PBNU dan Dinamika Organisasinya
Mubes Warga NU DIY Tegaskan Pentingnya Menjaga Khitah dan Kemandirian Nahdliyin
Ratusan warga NU menghadiri Mubes Warga NU DIY bertajuk "NU Ora Didol: Meneguhkan Khittah NU untuk Kemandirian Nahdliyyin" di Yogyakarta.
Ringkasan Berita:
- Ratusan warga NU menghadiri Mubes Warga NU DIY bertajuk "NU Ora Didol: Meneguhkan Khittah NU untuk Kemandirian Nahdliyyin" di Yogyakarta.
- Forum ini menyoroti pentingnya menjaga khittah NU, memperkuat kemandirian organisasi, dan menyiapkan regenerasi kepemimpinan.
- Ketua PWNU DIY A. Zuhdi Muhdlor menilai forum tersebut sebagai bentuk kepedulian warga dan kalangan muda NU dalam memikirkan masa depan organisasi serta menjaga nilai-nilai yang menjadi dasar perjuangan NU.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Ratusan warga Nahdlatul Ulama (NU) menghadiri Musyawarah Besar (Mubes) Warga NU DIY bertajuk "NU Ora Didol: Meneguhkan Khittah NU untuk Kemandirian Nahdliyyin" yang digelar di Pesantren Bumi Cendekia, Yogyakarta, Minggu (31/5/2026).
Forum tersebut menegaskan pentingnya menjaga khitah NU, memperkuat kemandirian warga Nahdliyin, serta menyiapkan regenerasi kepemimpinan yang mampu menjawab tantangan zaman.
Mubes menjadi ruang konsolidasi dan refleksi warga Nahdliyyin terhadap berbagai dinamika yang berkembang di tubuh organisasi.
Tiga isu utama yang menjadi perhatian peserta adalah kepemimpinan, kemandirian organisasi, dan peran generasi muda dalam menentukan arah masa depan NU.
Ketua PWNU DIY, A. Zuhdi Muhdlor, menyambut baik pelaksanaan forum tersebut.
Menurutnya, inisiatif yang lahir dari warga dan kalangan kultural NU menunjukkan tingginya kepedulian terhadap keberlangsungan organisasi.
Ia menilai forum tersebut menjadi sarana penting bagi warga Nahdliyyin untuk menyampaikan gagasan dan masukan terkait perjalanan NU ke depan, terutama dalam menjaga implementasi khittah organisasi.
"Saya kira ini sesuatu yang bagus, karena menunjukkan kepedulian anak-anak muda dan teman-teman kultural untuk ikut memikirkan NU. Jadi NU tidak hanya dipikirkan oleh mereka yang berada di pusat, tetapi juga oleh warga di berbagai daerah," katanya.
Dalam forum tersebut, sejumlah peserta juga menyampaikan berbagai pandangan terkait kondisi internal organisasi.
Mereka menyoroti sejumlah polemik yang berkembang dalam beberapa waktu terakhir, mulai dari konflik internal di tingkat pengurus pusat hingga isu-isu lain yang dinilai perlu menjadi perhatian bersama demi menjaga marwah NU.
Dewan Penasihat Mubes sekaligus Guru Besar UIN Sunan Kalijaga, Muhammad Machasin, mengungkapkan bahwa forum musyawarah tersebut lahir dari kegelisahan sebagian warga NU terhadap situasi yang berkembang di tubuh organisasi.
"Kalau ditanya ada musyawarah besar, musyawarah kecil atau nggak? Atau musyawarahnya langsung besar dan diadakannya ini karena ada sesuatu yang mengusik kesadaran kita, rasa kita terganggu karena adanya, terus terang saja kita sebut, perselisihan antara syuriah dan tanfiziyah (PBNU)," kata Machasin.
Menurutnya, perselisihan tersebut tidak bisa dianggap sebagai persoalan biasa karena berpotensi memunculkan polarisasi di kalangan warga NU.
Sebab itu, ia menilai forum-forum musyawarah warga menjadi penting sebagai ruang komunikasi dan penyaluran aspirasi.
Machasin juga menyinggung pelaksanaan Muktamar NU yang dijadwalkan berlangsung pada Agustus mendatang. Ia berharap forum tertinggi organisasi tersebut dapat menjadi momentum untuk menyelesaikan berbagai persoalan internal dan memperkuat persatuan warga Nahdliyyin.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/mubes-nu-diy.jpg)