Kamis, 9 April 2026

Ramadan 2026

3 Teks Khutbah Jumat Awal Ramadhan 2026 dengan Berbagai Tema dan Judul

Inilah teks khutbah Jumat awal Ramadhan 2026 dengan berbagai tema yang dapat disampaikan pada Jumat (20/2/2026) hari ini.

Penulis: Sri Juliati
Editor: Suci BangunDS
TRIBUN JABAR/GANI KURNIAWAN
KHUTBAH JUMAT - Seorang jemaah mengenakan masker berdoa seusai melaksanakan salat jumat berjamaah di Masjid Pusdai Jabar, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Jumat (20/3/2020). Inilah teks khutbah Jumat awal Ramadhan 2026 dengan berbagai tema yang dapat disampaikan pada Jumat (20/2/2026) hari ini. 

Belum lagi kemanfaatan di akhirat berupa penghapusan dosa, diselamatkan dari setan dan neraka dan puasanya akan memberikan syafaat bagi dirinya serta akan menempati surga Ar-Rayyan yang merupakan surga khusus bagi mereka yang berpuasa.

Sisi kemanusiaan yang ketiga terdapat pada tujuan berpuasa yang berbunyi: "La'allakum tattakun". Tujuan takwa ini adalah tujuan semua ibadah dalam Islam, yaitu berada dalam lingkaran ketakwaan kepada Allah dengan misi utama menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangannya. 

Imam Ali bin Abi Thalib r.a. menyatakan bahwa takwa yang identifikasinya menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan tersebut merupakan ciri yang utama bagi mereka yang bertakwa. 

Masih banyak ciri yang lain menurutnya, di antaranya: 

  • menjalankan semua yang terdapat dalam Al-Qur'an 
  • takut kepada Allah  jika sampai menjalankan yang dilarang. 
  • rida atau kanaah dengan apapun yang telah ditakdirkan oleh Allah 
  • mempersiapkan kehidupan akhirat 

Semua idenfikasi takwa ini adalah identifikasi untuk manusia yang akan memuliakan kehidupan dunia untuk keselamatan akhiratnya.

Sisi kemanusiaan yang keempat terdapat pada penentuan awal puasa yang sepenuhnya harus dilakukan oleh manusia, melalui firman Allah Swt.

Penentuan awal Ramadan yang menggunakan dua metode yaitu hisab (perhitungan kalender hijriah) dan rukyat (melihat bulan) merupakan penentuan yang melibatkan aktivitas manusia dengan ilmu pengetahuan yang terus berkembang. 

Dengan adanya kewajiban untuk menentukan awal Ramadan tersebut, bukan saja menjadikan kaum muslimin berinteraksi secara mendalam dengan ilmu pengetahuan, melainkan lebih jauh lagi mendapatkan makna kebesaran Allah Swt di dalam proses penentuan tersebut. 

Penentuan ini menjadi menarik dalam konteks Indonesia, karena antara metode hisab dan rukyat dalam kenyataannya bisa menghasilkan penentuan hari awal Ramadan yang sama maupun berbeda. 

Dan persamaan maupun perbedaan tersebut, semakin mendewasakan kehidupan keberagamaan bagi semua kalangan kaum muslim di Indonesia, bukan hanya tentang awal Ramadan, akan tetapi juga masalah-masalah lain yang diniscayakan terdapat perbedaan-perbedaannya.

Sisi kemanusiaan yang keempat, pada potongan ayat  وَمَن كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ

Ayat ini sangat humanis, karena kendatipun puasa itu bersifat wajib bagi seorang muslim yang sudah balig, akan tetapi Allah Swt masih mempertimbangkan sisi kemanusiaan dimana Allah Swt memberikan keringanan kepada manusia jika mereka sakit atau bepergian di bulan puasa. 

Penekanan sisi pengecualian seperti inilah yang semakin menunjukkan kebenaran Al-Qur'an sebagai wahyu Allah Swt kepada manusia dengan mempertimbangkan secara detail akan sisi-sisi lain yang kadang tidak terpikirkan oleh manusia sendiri. 

Dengan kata lain, Allah telah mengetahui secara detail berbagai pengecualian pada saat manusia berpuasa, sehingga memberikan kelonggaran jika terjadi kasus tersebut, karena Allah lah yang menjadi pencipta manusia.

Sisi kemanusiaan kelima, terkandung pada potongan ayat وَعَلَى الَّذِيْنَ يُطِيْقُوْنَهٗ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِيْنٍۗ

Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved