Minggu, 31 Mei 2026

Nilai Tukar Rupiah

Nilai Tukar Rupiah Hari Ini Rabu 27 Mei 2026 Anjlok Mendekati Rp 18.000, Apa Efeknya?

Nilai tukar rupiah kembali tertekan hingga menembus Rp17.800 per dolar AS pada Rabu, 27 Mei 2026.

Tayang:
Editor: Suci BangunDS
Freepik
NILAI TUKAR RUPIAH - Ilustrasi uang diambil dari Freepik pada Jumat (11/7/2025). Nilai tukar rupiah kembali tertekan hingga menembus Rp17.800 per dolar AS pada Rabu, 27 Mei 2026. 

Ringkasan Berita:
  • Kurs USD/IDR pada perdagangan Rabu (27/5/2026) tercatat di level Rp17.804,50 per dolar AS dan terus bergerak mendekati ambang psikologis Rp18.000.
  • Pengamat menilai pelemahan rupiah dipengaruhi konflik Iran-Israel, kenaikan harga minyak dunia, capital outflow, hingga keraguan pasar terhadap kemampuan fiskal pemerintah membiayai program besar nasional.
  • Pelemahan rupiah memicu kenaikan harga barang impor, BBM, hingga kebutuhan pokok.

 

TRIBUNNEWS.COM - Pada Rabu, 27 Mei 2026 hari ini nilai tukar atau kurs rupiah terpantau anjlok terhadap dolar Amerika Serikat (AS) .

Nilai tukar mata uang RI ini melemah menembus level Rp17.800 per dolar AS.

Mengacu pada data Bloomberg pukul 13.16 WIB di pasar spot exchange, terlihat kurs USD/IDR berada di level 17.804,50 rupiah per dolar AS. 

Nilai tukar tersebut tercatat mengalami kenaikan sebesar 9 poin atau sekitar 0,05 persen dibanding perdagangan sebelumnya.

Kenaikan USD/IDR ini menandakan rupiah kembali melemah terhadap dolar AS.

Pelemahan rupiah ini, melanjutkan tekanan yang sudah terjadi pada penutupan perdagangan Selasa (26/5/2026), ketika dolar AS menguat 0,29 persen atau bertambah 52 poin ke level Rp17.795 per dolar AS.

Bahkan, kurs rupiah sebelumnya sempat menyentuh area Rp17.787 per dolar AS dan kini terus bergerak mendekati batas psikologis Rp18.000 per dolar AS.

Apa Efeknya?

Pelemahan rupiah yang terus berlanjut ini memicu kekhawatiran luas di tengah masyarakat.

Kondisi tersebut bukan hanya berdampak pada pelaku usaha besar atau investor, tetapi mulai dirasakan langsung oleh masyarakat kelas menengah hingga warga desa melalui kenaikan harga kebutuhan pokok, biaya transportasi, hingga menurunnya daya beli.

Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Prof. Dr. Anton Agus Setyawan, S.E., M.Si., menilai pelemahan rupiah saat ini dipicu kombinasi tekanan global dan persoalan domestik yang terjadi bersamaan.

Konflik geopolitik antara Iran dan Israel yang melibatkan Amerika Serikat dan sekutunya disebut menjadi salah satu faktor utama yang mengguncang pasar global.

Menurut Anton, ancaman penutupan Selat Hormuz dan kenaikan harga minyak dunia membuat investor global memilih memindahkan aset mereka ke dolar AS yang dianggap lebih aman.

Akibatnya, arus modal asing keluar dari Indonesia semakin besar dan memperlemah rupiah.

“Investor global pasti menganggap sementara ini Indonesia kurang menjanjikan untuk investasi. Mereka memilih memegang aset dolar,” ujarnya, mengutip ums.ac.id, Rabu (27/5/2026).

Baca juga: Rupiah Kembali Loyo di Rabu Pagi , Tembus Rp 17.800 Per Dolar AS, Mata Uang Asia Lain Menguat

Sesuai Minatmu
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved