Okky Madasari: Reformasi Mulai Mati di Era Jokowi
Perjalanan reformasi Indonesia memasuki fase kemunduran serius menurut Okky Madasari, bahkan mulai “mati” pada era Joko Widodo
Selain pelemahan institusi demokrasi, Okky juga menyoroti meningkatnya dominasi militer dalam ruang sipil. Ia menyebut fenomena itu kini terlihat di berbagai sektor, mulai dari pemerintahan, ekonomi, pendidikan, hingga kebudayaan.
Di sektor pemerintahan, ia menyoroti penempatan militer aktif di jabatan sipil. Sementara di sektor pendidikan, Okky mengkritik rencana pembekalan militer bagi penerima beasiswa LPDP.
Menurutnya, kondisi tersebut berpotensi mengikis budaya berpikir kritis di kalangan generasi muda.
“Tidak mungkin kita berharap lahir inovasi dari generasi yang dibentuk untuk takut mempertanyakan sesuatu,” katanya.
Ia juga menyinggung adanya represi terhadap kebebasan berekspresi, termasuk pembubaran pemutaran film dan tekanan terhadap kelompok kritis.
Harapan pada Generasi Muda dan 2029
Meski demokrasi dinilai mundur, Okky menolak menyalahkan masyarakat sepenuhnya. Ia menilai publik dibentuk oleh kondisi sosial, ekonomi, dan arus informasi yang mereka konsumsi.
Dalam situasi ekonomi yang sulit, menurutnya, masyarakat cenderung lebih permisif terhadap praktik politik yang sebelumnya dianggap bermasalah.
“Publik dibentuk oleh narasi media, kondisi ekonomi, dan situasi sosial politik. Jadi saya selalu berat menyalahkan publik,” ujarnya.
Okky mengatakan tanggung jawab terbesar justru berada pada elite politik dan aktor kekuasaan yang mengendalikan institusi negara.
Meski mengaku kehilangan harapan terhadap pemerintah saat ini, Okky menyebut dirinya masih optimistis terhadap generasi muda, khususnya mahasiswa dan generasi Z.
Ia menilai generasi saat ini memiliki keberanian baru yang berbeda dari generasi sebelumnya. Bentuk kritik kini hadir lewat media sosial, meme politik, video AI, hingga gerakan digital yang lebih cair dan sporadis.
“Keberanian itu tidak hilang. Bentuknya saja yang berubah,” katanya.
Okky menegaskan tantangan terbesar berikutnya ada pada Pemilu 2029. Ia berharap publik tidak kembali terjebak pada politik pencitraan, gimmick, atau manipulasi opini.
“Jangan sampai kita memilih pemimpin hanya karena gimmick, rasa kasihan, atau citra lucu. Kalau 2029 kita jatuh ke lubang yang sama, maka Indonesia akan makin sulit keluar dari krisis demokrasi ini,” ujarnya.
Ia pun mendorong kelompok kritis, mahasiswa, aktivis, dan publik untuk mulai membangun kesadaran kolektif serta menjaga ruang demokrasi tetap hidup.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Okky-Madasari-menilai-kemunduran-demokrasi-mulai-terlihat-kuat-pada-era-Presiden-Jokowi.jpg)