Senin, 18 Mei 2026

Jokowi Akan Keliling Indonesia, Aksi Blusukan Biasa atau Perluasan Pengaruh Politik?

Setelah dikabarkan hampir pulih sepenuhnya dari sakit, mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi) berencana berkeliling Indonesia mulai Juni 2026.

Tayang:
Tribunnews.com/Instagram/windrasanur
KELILING INDONESIA - Salah satu potret Windra Sanur saat bertugas sebagai Paspampres Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi). Jokowi berencana berkeliling Indonesia mulai Juni 2026. 

Ringkasan Berita:
  • Mantan Presiden Jokowi berencana berkeliling Indonesia setelah sembuh dari sakitnya.
  • Pengamat politik Adi Prayitno mengaitkan aksi keliling Jokowi dengan aksi blusukannya.
  • Muncul tafsiran bahwa aksi keliling Jokowi merupakan bentuk upaya penetrasi politik.

 

TRIBUNNEWS.COM – Setelah dikabarkan hampir pulih sepenuhnya dari sakit, mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi) berencana berkeliling Indonesia mulai Juni 2026.

Adi Prayitno, Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia sekaligus akademisi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, menilai rencana Jokowi itu tidak bisa dilepaskan dari aktivitas blusukannya ketika masih menjadi pejabat publik.

“Tentu secara normatif harus diakui bahwa salah satu diferensiasi politik yang ada pada Jokowi adalah soal blusukan,” kata Adi di Kompas TV, Minggu, (17/5/2026).

Dia berkata istilah blusukan sudah melekat pada diri Jokowi. Oleh karena itu, tidak terlalu mengherankan bahwa Jokowi, meskipun sudah tidak menjadi pejabat, tetap memiliki gaya komunikasi dengan cara turun ke masyarakat.

Meski demikian, publik bisa menafsirkan rencana Jokowi berkeliling Indonesia secara politik.

“Ada tafsir-tafsir yang terus berembus kencang. Misalnya soal bagaimana Pak Jokowi ingin terus melakukan penetrasi politik ke akar rumput supaya pengaruh politiknya itu akan semakin signifikan, terutama menghadapi pertarungan politian di masa yang akan datang,” ucap Adi.

Adi mengingatkan bahwa Jokowi saat ini sangat identik dengan Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Adapun sekarang partai itu dipimpin oleh putra bungsu Jokowi, Kaesang Pangarep.

Menurut Adi, di satu sisi ada pihak yang berpendapat bahwa Jokowi masih kuat secara politik meski sudah tidak menjadi presiden. Di sisi lain, ada yang menilai Jokowi tidak sekuat ketika masih menjabat.

Dia menyebut publik melihat ada intensi elektoral yang sepertinya ingin dicapai, yaitu bagaimana pengaruh politik Jokowi akan semakin dirasakan. Masyarakat yang selama ini mengikuti Jokowi akan terus mengikuti arah dukungannya, khususnya ke PSI dan putra sulungnya, Wapres Gibran Rakabuming Raka.

Adi menyebut Jokowi masih kuat di Jawa, terkhususnya di Jawa Tengah dan sebagian Jawa Timur. Selain itu, ada pula basis dukungan di Bali, Banten, dan luar Jawa.

Meski demikian, Adi mengingatkan bahwa sejumlah orang merasa Jokowi tidak sekuat dulu. Indikasinya adalah kegagalan PSI lolos ke Senayan pada Pemilu 2024. Padahal, saat itu Jokowi masih menjadi presiden.

Baca juga: Jokowi Yoga Bareng Warga di Solo, Jelang Safari Keliling Indonesia Mulai Juni

Menjelang Pemilu 2024, memang muncul banyak baliho spanduk yang menampilkan Jokowi dan Ketua Umum PSI Kaesang. Muncul pula tagline Jokowi adalah PSI, dan PSI adalah Jokowi. Namun, hal-hal itu ternyata tidak cukup untuk meloloskan PSI.

Adi menolak menyimpulkan tujuan sebenarnya aksi keliling yang dilakukan Jokowi, yakni apakah sekadar blusukan biasa seperti yang dulu sering dilakukannya ataukah memperluas pengaruh politik. Dia mengatakan waktulah yang akan menjawabnya.

Projo: Jokowi ingin menyapa masyarakat

Sebelumnya, Sekretaris Jenderal Projo Freddy Alex Damanik menyebut Jokowi akan kembali turun gunung untuk menyapa masyarakat.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved