Jumat, 5 Juni 2026

Berani Buat Film Pesta Babi yang Kontroversial, Dandhy Laksono Dibekingi Siapa?

Dandhy Dwi Laksono menyebut pihak yang membekingi dia dalam pembuatan film-film kontroversial yang memicu perdebatan.

Tayang:
Tangkapan layar YouTube Pekanbaru
PESTA BABI - Aktivis sekaligus sutradara film dokumenter 'Pesta Babi', Dandhy Laksono, saat diwawancarai pada Kamis (14/5/2026). 

Ringkasan Berita:
  • Dandhy Dwi Laksono mengungkap sosok yang melindungi dia dalam pembuatan film-film dokumenter.
  • Menurut Dandhy, masyarakat akan menjadi pihak yang melindungi dia.
  • Dandhy disorot karena film Sexy Killers, Dirty Vote, dan Pesta Babi yang memicu perdebatan,

TRIBUNNEWS.COM – Keberanian Dandhy Dwi Laksono, salah satu sutradara film kontroversial Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita (2026), memantik pertanyaan dari masyarakat tentang dugaan pihak yang membekingi atau melindungi dia.

Tidak hanya karena Pesta Babi, Dandhy juga disorot oleh publik tanah air setelah keluarnya film dokumenter Sexy Killers (2019) dan Dirty Vote (2024) yang memicu diskusi dan perdebatan.

Dalam siniar bersama pengamat komunikasi politik Hendri Satrio, jurnalis investigasi yang bernah berkarier di sejumlah media tanah air itu akhirnya mengungkap pihak yang melindungi dia.

“Di dunia yang orang baru berpikir atau bertindak ketika ada beking, memang seolah-olah semua kelihatan ada beking,” ujar Dandhy dalam siniar di kanal YouTube Hendri, Jumat (22/5/2026).

“Kalau gua jawab enggak ada juga, orang yang percaya akan percaya, yang enggak percaya akan enggak percaya.”

Menurut Dandhy, dalam kerja jurnalistiknya, yang membekingi dia ada dua hal. Pertama, kredibilitas informasinya. Kedua, independensinya.

Dandhy mengakui konten yang sudah benar dan akurat pun punya risiko yang tinggi, apalagi yang keliru atau “melintir”.

“Bikin seakurat mungkin aja tetap dihantam kekuasaan, apalagi enggak akurat. Jadi, kami ketat banget,” katanya.

“Jadi, kalau dari pertanyaan bekingnya siapa, dari film ke film kami selalu percaya kalau publik akan jadi beking.”

Menurut dia, jika bukan masyarakat, siapa lagi yang akan melindungi dia. Kata Dandhy, dia dan rekan-rekannya rentan terhadap jeratan Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).

Dandhy menyebut dia dan kawan-kawannya pernah dilaporkan kepada polisi karena film Dirty Vote. Film itu berkisah tentang dugaan kecurangan dalam pemilu.

Baca juga: Amnesty International Soroti Pelarangan Film Pesta Babi, Nilai Bungkam Suara Kritis Tentang Papua

Dalam kasus Dirty Vote, Dandhy menyebut data yang digunakan adalah data terbuka. Data itu kemudian dihimpun. Adapun analisisnya, menurut dia, relatif tidak ada yang baru.

“Jadi, para scientist, orang-orang yang berusaha proper dengan data itu malah rentan sekarang,” ucap dia.

Mengenai film terbarunya, yakni Pesta Babi, dia menilai film itu penuh dengan keterbukaan. Identitas semua orang yang terlibat dalam pembuatan film itu sudah jelas dan bahkan alamat masing-masing bisa dilacak.

Pesta Babi menceritakan dampak Proyek Strategis Nasional (PSN) terhadap kehidupan masyarakat adat di Papua. Banyak acara nonton bareng (nobar) film itu, tetapi sebagian dibubarkan oleh aparat

Sesuai Minatmu
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved