Hari Parkinson Dunia Jadi Pengingat Pentingnya Menjaga Kesehatan Otak Sejak Muda
Peringatan World Parkinson’s Day setiap 11 April menjadi pengingat penting akan bahaya Parkinson’s Disease yang terus meningkat secara global
Ringkasan Berita:
- Parkinson’s Disease adalah penyakit progresif akibat kerusakan neuron penghasil dopamin yang memicu gangguan gerak seperti tremor, kekakuan, dan keseimbangan.
- Jumlah penderita terus meningkat signifikan secara global dan diperkirakan mencapai lebih dari 25 juta pada 2050.
- Peringatan World Parkinson’s Day menekankan pentingnya menjaga kesehatan otak sejak dini melalui latihan mental dan gaya hidup seimbang.
TRIBUNNEWS.COM - Setiap tanggal 11 April, dunia memperingati World Parkinson’s Day atau Hari Parkinson Dunia, sebuah momen untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap penyakit yang menggerogoti sistem saraf secara perlahan ini.
Parkinson adalah penyakit neurodegeneratif yang terjadi ketika neuron di otak rusak dan mati, menyebabkan kadar dopamin menurun.
Dopamin berperan sebagai pengirim pesan antar sel saraf yang mengatur gerak tubuh.
Saat kadarnya rendah, kemampuan tubuh untuk bergerak terganggu, itulah mengapa tremor menjadi gejala paling awal yang khas pada penderita Parkinson.
Angkanya pun mengkhawatirkan.
Berdasarkan data Global Burden of Disease 2021, sekitar 10–11,77 juta orang di dunia hidup dengan Parkinson, meningkat 274 persen dibanding tahun 1990.
Bahkan diproyeksikan akan mencapai 25,2 juta penderita pada 2050, menjadikannya penyakit neurologis yang paling cepat pertumbuhannya di dunia.
Parkinson memang identik dengan usia lanjut. Namun kesadaran tentangnya perlu dibangun sejak muda, karena memahami penyakit ini adalah langkah pertama menjaga kualitas hidup di masa depan.
Sosok di Balik Tanggal 11 April
Penetapan 11 April sebagai Hari Parkinson Dunia bukan tanpa alasan.
Tanggal itu adalah hari lahir Dr. James Parkinson, dokter asal London yang untuk pertama kalinya mendeskripsikan penyakit ini sebagai satu kesatuan kondisi medis.
Hari Parkinson Dunia sendiri pertama kali diperingati pada 1997, digagas oleh European Parkinson’s Disease Association (EPDA) dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Pada tahun 1817, Parkinson menerbitkan sebuah esai monograf setebal 66 halaman berjudul An Essay on the Shaking Palsy.
Di dalamnya, ia mendeskripsikan kondisi yang ia definisikan sebagai “involuntary tremulous motion, with lessened voluntary power”, gerakan gemetar tidak disengaja yang disertai melemahnya kemampuan gerak. Yang menarik, tidak semua pengamatannya dilakukan di klinik. Dua dari enam kasusnya ia temukan secara kebetulan di jalanan kota London, menjadikannya salah satu pelopor field neurology.
Sebelum esai ini lahir, gejala-gejala seperti tremor dan gangguan gaya berjalan dianggap sebagai kondisi yang berdiri sendiri. Parkinson-lah yang pertama menyatukannya menjadi satu sindrom. Sebagai penghormatan, dokter Prancis Jean-Martin Charcot kemudian memberi nama penyakit ini “Parkinson’s Disease”, nama yang hingga kini dunia kenal.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Parkinson-Day.jpg)