Senin, 8 Juni 2026

Rupiah Kian Loyo, Bimbim Slank Yakin Momen 1998 Tak Terulang Jika Kritik Tak Dibungkam

Drummer band Slank, Bimbim, merasakan dampak nyata dari depresiasi mata uang ini terhadap operasional band maupun kebutuhan rumah tangganya.

Tayang: | Diperbarui:
Editor: Willem Jonata
WartaKotalive.com
RUPIAH DROP - Bimbim Slank ketika ditemui di markas Potlot, Pancoran, Jakarta Selatan, Jumat (5/6/2026). Ia mengomentari kurs rupiah yang terus melemah dan diakuinya berdampak pada kehidupannya sebagai musisi sekaligus rumah tangganya. Ia harap pemerintah ambil tindakan konkret agar perekonomian membaik. 

Ringkasan Berita:
  • Rupiah tembus Rp 18 ribu, Bimbim Slank keluhkan harga alat musik impor yang meroket namun pastikan honor Slank tidak naik.
  • Bimbim Slank sebut kebebasan berekspresi bisa redam gejolak sosial di tengah sulitnya ekonomi akibat pelemahan nilai rupiah.
  • Bimbim berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret untuk memulihkan ekonomi agar stabilitas nasional tetap terjaga dan beban masyarakat tidak semakin berat.

 

TRIBUNNEWS.COM - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang kini menembus angka di atas Rp 18 ribu memicu kekhawatiran luas di berbagai sektor, tak terkecuali bagi industri musik. 

Drummer band legendaris Slank, Bimbim, merasakan dampak nyata dari depresiasi mata uang ini terhadap operasional band maupun kebutuhan rumah tangganya.

Baca juga: Rupiah Terpuruk di Level Rp18.000 per Dollar AS, Ekonom: Artinya Kita Ini Sedang Sakit

Ditemui di markas Slank, Potlot, Pancoran, Jakarta Selatan, Jumat (5/6/2026), Bimbim mengungkapkan bahwa hampir seluruh komponen penunjang profesinya sebagai musisi bergantung pada barang impor.

"Pasti semua kena dampak, termasuk alat musik. Senar, stick drum, dan kebutuhan lainnya yang impor semua naik harganya. Jadi ya, kita menjerit lah dolar naik," ujar pria bernama asli Bimo Setiawan Almachzumi ini.

Tidak hanya di sektor pekerjaan, Bimbim juga merasakan kenaikan harga barang kebutuhan pokok impor yang dikonsumsi keluarganya. Ia menilai, kondisi ini menunjukkan bahwa daya beli rupiah tengah melemah drastis.

"Anak-anak kan suka belanja bahan-bahan impor, begitu lihat harganya, ya terasa sekali kalau rupiah sedang tidak ada harganya," tambah pria berusia 59 tahun tersebut.

Meski terdampak secara ekonomi, Bimbim memastikan band Slank tidak akan menaikkan tarif honor mereka untuk pertunjukan off-air sebagai bentuk empati kepada penyelenggara acara. 

"Nggak mungkin menaikkan honor. Kasihan pihak yang ingin mengundang Slank," tegasnya.

Di tengah desas-desus mengenai potensi kerusuhan sosial serupa tahun 1998 akibat kondisi ekonomi yang sulit, Bimbim memberikan pandangan berbeda. 

Ia meyakini bahwa gejolak sosial dapat diredam selama pemerintah memberikan ruang bagi masyarakat untuk berekspresi.

"Selama seni, budaya, lagu, dan kebebasan berekspresi tidak dibungkam, saya rasa itu masih bisa menjadi katup penyeimbang untuk menenangkan masyarakat," jelas Bimbim.

Namun, ia mengingatkan pemerintah, bahwa jika ruang aspirasi masyarakat dibatasi dan musisi dilarang mengkritik melalui karya, maka potensi ledakan dinamika sosial akan semakin besar.

"Kalau dulu kami sampai menarik bendera setengah tiang karena merasa dibungkam. Tapi kalau sekarang, selama kami masih bisa mengkritik lewat karya dan tidak harus teriak-teriak di jalan, situasi masih terjaga. Tapi kalau dilarang dan dibungkam, mungkin bisa meledak," pungkas Bimbim.

Bimbim berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret untuk memulihkan ekonomi agar stabilitas nasional tetap terjaga dan beban masyarakat tidak semakin berat.

(Wartakotalive.com)

 

Sesuai Minatmu
Sumber: Warta Kota
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved