Minggu, 19 April 2026

Calon Presiden 2014

Pengamat: Presiden Terpilih Jangan Kembali ke Era Otoriter

Mayoritas rakyat Indonesia saat ini sudah sadar telah mengalami pengalaman buruk dengan sistem otoriter di Orde Baru.

Editor: Hasanudin Aco
Tribunnews/Dany Permana
Calon presiden nomor urut 1, Prabowo Subianto memaparkan pandangannya dalam acara Dialog Kebudayaan dengan Capres-Cawapres RI 2014 , di Gedung Teater Besar, Taman Ismail Marzuki (TIM), Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (28/6/2014). Dalam kesempatan tersebut Prabowo diuji tentang bagaimana menyiapkan strategi kebudayaan ke depan untuk menghadapi tantangan zaman atau peradaban yang kian sulit dan rumit. (TRIBUNNEWS/DANY PERMANA) 

Prabowo menyatakan bahwa pemilihan langsung tidak sesuai dengan budaya bangsa Indonesia dan memberi sinyal kuat bahwa dia ingin melenyapkan praktek itu.

Baik Aspinall dan Mietzer sepakat berasumsi apa yang ada dibenak Prabowo bukan hanya penghapusan pemilu kepala daerah, tetapi juga kembali kepada pemilihan tidak langsung Presiden melalui MPR, proses yang digunakan Suharto yang pada masa lalu, dan akan selalu, yang terbuka untuk manipulasi dan politik patronase.

Menurut Rudi Rohi, wajar bila para pemikir demokrasi yang sudah optimis selama dua periode kepemimpinan SBY menjadi khawatir.

Sebab mengembalikan ke praktik otoriter ala Orba akan memutus mata rantai hubungan rakyat dengan pemimpinnya.

"Karena belum ditemukan model lebih baik sebagai pengganti demokrasi.

Makanya sederhana, apapun sebutannya, kalau hubungan rakyat dan calon pemimpin diputus mata rantainya, sejak saat itulah demokrasi itu mati, sejak saat itu legitimasi kedaulatan pemerintahan sudah tak ada," jelasnya.

"Maka bahaya, kalau misalnya salah satu calon presiden itu benar-benar melaksanakan niat kembali ke sistem ooriter ala Orba. Ini warning bagi semua."

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved