Tahun Baru Islam
Mengapa Muharram Identik dengan Anak Yatim? Ini Sejarah dan Tradisi yang Berkembang di Masyarakat
Muharram kerap dikaitkan dengan tradisi menyantuni anak yatim, terutama pada 10 Muharram atau Hari Asyura yang populer disebut Lebaran Anak Yatim.
Ringkasan Berita:
- Bulan Muharram kerap dikaitkan dengan tradisi menyantuni anak yatim, terutama pada 10 Muharram atau Hari Asyura yang populer disebut Lebaran Anak Yatim.
- Dalam ajaran Islam, anak yatim memiliki kedudukan istimewa sehingga umat dianjurkan untuk memuliakan, membantu, dan menjaga hak-hak mereka.
- Tradisi santunan anak yatim di bulan Muharram berkembang sebagai bentuk kepedulian sosial dan implementasi nilai-nilai kasih sayang yang diajarkan dalam Islam.
TRIBUNNEWS.COM - Momen pergantian Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriah segera tiba.
Bulan Muharram merupakan salah satu bulan yang dimuliakan dalam Islam.
Berdasarkan kalender Hijriah, 1 Muharram 1448 H diperkirakan jatuh pada 16 Juni 2026.
Selain menjadi penanda pergantian Tahun Baru Hijriah, Muharram juga kerap dikaitkan dengan tradisi menyantuni anak yatim yang telah lama berkembang di tengah masyarakat Indonesia.
Di berbagai daerah, tanggal 10 Muharram atau yang dikenal sebagai Hari Asyura sering diperingati dengan kegiatan santunan anak yatim.
Tradisi ini bahkan populer dengan sebutan "Lebaran Anak Yatim" atau "Idul Yatama".
Meski demikian, istilah tersebut merupakan tradisi yang tumbuh di masyarakat dan bukan hari raya yang secara khusus ditetapkan dalam syariat Islam.
Lantas, kenapa Muharram identik dengan anak yatim?
Sejarah dan Tradisi yang Berkembang di Masyarakat
Melansir laman Baznas, dalam ajaran Islam, anak yatim memiliki kedudukan yang istimewa.
Al-Qur'an maupun hadis banyak memuat anjuran untuk memperlakukan anak yatim dengan baik, menjaga hak-haknya, serta memberikan bantuan kepada mereka yang membutuhkan.
Baca juga: Menelusuri Jejak Rasulullah, 70 Anak Yatim Rasakan Safari Iman di Masjid Al Jabbar
Rasulullah SAW juga dikenal memberikan perhatian besar kepada anak yatim.
"Barangsiapa yang mengurus anak yatim milik orang muslim, dalam makanan dan minumannya, maka Allah akan memasukkannya ke dalam surga kecuali ia melakukan dosa yang tidak bisa diampuni." (HR. Bukhari dan Muslim)
Salah satu hadis yang diriwayatkan Imam Bukhari tersebut menyebutkan bahwa orang yang memelihara dan mengurus anak yatim akan memperoleh kedudukan yang dekat dengan Rasulullah SAW di surga.
Karena itu, banyak umat Islam menjadikan bulan Muharram sebagai momentum untuk meningkatkan kepedulian sosial melalui berbagai kegiatan berbagi.
Meski tidak terdapat dalil yang secara khusus menetapkan 10 Muharram sebagai Hari Raya Anak Yatim, para ulama umumnya menganjurkan umat Islam untuk memperbanyak amal saleh, bersedekah, dan membantu sesama pada bulan Muharram, termasuk kepada anak yatim dan kaum dhuafa.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/santunan-anak-yatim-di-gema-muharram_20220730_233935.jpg)