Kamis, 28 Mei 2026

Lawan Isu Perubahan Iklim, Peneliti RI-Australia Luncurkan Pembelajaran Berbasis Board Game

Perubahan iklim bukan lagi sekadar isu global yang jauh di awan, melainkan ancaman nyata yang kian terasa di kehidupan sehari-hari. 

Tayang:
Editor: Dodi Esvandi
HO/IST
Diskusi bertajuk “Shaping Climate Resilience Policy Through Inclusive Research” di Jakarta, Selasa (26/5/2026). 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Perubahan iklim bukan lagi sekadar isu global yang jauh di awan, melainkan ancaman nyata yang kian terasa di kehidupan sehari-hari. 

Sayangnya, materi seputar isu ini kerap disajikan secara teknis dan rumit. Alhasil, masyarakat luas—terutama anak-anak usia sekolah dasar—kesulitan memahaminya.

Berangkat dari kegelisahan tersebut, para peneliti dari Indonesia dan Australia berkolaborasi merancang media pembelajaran alternatif: sebuah board game (permainan papan) edukatif yang menyenangkan dan mudah dipahami.

Proyek uji coba yang melibatkan anak-anak sekolah ini dilakukan di Nusa Tenggara Timur (NTT). 

Hasil dan temuan riset tersebut kemudian dikupas tuntas dalam diskusi bertajuk “Shaping Climate Resilience Policy Through Inclusive Research” di Lounge Katadata, Jakarta.

Ahli Manajemen Risiko Bencana dari PREDIKT, Yusra Tebe, mengungkapkan bahwa literasi terkait perubahan iklim di Indonesia masih sangat minim. 

Mirisnya, skeptisisme tidak hanya datang dari siswa, tetapi juga dari tenaga pendidik hingga penentu kebijakan.

“Kita tahu perubahan iklim itu nyata dan mengganggu semua sektor, terutama pendidikan. Namun, pengetahuannya di tingkat peserta didik, guru, bahkan pengambil kebijakan masih rendah. Bahkan, masih ada yang menganggap isu ini tidak nyata,” ujar Yusra.

Sebenarnya, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) sudah menerbitkan panduan terkait perubahan iklim

Sayang, implementasinya di lapangan belum merata. Di sinilah board game hadir sebagai jembatan antara teori dan praktik.

Menariknya, permainan ini tidak dibuat secara sepihak oleh para peneliti, melainkan dikembangkan bersama (co-create) oleh anak-anak di NTT dan siswa dari Harkaway Primary School di Victoria, Australia.

Baca juga: Mengenal Proyek Metana ASEAN-Korea, Strategi Mitigasi Perubahan Iklim Lewat Pengolahan Sampah

Mengapa Harus Anak-Anak?

Ketika ditanya alasan mengapa anak-anak menjadi sasaran utama, Yusra memberikan jawaban filosofis sekaligus realistis. 

Menurutnya, orang dewasa kerap terlalu tenggelam dalam rutinitas dan kesibukan sehari-hari.

“Orang dewasa mungkin sepakat kalau perubahan itu penting, tapi komitmennya jarang bisa bertahan lama (long lasting). Sebaliknya, anak-anak adalah penentu masa depan. Merekalah yang kelak menjadi pengambil kebijakan dan penggerak di desa, kecamatan, hingga tingkat negara,” tambah Yusra.

Pandangan ini diamini oleh Reny Rebeka Haning, Senior Specialist Perlindungan Anak dan Advokasi ChildFund. 

Sesuai Minatmu
Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved