ASUS ExpertBook Ultra dan Masa Depan Keamanan Firmware di Era AI
Bagi banyak pekerja kantoran, perlindungan data di laptop biasanya identik dengan antivirus atau sistem keamanan pada software.
Parapuan.co - Bagi banyak pekerja kantoran, perlindungan data di laptop biasanya identik dengan antivirus atau sistem keamanan pada software.
Padahal, ancaman siber kini sudah berkembang dan mulai menyasar bagian perangkat yang jarang disadari pengguna, termasuk BIOS dan firmware.
Sebagai informasi, BIOS dan firmware bisa diibaratkan sebagai “sistem awal” yang membantu laptop bekerja saat pertama kali dinyalakan.
Karena menjadi bagian dasar perangkat, area ini juga berperan penting dalam menjalankan berbagai sistem di laptop.
Menurut Rifan Fernando, Field Application Engineer Lead ASUS Indonesia, bagian tersebut kini mulai menjadi sasaran serangan karena laptop kerja semakin sering digunakan untuk mengakses data dan sistem penting perusahaan.
“Laptop kerja sekarang tidak lagi hanya dipakai untuk mengetik dokumen atau meeting online. Banyak perusahaan mulai mengandalkan perangkat kerja untuk mengakses data penting hingga menjalankan sistem berbasis AI,” jelas Rifan.
Karena itu, keamanan perangkat kerja kini menjadi perhatian yang semakin penting bagi perusahaan.
Namun, menurut Rifan, banyak perusahaan masih lebih fokus melindungi sistem operasi atau antivirus dibanding bagian dasar perangkat seperti firmware.
“Banyak organisasi fokus melindungi operating system, tetapi lupa bahwa firmware adalah fondasi utama perangkat komputasi,” ujarnya.
Menurutnya, ketika BIOS atau firmware berhasil disusupi, pelaku bahkan bisa mendapatkan akses sebelum sistem operasi berjalan.
Rifan menjelaskan, serangan yang menyasar firmware juga bisa lebih sulit ditangani dibanding malware biasa.
Sebab, serangan tersebut dapat tetap bertahan meski sistem operasi sudah diinstal ulang atau media penyimpanan diganti.
“Kalau fondasi perangkat tidak aman, maka perlindungan software di atasnya juga menjadi kurang efektif,” tambahnya.
ASUS Hadirkan BIOS Recovery untuk Tambahan Proteksi
Melihat perubahan ancaman tersebut, ASUS menghadirkan pendekatan keamanan berlapis melalui platform ASUS ExpertGuardian yang diterapkan pada ASUS ExpertBook Ultra.
Salah satu fitur yang dihadirkan adalah ASUS BIOS Recovery yang dirancang untuk membantu memulihkan sistem ketika terjadi kerusakan BIOS.
Menurut Rifan, kerusakan BIOS bisa memicu gangguan operasional hingga menghambat produktivitas kerja.
“Banyak orang menganggap BIOS corruption hanya masalah teknis biasa,” katanya.
Padahal, menurut Rifan, kerusakan firmware dapat menyebabkan downtime besar dan berdampak pada aktivitas perusahaan.
“Kalau perangkat utama bermasalah, aktivitas kerja juga bisa ikut terganggu,” kata Rifan.
Rifan menjelaskan, ASUS BIOS Recovery dirancang untuk mendeteksi kerusakan BIOS saat laptop mulai dinyalakan.
Jika sistem menemukan indikasi kerusakan, perangkat dapat melakukan pemulihan menggunakan cadangan sistem yang tersimpan secara aman.
Teknologi tersebut juga dirancang untuk membantu mendeteksi perubahan sistem yang mencurigakan pada perangkat.
ASUS turut menyertakan mekanisme cadangan berbasis hardware melalui ASUS SPU Security Processor agar proses pemulihan tidak mudah dimanipulasi pihak tidak bertanggung jawab.
“Recovery system juga harus aman,” ujar Rifan.
Menurutnya, jika cadangan firmware dapat dimodifikasi, maka proses pemulihan sistem menjadi tidak lagi efektif.
ASUS ExpertGuardian pada ExpertBook Ultra menghadirkan berbagai fitur perlindungan perangkat dan keamanan data untuk kebutuhan kerja modern. (DOK. ASUS)
Rifan menilai, teknologi pemulihan BIOS otomatis akan semakin dibutuhkan di masa mendatang, terutama ketika penggunaan AI mulai meningkatkan kompleksitas ancaman digital.
Selain menghadirkan fitur perlindungan perangkat, ASUS juga menghadirkan dukungan pembaruan keamanan jangka panjang pada ExpertBook Ultra.
ExpertBook Ultra hadir dengan dukungan hingga lima tahun security updates, sesuatu yang menurut Rifan masih sering diabaikan pada laptop premium.
“Enterprise membutuhkan stabilitas dan lifecycle yang panjang. Laptop bisnis bukan perangkat yang diganti setiap tahun,” tambahnya.
Selain menghadirkan BIOS Recovery, ASUS ExpertBook Ultra juga membawa sejumlah fitur keamanan lain seperti dukungan Microsoft Secured-core PC, Intel vPro Platform, TPM 2.0, hingga perlindungan firmware sesuai standar keamanan NIST SP 800-193.
ASUS juga menyematkan fitur seperti fingerprint sensor, webcam privacy shield, secure file shredder, hingga Opal 2.0 SED SSD untuk membantu menjaga keamanan data pengguna.
Menurut Rifan, pendekatan tersebut sejalan dengan tren Zero Trust Architecture yang mulai diterapkan banyak perusahaan global.
“Sekarang perangkat tidak boleh langsung dipercaya hanya karena berada di jaringan internal perusahaan,” jelasnya.
Karena itu, menurut Rifan, setiap perangkat perlu terus dipastikan keamanannya sebelum digunakan untuk mengakses sistem perusahaan.
Selain keamanan, ASUS ExpertBook Ultra juga dirancang untuk mendukung kebutuhan kerja modern dengan desain ringan, layar OLED, dukungan Wi-Fi 7, serta kemampuan AI melalui NPU hingga 50 TOPS.
Di tengah aktivitas kerja yang kini semakin bergantung pada perangkat digital, keamanan laptop menjadi hal yang semakin diperhatikan perusahaan.
Bukan hanya untuk mendukung pekerjaan sehari-hari, tetapi juga membantu menjaga data dan sistem penting tetap aman.
“Ke depan, laptop enterprise bukan hanya soal performa cepat atau desain tipis. Yang paling penting adalah bagaimana perangkat bisa tetap aman dan siap menghadapi ancaman digital yang terus berkembang,” tutup Rifan.

:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/asus-bios-recovery.jpg)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.