Wabah Hantavirus
Berbeda dengan Covid-19, Hantavirus di Indonesia Bukan Human to Human, Epidemiolog: Tak Perlu Panik
Masdalina menjelaskan hantavirus ini memiliki 300 varian dan yang ada di Indonesia berbeda dengan hantavirus di Amerika.
Meski demikian, kata Masdalina, masalahnya adalah hantavirus ini mortality-nya dan tingkat kematiannya cukup tinggi.
Apalagi, gejala virus hantavirus ini juga tidak khas, sehingga sering terjadi misdiagnosis atau baru bisa dikenali ketika sudah parah. Vaksin dan obatnya pun belum ada.
"Ada beberapa obat virus yang diberikan itu efektivitasnya juga masih belum begitu baik. Rapid tesnya ada, tetapi sensitivitas dari rapid tes ini yang masih belum begitu baik," jelas Masdalina.
Hantavirus di Kapal Pesiar MV Hondius Belum Pernah Ada di Indonesia
Sementara itu, Plt Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Andi Saguni menyatakan, jenis virus seperti hantavirus yang menyerang penumpang di kapal pesiar MV Hondius belum pernah dilaporkan ada di Indonesia.
Andi menjelaskan, jenis virus yang ditemukan dalam kasus hantavirus di kapal pesiar adalah strain Andes Virus. Jenis virus ini banyak ditemukan di wilayah benua Amerika.
“Distribusi virus ini tersebar di Amerika dan hingga kini belum pernah dilaporkan di Indonesia, baik pada manusia maupun tikus,” kata Andi dalam temu media via daring, Senin.
Andi juga menjelaskan, binatang pembawa penyakitnya ditemukan di berbagai habitat di benua Amerika, seperti alam liar (tikus padi ekor panjang) kabin dan gudang di pedesaan (mencit rusa).
Saat terinfeksi Andes virus, maka kasus mengarah pada HPS atau infeksi pernapasan akut yang parah dan sering kali berakibat fatal.
Gejala HPS meliputi demam, nyeri badan, lemas, batuk, hingga sesak napas. Masa inkubasi penyakit berkisar antara satu hingga delapan minggu, sedangkan untuk Andes Virus bisa mencapai 42 hari.
Tingkat kematian atau case fatality rate (CFR) penyakit ini dilaporkan mencapai sekitar 60 persen.
Andi menerangkan, penularan antar manusia jarang terjadi, dilaporkan terbatas hanya pada tips HPS (Andes Virus) di Amerika Selatan serta pada kontak intens dan berkepanjangan.
"Risiko penularan antar manusia sangat rendah dan terbatas. Hingga saat ini, penularan antar manusia sangat jarang terjadi," ungkap Andi.
Sementara itu, tipe Haemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) dengan strain Seoul virus tersebar di kawasan Eropa dan Asia, termasuk Indonesia.
Virus tipe HFRS umumnya dibawa oleh tikus got dan mencit ladang yang hidup di wilayah perkotaan maupun area pertanian.
Gejalanya berupa demam, sakit kepala, nyeri badan, tubuh lemas, hingga ikterik atau kondisi tubuh menguning. Masa inkubasi penyakit sekitar satu hingga dua minggu dengan CFR berkisar 5 hingga 15 persen.
Kemenkes pun memastikan terus melakukan pemantauan dan pengawasan guna mencegah potensi penyebaran penyakit tersebut di Indonesia.
(Tribunnews.com/Rifqah/Rina)