Selasa, 19 Mei 2026

Berita Viral

Buntut Viral LCC 4 Pilar di Kalimantan Barat, MPR Janji Lakukan Evaluasi

MPR minta maaf dan berjanji melakukan evaluasi setelah viral insiden peserta jawab benar tapi disalahkan juri dalam LCC Empat Pilar di Kalbar.

Tayang:
YouTube MPR
MPR MINTA MAAF - Momen ketika peserta SMAN 1 Pontianak menjawab pertanyaan dalam ajang Lomba Cerdas Cermat (LCC) 4 Pilar Provinsi Kalimantan Barat. Namun, jawabannya dianggap salah meski ada peserta lain yang juga menjawab sama persis. Juri menganggap artikulasi dari peserta SMAN 1 Pontianak tidak jelas. MPR minta maaf dan berjanji melakukan evaluasi setelah viral insiden peserta jawab benar tapi disalahkan juri dalam LCC Empat Pilar di Kalbar. 
Ringkasan Berita:
  • MPR meminta maaf dan bakal melakukan evaluasi buntut insiden jawaban peserta benar tapi disalahkan juri dalam LCC Empat Pilar yang digelar di Kalimantan Barat.
  • MPR mengungkapkan hal itu perlu dilakukan karena demi menjaga marwah lembaga negara tersebut.
  • Insiden yang dimaksud yakni ketika peserta dari SMAN 1 Pontianak menjawab pertanyaan dengan benar tapi disalahkan juri.
  • Lalu, ketika pertanyaan dilempar ke peserta lain, jawaban yang sama persis justru dianggap benar oleh juri.

TRIBUNNEWS.COM - Wakil Ketua MPR, Abcandra Muhammad Akbar Supratma, menegaskan akan mengevaluasi Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar MPR RI buntut viralnya kontroversi penilaian juri di perlombaan yang digelar untuk region Kalimantan Barat (Kalbar).

Dia menegaskan akan mengevaluasi terkait aspek teknis tata suara hingga mekanisme ketika ada peserta yang merasa keberatan.

“Saya melihat Lomba Cerdas Cermat ini perlu dievaluasi. Jangan ada lagi kejadian seperti ini,” kata Akbar pada Senin (11/5/2026).

Akbar menuturkan evaluasi ini diperlukan karena menyangkut citra dari sebuah lembaga negara seperti MPR. Ia pun meminta maaf atas terjadinya kelalaian dewan juri dalam melakukan penilaian.

“Kami mohon maaf atas kelalaian dewan juri. Kami akan tindak lanjuti kejadian ini,” ujar Akbar.

Namun, meski diakui ada kesalahan, hasil terkait perlombaan tersebut tidak berubah di mana SMAN 1 Sambas tetap keluar sebagai juara dan mewakili Provinsi Kalbar untuk bertanding di tingkat nasional.

Baca juga: Jawaban Siswa Lomba Cerdas Cermat MPR Sama, tapi Disalahkan Juri, SMAN 1 Pontianak Protes

Insiden: Peserta SMAN 1 Pontianak Jawab Benar, tapi Disalahkan Juri

FINAL LCC EMPAT PILAR - Suasana Final Lomba Cerdas Cermat Empat Pilar MPR RI 2026 Tingkat Provinsi Kalimantan Barat di Pontianak, Sabtu (9/5/2026). Wakil Ketua MPR RI Abcandra Muhammad Akbar Supratman menyampaikan permohonan maaf atas insiden penilaian dalam lomba tersebut dan menegaskan akan melakukan evaluasi total terhadap kinerja dewan juri dan sistem perlombaan.
FINAL LCC EMPAT PILAR - Suasana Final Lomba Cerdas Cermat Empat Pilar MPR RI 2026 Tingkat Provinsi Kalimantan Barat di Pontianak, Sabtu (9/5/2026). Wakil Ketua MPR RI Abcandra Muhammad Akbar Supratman menyampaikan permohonan maaf atas insiden penilaian dalam lomba tersebut dan menegaskan akan melakukan evaluasi total terhadap kinerja dewan juri dan sistem perlombaan. (Istimewa)

Momen insiden tersebut terjadi ketika babak LCC Empat Pilar MPR RI digelar di Kota Pontianak, Kalbar, pada Sabtu (9/11/2026) lalu.

Mulanya, pembawa acara menanyakan kepada peserta terkait tata cara pemilihan anggota Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Adapun sistem jawab dari lomba ini adalah rebutan.

Lalu, peserta dari SMAN 1 Pontianak terlebih dahulu memencet tombol dan langsung menjawab.

"Anggota BPK dipilih dari dan oleh anggota. Namun, untuk menjadi anggota BPK, adanya keterkaitan dengan perwakilan daerah tetap dijaga. DPR dalam memilih anggota BPK diwajibkan untuk memperhatikan pertimbangan dari lembaga mana?" tanya pembawa acara.

"Anggota Badan Pemeriksa Keuangan dipilih oleh Dewan Perwakilan Rakyat dengan memperhatikan pertimbangan dengan Dewan Perwakilan Daerah dan diresmikan oleh Presiden," jawab peserta tersebut.

Namun, juri menyatakan bahwa jawaban peserta dari SMAN 1 Pontianak tersebut salah dan berujung adanya pengurangan sebanyak lima poin.

Adapun juri tersebut merupakan Kepala Biro Pengkajian Setjen MPR RI, Dyastasita.

"Nilai -5," katanya.

Kemudian, peserta dari grup SMAN 1 Sambas menjawab pertanyaan tersebut di mana  sama persis seperit yang diucapkan peserta dari SMAN 1 Pontianak.

"Anggota Badan Pemeriksa Keuangan dipilih oleh Dewan Perwakilan Rakyat dengan memperhatikan pertimbangan dari Dewan Perwakilan Daerah dan diresmikan oleh Presiden," jawab peserta dari SMAN 1 Sambas.

Anehnya, juri justru menganggap jawaban dari peserta tersebut adalah benar meski sama seperti jawaban dari peserta sebelumnya.

"Iya, inti jawabannya sudah benar. Nilai (tambah) 10 poin," katanya.

Baca juga: Viral Dewan Juri Salahkan Jawaban Benar Saat Lomba Cerdas Cermat MPR RI

Peserta SMAN 1 Pontianak Langsung Protes, Juri Berdalih Artikulasi Tak Jelas

Setelah itu, peserta dari SMAN 1 Pontianak langsung memprotes keputusan dari juri tersebut.

Ia meyakini bahwa jawaban yang disampaikannya sama dengan apa yang diucapkan oleh peserta dari SMAN 1 Sambas.

"Mohon maaf, jawaban yang kami sampaikan sama," kata peserta tersebut.

Lalu, Dyastasita mengatakan bahwa jawaban antara peserta dari SMAN 1 Pontianak berbeda dengan SMAN 1 Sambas.

Perbedaan yang dimaksud tentang tidak adanya penyebutan DPD dalam pertimbangan pemilihan anggota BPK.

Namun, peserta SMAN 1 Pontianak meyakini telah menjawab sama seperti yang disampaikan oleh peserta dari SMAN 1 Sambas.

"Tadi disebutkan regu C (SMAN 1 Pontianak) itu (jawabnya) pertimbangan dari DPD-nya tidak ada. DPR tadi (jawabnya)," kata Dyastasita.

"Ada (jawaban pertimbangan DPD). Tadi saya jawabnya seperti ini anggota Badan Pemeriksa Keuangan dipilih oleh Dewan Perwakilan Rakyat dengan memperhatikan Dewan Perwakilan Daerah dan diresmikan oleh Presiden," jawab peserta.

Baca juga: Viral Wanita Polisi Menyamar di Jalanan Hyderabad India, Diganggu 40 Pria dalam Tiga Jam

Hanya saja, Dyastasita tetap tidak yakin bahwa peserta dari SMAN 1 Pontianak menjawab seperti yang disampaikan tersebut.

Lalu, peserta meminta penilaian lain seperti dari penonton untuk mengkonfirmasi terkait jawabannya.

Kemudian, Dyastasita menegaskan bahwa keputusan dewan juri adalah mutlak. Lalu, pembawa acara juga meminta agar peserta menerima keputusan dari juri.

Jika masih ingin melakukan protes, pembawa acara meminta agar peserta mengecek tayangan ulangnya.

"Mohon diterima adik-adik terkait keputusan dewan juri karena tentunya dewan juri yang hadir hari ini sudah sangat berkompeten dan sangat teliti untuk mendengarkan jawaban dari adik-adik. Mungkin itu hanya perasaan adik-adik saja," kata pembawa acara.

"Nanti mungkin bisa dilihat tayangan ulangnya setelah acara selesai," tuturnya.

Selanjutnya, ada juri lain, yakni Kepala Badan Sekretariat Badan Sosialisasi MPR RI, Indei Wahyuni, yang menganggap bahwa artikulasi peserta SMAN 1 Pontianak tidak jelas saat menjawab pertanyaan.

Dia menilai hal tersebut menjadi penyebab jawaban peserta dianggap salah oleh dewan juri.

"Kan sudah diperingatkan sejak awal. Artikulasi itu penting. Jadi biasakan menjawab itu dengan artikulasi yang jelas. Dewan juri kalau menurut kalian sudah (terdengar) tetapi dewan juri menilai kalian tidak (benar) karena tidak mendengar artikulasi kalian dengan jelas ya artinya dewan juri berhak memberikan (pengurangan) nilai minus 5," katanya.

Pihak Sekolah Protes

Dikutip dari akun Instagram resmi SMAN 1 Pontianak, pihak sekolah turut melayangkan protes atas keputusan dewan juri tersebut.

Dewan juri, kata pihak sekolah, memang kerap tidak fokus ketika menilai jawaban dari peserta.

"Kurangnya fokus dewan juri dalam beberapa momen penilaian yang berpotensi memengaruhi objektivitas hasil," demikian isi dari pernyataan resmi pihak sekolah, dikutip pada Senin.

Lalu, pihak sekolah juga menyayangkan penggunaan relasi kuasa oleh dewan juri ketika keputusannya diprotes oleh peserta.

Baca juga: Tes CAT Calon Manajer Kopdes Merah Putih Error dan Videonya Viral, Begini Kata Wamenkop

Dewan juri dianggap tidak obyektif ketika ada protes karena tidak mengonfirmasi atau mengklarifikasi terlebih dahulu terkait protes dari peserta tersebut.

Pihak sekolah juga menyayankan pembawa acara yang turut memperjelas terkait relasi kuasa dewan juri dengan menganggap para juri tidak salah karena memiliki kompetensi dalam menilai.

"Adanya indikasi penggunaan relasi kuasa oleh dewan juri, tanpa didahului proses konfirmasi dan klarifikasi yang memadai. Hal ini diperkuat dengan adanya validasi sepihak melalui MC (master of ceremony) mengenai kompetensi juri, sehingga kegiatan tetap dilanjutkan tanpa penyelesaian yang proporsional," kata pihak sekolah.

Dengan adanya peristiwa ini, pihak sekolah meminta penyelenggara untuk menyampaikan penjelasan secara transparan setelah viralnya video yang dimaksud.

Lalu, mereka juga mendesak adanya evaluasi terkait penilaian demi menjaga integritas LCC 4 Pilar MPR.

(Tribunnews.com/Yohanes Liestyo Poerwoto/Chaerul Umam)

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved