Breaking News:

Berprestasi di Tengah Pandemi, Unair Berhasil Masuk 465 Kampus Terbaik Dunia

Menginjak usia 67 tahun di tengah pandemi Covid-19 tak menyurutkan langkah Universitas Airlangga (Unair) mengukir prestasi.

dok. Situs Unair
Universitas Airlangga (Unair). 

TRIBUNNEWS.COM - Menginjak usia 67 tahun di tengah pandemi Covid-19 tak menyurutkan langkah Universitas Airlangga (Unair) mengukir prestasi. Deretan prestasi yang diraih Unair membuktikan kampus di Kota Pahlawan ini memiliki kualitas tingkat dunia.

Rektor Unair, Mohammad Nasih, mengungkapkan pandemi membawa hikmah bagi Unair dengan perolehan peringkat yang semakin baik di tingkat internasional.

Salah satunya yaitu peringkat dari lembaga pemeringkatan dunia Quacquarelli Symonds (QS) yang resmi mengumumkan World University Rankings (QS WUR) untuk universitas terbaik di dunia pada Juni 2021. Pada lembaga pemeringkatan bergengsi tersebut, Unair berhasil menduduki peringkat ke-465.

“Prestasi ini bukan hanya kerja keras rektor semata, tetapi semua komponen civitas akademik, stakeholder dan media. Kolaborasi dan networking ini membuat Unair mendapat beberapa prestasi,” urainya.

Meskipun hanya angka, menurut Nasih, sapaan karibnya rektor Unair, peringkat ini menunjukkan reputasi akademik Unair berada dalam posisi yang baik.

Prestasi ini merupakan buah dari bergeraknya semua komponen universitas, mulai dari tenaga pendidikan, dosen, pengelola, mahasiswa hingga alumni.

“Mereka kami dorong untuk bergerak sehingga tidak ada warga kampus yang tidak berkontribusi. Unair ini masuk kategori gajah, jadi kami berupaya membangunkan seluruh komponen ini untuk bersama membangun prestasi,” jelas Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis ini.

Selain mengikuti pemeringkatan QS WUR, pihaknya juga akan mengikuti berbagai pemeringkatan dunia yang lainnya. Salah satu yang paling penting, Unair akhirnya sudah boleh mengikuti Times Higher Education World University Rankings karena jumlah penelitian sudah mencukupi.

Pada pemeringkatan ini, Unair berhasil masuk jajaran group rangking 4 sebagai kampus terbaik di Indonesia menurut pemeringkatan yang dilakukan oleh Times Higher Education World University Rankings 2022.

Pemeringkatan ini diikuti oleh 1.662 universitas dari 99 negara di dunia dan resmi dirilis melalui laman THE WUR pada Agustus 2021.

Nasih juga menegaskan bahwa peringkat baik bukanlah tujuan utama. Proses dan seluruh usaha dalam melakukan perbaikan pada setiap sektor adalah yang menjadi landasan utama untuk terus bergerak maju untuk menjadi kampus yang unggul dan diakui dunia.

“Dengan langkah dan upaya ini kami tentu berharap bahwa Unair bisa dan mampu menjadi SMART University. Sustainable Education for All, Meaningful Research and Community Services, Advancing Innovation, Enterprising and Industry Linkages, Responsive adnd Lean Management, Topping Up Resources Utilization,”  ujarnya.

Sebagai lembaga pelayanan publik, Unair juga meraih penghargaan dari  Komisi Informasi Pusat (KIP) sebagai Badan Publik Informatif Kategori Perguruan Tinggi Negeri. Unair memperoleh peringkat satu dengan skor nyaris sempurna yaitu 99,10.

“Dalam aspek keterbukaan, kami memikiki lompatan yang luar biasa. Tahun lalu kami masuk kategori cukup informatuf, dan tahun ini kami masuk posisi informatif dan masuk skor teratas dalam capaian badan publik dalam kategori ini,” urainya.

 Samakan Kualitas dengan Perguruan Tinggi di Dunia

Dengan beragam prestasi yang diraih Unair di tingkat internasional, dikatakan Nasih menjadi pembuktian bahwa kualitas Unair tidak kalah dengan universitas lain di tingkat Asia ataupun Dunia.

“Kami semua tahu Indonesia ini market, artinya pasarnya di Indonesia sehingga dengan meningkatnya kualitas pendidikan di Unair tentunya kami beharap Unair akan bisa mendapat bibit yang lebih baik lagi,” tegasnya.

Terkait bagaimana upaya Unair mendapat mahasiswa asing dikatakanya bukan merupakan  prioritas Unair. Karena daya tampung Unair yang terbatas dan masih menjadi rujukan mahasiswa Indonesia. Sementara mahasiswa asing masih didominasi dari negara Asia Tengah dan Afrika.

“Masih ada 70 persen lulusan SMA/SMK yang belum kuliah. Kami tidak bisa menambah kapasitas buat mahasiswa asing karena kapasitas kami terbatas,” ujarnya.

Dengan prestasi ini, harapannya mahasiswa Indonesia saat ini cukup belajar di Indonesia saja. karena kualitas dan Kerjasama anatar universitas dari negara maju sudah cukup besar. Apalagi Unair juga membuka kesempatan double degree.

Dengan peringkat Unair di tingkat dunia saat ini justru meningkatkan tawaran kerjasama riset dan publikasi dari universitas di luar negeri.

Memasuki Revolusi 4.0, Kembangkan Platform AI

Unair telah mempersiapkan berbagai skema pembelajaran berbasis digital untuk menghadapi revolusi 4.0. Salah satunya dengan menyiapkan Airlangga University Learning Application (AULA) yang merupakan salah satu sistem yang dimiliki Unair dalam menunjang pembelajaran

Hal itu dilakukan, mengingat sistem e-learning yang telah menjadikan dunia pendidikan bertransformasi dalam perkembangan teknologi saat ini.

Nasih menegaskan, platform ini mulai dikembangkan untuk meningkatkan interaksi antar dosen dan mahasiswa. Apalagi sejak pandemi, interaksi dalam pembelajaran semakin sulit antar mahasiswa dan dosen.

“Kami juga sudah mengembangkan dry laboratory untuk digitalisasi labotatorium. Jadi nanti mengurangi penggunaan bahan kimia di laboratorium. serta penerapan AI dalam pengembangan pembelajaran,” lanjutnya.

Namun, penerapan inovasi pembelajaran digital ini juga masih dilihan berdasarkan subjek pembelajaran. Pasalnya ada beberapa subjek yang tetap tidak bisa digantikan secara digital.

“Ada beberapa subjek di bidang eksaks dan bidang sosial yang pengembangan materinya agak sulit untuk digitalisasi,” lanjutnya.

Targetkan Lulusan Handal dan Kreatif Untuk Bantu Percepatan Ekonomi di Era Pandemi

Sesuai dengan fungsi perguruan tinggi, Unair berkomitmen menyiapkan lulusan yang lebih handal dan kreatif agar bisa bertahan di masa pandemi.

“Termasuk menghasilkan entrepreuner muda sehingga tidak menunggu lowongan menjadi PNS,” tegasnya

Nasih mengatakan, lulusan Unair dibentuk untuk bisa hadir untuk bangsa dan terus belajar demi kemaslahatan umat manusia.

“Kami berkomitmen menghasilkan lulusan yang responsif people, harus ada untuk sesama manusia, bangsa, dan semuanya. Harus menjadi inovatif people untuk bisa memberikan kontribusi bagi seluruh umat manusia,” terangnya.

Vaksin: Tunggu Produksi Pilot Project Vaksin Merah Putih*

Unair telah menyerahkan seed Vaksin Merah Putih secara seremonial kepada PT Biotis Phrmaceuticals Indonesia dalam Sidang Senat dalam rangka memperingati Dies Natalis ke-67 Unair pada 9 November 2021.

"Karena sheet vaksin sudah kami sampaikan ke PT Biotis. Tahap berikutnya adalah produksi dalam skala piloting.  Karena untuk disuntikkan ke manusia itu harus ada proses produksi yang diproses dalam sebuah industri memenuhi CPOB (Cara Pembuatan Obat yang Baik)," ujar Mohammad Nasih.

Sehingga tahapan pengembangan Vaksin Merah Putih kini dilanjutkan oleh PT Biotis. Artinya tugas Unair sampai sejauh ini relatif sukses.  

"Langkah selanjutnya dari RSUD Dr Soetomo yang akan melakukan uji klinis. Pengujian pre klinis tahap 2 pada Makaka (hewan uji) sudah dilakukan di berbagai kelompok. Mulai manula, senior, remaja, hamil dan yang masih anak-anak," urainya

Hasilnya, menunjukkan vaksin ini terbukti sangat aman. Namun, ada beberapa temuan berkaitan dengan Makaka yang kormobid. Sehingga vaksin ini tidak dianjurkan untuk digunakan menyandang kormobid.  

"Dari hasilnya di Makaka, dalam kategori formula yang digunakan 93,8 persen. Tentu dengan proses lanjutan dengan  optimalisasi dan formulasi yang lebih baik. Dan proses produksi industri piloting yang lebih baik lagi," tegasnya 

Iapun berharap, hasil uji klinis akan bisa mencapai lebih tinggi dari 93,8 persen. Kemudian tinggal menunggu izin BPOM untuk uji klinis, yang datanya sudah di submit dan sedang proses penilaian. 

"Pihak rumah sakit juga sudah menerbitkan woro-woro untuk relawan yg bersedia ikut uji klinis. Sehingga jika ada anggota masyarakat yang belum vaksin dan menunggu Merah Putih segera mendaftar di website yang telah diumumkan RSUD Dr Soetomo yang merupakan leading sektor uji klinik tahap 1, 2 maupun 3," urainya.

Vaksin Merah Putih yang tengah dikembangkan oleh tim peneliti Unair akan difungsikan sebagai booster, atau vaksin dosis ketiga, pada 2022 mendatang. Meskipun sudah menjadi booster, tetapi menurut Nasih pembiasaan menggunakan masker tidak dapat ditinggalkan.

“Pandemi ini memang butuh perlindungan, dan menggunakan masker ini hal yang biasa. Saya pikir meskipun sudah booster, pembiasaan masker akan menjadi hal baru dalam pembiasaan normal. Masker bukan hanya Covid-19 tapi juga polusi udara di Indonesia. Mungkin ke depan masker sudah tidak tebal, tapi tentu masih butuh, kecuali kekebalan sudah terbukti sudah terbentuk secara luar biasa,” urainya.

Dikatakan Nasih, sejak awal riset Vaksin Merah Putih juga telah didaftarkan pada WHO. Namun, untuk masuk ke tahap di terima pihak WHO dan negara-negara lain membutuhkan waktu.

“Jika nanti PT Biotis bisa memproduksi dan hasil uji klinik sesuai uji pre klinis dengan hasil 93 persen. Maka kami yakin mendapat izin dari WHO juga. Tentunya tidak mudah dan prosesnya cukup Panjang,” lanjutnya.

Untuk itu, saat ini, Vaksin Merah Putih masih fokus pada pengembangan di Indonesia. Jika sudah berhasil maka bisa bekerja sama dengan pihak lain di luar negeri. Paling tidak dalam hal publikasi harus ditingkatkan.    

Admin: Sponsored Content
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved