Kamis, 9 April 2026

Calon Presiden 2014

Pengamat: Presiden Terpilih Jangan Kembali ke Era Otoriter

Mayoritas rakyat Indonesia saat ini sudah sadar telah mengalami pengalaman buruk dengan sistem otoriter di Orde Baru.

Editor: Hasanudin Aco
Tribunnews/Dany Permana
Calon presiden nomor urut 1, Prabowo Subianto memaparkan pandangannya dalam acara Dialog Kebudayaan dengan Capres-Cawapres RI 2014 , di Gedung Teater Besar, Taman Ismail Marzuki (TIM), Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (28/6/2014). Dalam kesempatan tersebut Prabowo diuji tentang bagaimana menyiapkan strategi kebudayaan ke depan untuk menghadapi tantangan zaman atau peradaban yang kian sulit dan rumit. (TRIBUNNEWS/DANY PERMANA) 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA -  Presiden RI periode 2014-2019 harus bisa meningkatkan kualitas demokrasi di Indonesia yang sudah dibangun dengan baik oleh Presiden SBY.

Adalah sebuah bencana bila demokrasi yang sudah dipertahankan oleh SBY selama dua periode, harus dimundurkan oleh pemimpin mendatang yang ingin mengembalikan sistem demokrasi ala Orde Baru.

Menurut Pengamat Politik dari Universitas Nusa Cendana Kupang, Rudi Rohi, sistem demokrasi di Indonesia baru tumbuh.

Karenanya, setiap rejim yang terbentuk harus menggerakkan demokrasi ke kualitas lebih baik.

Sebab demokrasi bukan sistem yang bisa langsung maksimal begitu diterapkan, namun harus ada pembiasaan terhadap nilai-nilainya atau disebut institusionalisasi.

"Ke depan, siapapun yang terpilih harus justru membuat kualitas demokrasi lebih baik, dimana intitusionalisasi itu harus terkonsolidasi.

Presiden terpilih, siapapun itu, harus bergerak lebih maju dari apa yang sudah dilakukan rejim SBY yang mempertahankan demokrasi," tegas Rudi Rohi ketika dikonfirmasi dari Jakarta, Rabu (2/7/2014).

Apabila demokrasi dimundurkan, semisal kembali ke model otoriter seperti yag dipraktikkan oleh rejim Orde Baru, jelas akan menimbulkan bencana.

Sebab mayoritas rakyat Indonesia saat ini sudah sadar telah mengalami pengalaman buruk dengan sistem otoriter di Orde Baru.

Dimana kemiskinan dirasakan puluhan tahun, penindasan di daerah, dan individu dimarginalkan tak bisa bersuara. Yang ada, kelompok tertentu menguaasi dan merampok atas nama negara.

"Sekarang kita sadar setiap satu suara pun penting menyuarakan aspirasinya.

Kalau kita memaksakan otoritarianisme, negara ini akan pecah. Karena banyak daerah yang sudah merasakan buruknya otoritarianisme dan pasti melawan," tandasnya.

Pernyataan Rudi itu menanggapi tulisan Peneliti Politik yang berbasis di Australian National University, Profesor Edward Aspinall dan Dr.Marcus Mietzner.

Keduanya menilai capres nomor urut 1, Prabowo Subianto, sudah memberikan indikasi yang sangat jelas bahwa ia ingin mengembalikan format politik Indonesia ke sistem otoriter – antara lain, dengan menghapus pemilihan langsung.

Hal itu didasarkan orasi Prabowo dalam salah satu acara di Taman Ismail Marzuki Jakarta, Sabtu (28/6/2014).

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved