ada 321 warga negara asing (WNA) yang telah diamankan.
Dia menilai masalahnya kini hanya apakah pemerintah benar-benar mau memberantas judi online ini atau tidak. Pratama merasa pemberantasan judi online sebenarnya bisa ditangani dengan mudah
Pratama juga menilai Polri dan Komdigi berisi orang-orang pintar yang pastinya bisa menangani masalah judi online.
"Udah dong, udah (regulasi pemberantasan judi online), Pak. Enggak susah. Saya bilang ini gampang sekali kita dengan apa namanya mengecek lalu lintas, apa namanya proksinya kemudian IP address-nya kita bisa tahu sebenarnya gitu ya kan, domainnya menggunakan apa, hosting-nya pakai apa, kemudian DNS-nya apa, kemudian apa namanya, seperti apa, dan lain-lain gitu. Operator itu bisa diganti gampang anytime bandar itu bisa ganti. Tapi infrastruktur digital seperti yang kemarin diungkap Polri itu pasti meninggalkan jejak gitu. Nah, itu yang harus dikejar."
"Nah, kemudian apa WNA-WNA yang diserahkan ke Imigrasi. Saya kok takut langsung mau di itu ya langsung dibalikin. Jangan dibalikin dulu, jangan dideportasi dulu gitu. Itu harus apa namanya diinterogasi benar gitu ya orang-orang ini, supaya kita bisa tahu koordinatornya itu siapa. Karena koordinator itu biasanya dia tahu strukturnya, mereka tahu jalur komunikasinya, mereka tahu siapa supervisornya, mereka tahu pola pembayarannya, mereka tahu lokasi backup operasionalnya ada di mana gitu. Nah, itu yang nanti harus kita kejar gitu ya kan."
"Sehingga nanti kita bisa dapat nih fasilitator lokalnya itu siapa sih, yang memfasilitasi dia kok bisa ada di Hayam Wuruk gitu. Penyedia rekeningnya siapa sih gitu. Kemudian yang nyewain gedung siapa sih? Yang nyediain internet siapa sih gitu yang sponsori visa siapa sih? Pasti nanti akan ketahuan begitu ya gitu."
"Selain juga nanti kita perlu melumpuhkan aset-asetnya. Nah, itu enggak susah. Regulasi kita sudah cukup, gitu. Dan Polri Komdigi bukan ditempati orang-orang yang bodoh gitu. Mereka orang-orang yang pintar gitu ya, gitu," kata Pratama dalam tayangan program Sapa Indonesia Pagi di Kompas TV, Senin (11/5/2026).
Penyebab Situs Judol Masih Muncul meski Sudah Banyak yang Diblokir
Menurut Pratama, yang kini banyak jadi pertanyaan adalah penyebab situs judi online masih terus muncul meski pemerintah sudah banyak melakukan pemblokiran.
Pratama menilai hal itu karena kesalahan penggunaan cara yang salah dalam memberantas judol.
Bisa juga hal itu karena kurangnya niat dan keberanian pemerintah untuk benar-benar memberantas judol atau ada yang membekingi atau memberikan perlindungan untuk situs-situs judol.
Baca juga: Satu Pleton Brimob Bersenjata Jaga Ketat Markas Judi Online Hayam Wuruk
"Nah, kenapa kok pertanyaannya, kenapa kok masih ada? Kenapa kok sampai detik ini masih ada (judol)? Sudah diblokir jutaan website kok masih ada kenapa gitu ya?"
"Karena yang pertama caranya salah, yang kedua memang niatnya kurang, yang ketiga memang kurang ada keberanian karena mungkin ada yang membekingi, pasti ada nih yang melindungi, enggak mungkin enggak gitu," terang Pratama.
Pratama menambahkan bahwa korban judol ini mayoritas adalah rakyat kecil karena biaya depositnya yang sangat murah, hanya Rp20.000 hingga Rp30.000 saja.