Pemkab Wonosobo Kejar Penurunan Zero Dose, Sebanyak 12.548 Anak jadi Sasaran Imunisasi 2026
Pemerintah Kabupaten Wonosobo mendorong langkah percepatan penanganan anak zero dose imunisasi.
Sementara itu, Kepala Kantor UNICEF Perwakilan Wilayah Jawa, Arie Lukmantara menegaskan persoalan zero dose bukan hanya target program kesehatan, tetapi menyangkut hak dasar anak yang harus dipenuhi negara dan masyarakat.
Menurut Arie, anak yang tidak mendapatkan imunisasi berisiko kehilangan banyak hak penting dalam tumbuh kembangnya.
“Tidak satu anak pun boleh tidak mendapatkan imunisasi, harus dapat semua,” ujar Arie.
Ia menjelaskan, anak yang tidak diimunisasi lebih mudah terserang penyakit menular dan dalam sejumlah kasus dapat memicu disabilitas permanen seperti polio. Kondisi itu juga berdampak pada kualitas pendidikan dan tumbuh kembang anak.
“Akan sangat terganggu kalau adik-adik kita itu tidak diimunisasi,” katanya.
Arie menyebut stunting juga memiliki keterkaitan dengan imunisasi. Anak yang lahir tanpa perlindungan imunisasi dasar dinilai lebih rentan mengalami gangguan kesehatan berkepanjangan yang memengaruhi pertumbuhan.
“Stunting diperparah situasinya ketika lahir itu tidak diimunisasi,” ujarnya.
Selain dampak kesehatan, UNICEF juga menyoroti dampak sosial terhadap anak-anak yang mengalami disabilitas akibat penyakit yang sebenarnya dapat dicegah dengan imunisasi.
Arie juga meluruskan anggapan bahwa rendahnya cakupan imunisasi hanya terjadi di wilayah pedesaan. Berdasarkan temuan UNICEF, tantangan besar justru banyak ditemukan di kelompok masyarakat miskin perkotaan atau urban poverty.
Padahal, menurut UNICEF, pemerintah telah memastikan ketersediaan vaksin dalam jumlah cukup. Karena itu, tantangan terbesar saat ini ialah membangun kesadaran masyarakat agar imunisasi menjadi kebutuhan rutin setiap keluarga.
“Nah, karena supply-nya tidak diambil, ini jadi sia-sia,” kata Arie.
Di sisi lain, Ketua Pusat Penelitian Kesehatan (Puslitkes) LPPM Undip, Martini mengatakan penurunan cakupan imunisasi di sejumlah daerah dipengaruhi meningkatnya penolakan masyarakat terhadap vaksin.
Menurutnya, penolakan tidak selalu dipicu faktor keyakinan, tetapi juga rendahnya akses informasi yang benar terkait imunisasi.
“Pemahamannya masyarakat tentang pentingnya imunisasi itu seperti apa, untuk apa sih diimunisasi,” kata Martini.
Ia menyebut ketakutan terhadap Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) juga masih menjadi alasan sebagian orang tua enggan membawa anaknya ke layanan imunisasi.
Baca juga: Bukan dari APBD, Pembangunan Tugu Biawak Viral di Wonosobo Dibiayai BUMD
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/pemkab-wonosobo-DOSE-ZERO-IMUNISASI.jpg)