Kurikulum Merdeka
Kunci Jawaban PKN Kelas 9 Halaman 128 Buku Pendidikan Pancasila: Bahasa Ibu yang Dirindu
Kunci jawaban PKN kelas 9 SMP/MTs halaman 128 Pendidikan Pancasila Kurikulum Merdeka, Ayo, Menganalisis tentang berita Bahasa Ibu yang Dirindu.
TRIBUNNEWS.COM - Sejumlah soal terdapat pada buku mata pelajaran PKN atau Pendidikan Pancasila kelas 9 SMP/MTs Kurikulum Merdeka.
Termasuk pada halaman 128 Bab 4 Menjaga dan Melestarikan Tradisi, Kearifan Lokal, serta Budaya dalam Masyarakat Global.
Dalam buku Pendidikan Pancasila untuk SMP/MTs Kelas IX yang diterbitkan Kemdikbudristek tahun 2021 dan karangan Yudha Dana Prahara dkk, siswa kelas 9 diminta menjawab 4 soal pada bagian Ayo, Menganalisis.
Mulanya, para siswa diminta membaca berita yang berjudul Bahasa Ibu yang Dirindu. Lalu, ada 4 soal yang wajib dijawab berdasarkan bacaan tersebut.
Salah satu yang muncul adalah: Berdasarkan berita di atas, apa saja tantangan melestarikan bahasa ibu/daerah bagi masyarakat yang tinggal di wilayah perkotaan?
Jika siswa kelas 9 SMP/MTs kesulitan menjawab pertanyaan tersebut dan 3 soal lainnya, dapat menggunakan kunci jawaban di bawah ini sebagai referensi.
Inilah kunci jawaban PKN kelas 9 SMP/MTs halaman 128 Pendidikan Pancasila Kurikulum Merdeka bagian Ayo, Menganalisis:
Kunci Jawaban PKN Kelas 9 Halaman 128 Kurikulum Merdeka
Bahasa Ibu yang Dirindu
Oleh: Wisnu Dewabrata, Nawa Tunggal, dan Fransisca Romana Ninik
Sejumlah keluarga meyakini bahwa keterampilan berbahasa daerah meletakkan fondasi yang kuat dalam pergaulan anak-anak mereka di tahap selanjutnya. Kecakapan itu dinilai mendukung masa depan sang anak.
Mellani (39), warga Jakarta keturunan Minang, mengajarkan bahasa Minang kepada anaknya melalui percakapan sehari-hari. "Aku dan suami masih bisa bicara bahasa Minang. Aku sampai SMA masih di kampung yang masih menuturkan bahasa Minang dalam keseharian. Suamiku, meskipun besar di Riau, keluarganya masih berbahasa Minang. Sejak menikah sampai sekarang mempunyai anak, kami bicara bahasa Minang di rumah," tuturnya. Putranya, Hudzaifah (11), kini cukup lancar berbahasa Minang meskipun masih ada kata atau kalimat yang belum dia pahami. Dia kadang menyeletuk atau berkomentar secara spontan memakai bahasa Minang.
Baca juga: Kunci Jawaban PKN Kelas 9 Halaman 121, 122: Komitmen Menjaga dan Melestarikan Tradisi
Dengan terampil berbahasa daerah, pergaulan si anak makin luas. Misalnya saat berada di kampung halaman, berkumpul bersama keluarga besar, atau kelak ketika si anak hidup merantau.
Ini pula yang dipegang Lenti Sitorus (45), warga Jakarta keturunan Batak. "Dari dulu, aku sudah bercita-cita ingin menikah dengan orang Batak asli dari kampung supaya identitas sebagai orang Batak enggak hilang. Memang bahasa Batak yang kami pakai sekarang masih kategori pasif, tetapi asal sama-sama dipahami," katanya.
Sementara sutradara film Nia Dinata malah mengenal bahasa Jawa dari putra bungsunya, Gibran Papadimitriou (18). Sebagai keturunan Sunda-Minang, Nia paham kedua bahasa daerah itu, tetapi tidak demikian dengan bahasa Jawa. "Darah Jawa saya cuma seperempat, dari nenek buyut saya yang asli Yogyakarta," ujarnya sambil tertawa.
Gibran lahir dan besar di Jakarta. Ayahnya keturunan Yunani-Indonesia. Gibran kecil rupanya tertarik dengan dunia wayang. Dia belajar mendalang pada usia 11 tahun dan kini menjadi dalang. Dia fasih berbahasa Jawa kromo atau halus. Nia menuturkan, di rumah,
anaknya sering berbahasa Jawa halus, baik untuk meminta maupun mengekspresikan sesuatu. Sekarang, Gibran tengah kuliah di Yogyakarta.
"Kami tidak melarang, bahkan mendukung dia. Dari menunggui Gibran belajar mendalang, saya jadi tahu ada bahasa Jawa kromo, Jawa ngoko. Tetapi kalau dia sudah ngomong bahasa Jawa kromo, saya minta, tolong dong, terjemahkan," kata Nia.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/SISWA-SMP-BELAJAR-04.jpg)