Sabtu, 23 Mei 2026

Prabowo Gelar Rapat di Istana, Mantan Pejabat Diminta Bagikan Pengalaman Hadapi Krisis

Presiden Prabowo menggelar rapat terbatas bersama sejumlah menteri dan mantan pejabat untuk membahas pengalaman menghadapi krisis di masa lalu.

Tayang:
Penulis: Taufik Ismail
Editor: Wahyu Aji
Tribunnews.com/Taufik Ismail
PRESIDEN KUMPULKAN PEJABAT - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa di Istana Kepresidenan, Jakarta, Jumat, (22/5/2026). Purbaya mengatakan, Presiden Prabowo menggelar rapat terbatas bersama sejumlah menteri dan mantan pejabat untuk membahas pengalaman menghadapi krisis ekonomi di masa lalu. 
Ringkasan Berita:
  • Presiden Prabowo Subianto menggelar rapat terbatas bersama sejumlah menteri dan mantan pejabat ekonomi untuk membahas pengalaman menghadapi krisis ekonomi masa lalu.
  • Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyebut pemerintah diminta mempelajari penanganan krisis agar siap menghadapi potensi tekanan ekonomi ke depan.
  • Pemerintah menilai fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat, sementara pelemahan rupiah disebut lebih dipengaruhi persepsi pasar dan tekanan eksternal.

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Presiden Prabowo Subianto menggelar rapat terbatas di Istana Kepresidenan, Jakarta, Jumat (22/5/2026).

Rapat tersebut dihadiri Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, Menko Perekonomian Airlangga Hartarto , Menteri Investasi dan CEO Danantara Rosan Roeslani.

Selain itu hadir Mantan Gubernur Bank Indonesia Burhanuddin Abdullah, Mantan Kepala Bappenas Paskah Suzeta, Mantan Wakil Kepala Bappenas Lukita Dinarsyah Tuwo, dan lainnya.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan dalam rapat tersebut para mantan pejabat menceritakan mengenai pengalaman dalam menghadapi krisis.

“Ya, dia sharing pengetahuan gimana waktu mengalami ada krisis 2007-2008 dan sebelum-sebelumnya. Itu saja kita pelajari, masukan dari mereka apa,” kata Purbaya.

Purbaya mengatakan dirinya diminta untuk mempelajari pengalaman dalam mengahadapi krisis yang pernah terjadi di masa lalu. Sehingga apabila ada potensi krisis dapat segera ditanggulangi.

“Saya sudah catat, saya diperintahkan untuk mempelajari, ya kita pelajari,” katanya.

Menurut Purbaya sharing mengenai pengalaman menghadapi krisis bukan berarti Indonesia sekarang akan atau lagi mengalami krisis. Ia mengatakan fundamental ekonomi Indonesia saat ini kuat, berbeda dengan yang terjadi pada 1998 silam.

“Karena masukan mereka juga sama, sebetulnya fundamental kita amat baik. Kalau dibandingkan 1998 kan waktu itu dari 2000 melemah ke sekian, Rp17 ribu kan sekian kali lipat. Kalau sekarang kan (depresiasi) 4-5 persen kan sebetulnya jauh,” katanya.

Purbaya mengatakan penilaian pemerintah sama dengan para mantan pejabat tersebut bahwa fundamental ekonomi Indonesia sekarang masih kuat. Adapun pelemahan rupiah terjadi karena adanya tekanan akibat persepsi pasar.

“Dan di samping itu fundamental eknominya bagus sekali. Dan mereka juga bilang mungkin persepsi orang yang membuat ada tekanan kenilai tukar,” katanya.

Purbaya lalu mencontohkan tekanan eksternal yang menyebabkan pelemahan nilai tukar rupiah.

Salah satunya laporan lembaga pemeringkat saham, dan lainnya.

“Kalau kita lihat sekaran kan serangan bertubi-tubi ke kita. MSCI, habis itu lembaga pemeringkat, habis itu pergerakan nilai tukar.  Tapi kalau dari fundamental sih nggak ada masalah, mereka setuju. Jadi, kita akan memperbaiki cara mungkin kita mensosialisasikan keberhasilan kita ke publik,” pungkasnya.

Sesuai Minatmu
Sumber: Tribunnews.com
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved