Jumat, 22 Mei 2026

Golkar: Semua Negara Hari Ini Hadapi Tantangan Ekonomi, Jangan Dibingkai dengan Ketakutan

Idrus mengatakan kondisi ekonomi global saat ini harus dipahami sebagai bagian dari dinamika yang wajar. 

Tayang:
Penulis: Chaerul Umam
TRIBUNNEWS/AKBAR PERMANA
PERTUMBUHAN EKONOMI - Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menargetkan pertumbuhan ekonomi Indonesia di tahun 2027 di kisaran angka 5,8 hingga 6,5 persen pada tahun 2027. Wakil Ketua Umum Partai Golkar Idrus Marham, meminta seluruh elite politik agar tidak membangun narasi pesimistis, terkait kondisi ekonomi nasional di tengah tekanan ekonomi global yang saat ini juga dialami banyak negara. 

Ringkasan Berita:
  • Wakil Ketua Umum Golkar menilai tantangan ekonomi global adalah hal wajar dan tidak perlu dibingkai dengan ketakutan. 
  • Ia mengingatkan elite politik agar tidak membangun narasi pesimistis yang bisa mengganggu psikologis rakyat dan kepercayaan pasar. 
  • Kritik terhadap pemerintah penting, namun harus menghadirkan optimisme dan solusi. Golkar mengajak semua pihak memperkuat solidaritas nasional serta gotong royong menghadapi dinamika ekonomi dunia.

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Wakil Ketua Umum Partai Golkar Idrus Marham, meminta seluruh elite politik agar tidak membangun narasi pesimistis, terkait kondisi ekonomi nasional di tengah tekanan ekonomi global yang saat ini juga dialami banyak negara.

Menurut Idrus, kritik terhadap pemerintah merupakan hal yang wajar dalam demokrasi. 

“Kritik boleh, bahkan penting dalam demokrasi. Tapi kritik juga harus menghadirkan optimisme, solusi, dan semangat persatuan. Jangan sampai rakyat dibuat makin cemas menghadapi keadaan,” kata Idrus, kepada wartawan, Kamis (21/5/2026).

Hal itu disampaikan Idrus merespons pandangan mantan Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, yang sebelumnya menyoroti kondisi ekonomi nasional melalui video di media sosial pribadinya. 

Dalam pernyataannya, Anies menyebut nilai tukar rupiah melemah, harga kebutuhan pokok meningkat, serta daya beli masyarakat menurun.

Menanggapi hal tersebut, Idrus menilai tantangan ekonomi saat ini bukan hanya dihadapi Indonesia, melainkan hampir seluruh negara di dunia akibat dinamika geopolitik global, penguatan dolar Amerika Serikat, dan ancaman perlambatan ekonomi internasional.

“Amerika pun mengalami kondisi yang sama. Tidak ada satu negara pun yang lepas dari tantangan ekonomi berat,” ujarnya.

Idrus mengatakan kondisi ekonomi global saat ini harus dipahami sebagai bagian dari dinamika yang wajar. 

Menurut dia, fluktuasi ekonomi merupakan sesuatu yang inheren dalam kehidupan setiap bangsa sehingga tidak tepat jika dibingkai dengan narasi ketakutan.

“Semua negara berada dalam situasi dinamis-fluktuatif. Kadang naik, kadang turun. Itu biasa. Jangan dicemaskan menjadi narasi yang menciutkan nyali bangsa,” katanya.

Ia mengingatkan bahwa narasi yang terlalu pesimistis dapat memengaruhi stabilitas psikologis masyarakat sekaligus mengganggu kepercayaan pasar terhadap kondisi nasional.

“Kalau elite politik terus berbicara seakan-akan negeri ini runtuh, pasar bisa terganggu dan rakyat kehilangan kepercayaan diri. Padahal bangsa ini sudah berkali-kali membuktikan mampu bertahan menghadapi krisis besar,” tutur Idrus.

Selain itu, Idrus menilai masyarakat saat ini membutuhkan kepemimpinan yang mampu menghadirkan ketenangan dan optimisme di tengah situasi global yang belum menentu.

“Rakyat butuh energi positif, bukan ketakutan yang diproduksi terus-menerus. Kita harus serius menghadapi masalah, tapi juga harus yakin bangsa ini punya kekuatan untuk bangkit,” katanya.

Ia pun mengajak seluruh elemen bangsa untuk memperkuat solidaritas nasional dan gotong royong dalam menghadapi tantangan ekonomi global, dibanding memperbesar perbedaan politik.

Sesuai Minatmu
Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved