Ramadan 2016
Roti Cokelat Bertabur Wijen Selalu Jadi Rebutan Jelang Ramadan, Ini Pesan Tersiratnya
Nama aslinya adalah roti gambang, karena bentuknya yang mirip dengan alat musik gambang, tapi masyarakat Semarang lebih suka dengan nama ganjel rel.
Editor:
Anita K Wardhani
Pada Ramadan 2016, untuk pembuatan kue ganjel rel, Takmir Masjid Agung sebagai pelaksana Dugderan mempercayakan kepada Faishal Aushafi (24). Proses pembuatannya berlangsung di Jalan Giri Mukti No 3 RT 01/RW 23, Perumahan Graha Mukti, Kelurahan Tlogosari Kulon, Kecamatan Pedurungan, Kota Semarang.
"Awalnya ayah saya yang bernama Masjuki yang ditunjuk oleh takmir masjid untuk membuat kue ganjelrel pada 2009. Sekarang, kami yang meneruskannya," ujar Faishal kepada Tribun Jateng, Jumat (3/6).
Ternyata, kue ganjel rel sudah mengalami perubahan. Resepnya menyesuaian selera masa kini, lebih halus dan lunak.
"Kue ganjel rel ini sudah banyak perubahan, terutama dari sisi tekstur roti. Sebelumnya ganjelrel ini terkenal seret saat ditelan dan teksturnya kasar. Sekarang tekstur ganjelrel lebih halus, sehingga lebih enak dimakan," papar Faishal.
Sepertinya ada pesan tersirat jika menyimak roti ganjel dan sejarahnya.
Roti dengan khas keras dan alot, layak sebagai simbol gigihnya perjuangan generasi zaman dulu dalam segala hal, baik terhadap penjajah, tabah daat menjalankan ibadah puasa, dan lainnya.
Jika sekarang roti ini disesuaikan selera zaman, lebih lunak dan halus, moga bukan berarti generasi kekinian lebih “lunak” dalam menyikapi zaman. (*)