Ramadan 2026
3 Teks Khutbah Jumat Awal Ramadhan 2026 dengan Berbagai Tema dan Judul
Inilah teks khutbah Jumat awal Ramadhan 2026 dengan berbagai tema yang dapat disampaikan pada Jumat (20/2/2026) hari ini.
Ayat ini juga sangat menekankan sisi kemanusiaan bagi para orang tua yang tidak kuat lagi menjalankan puasa karena uzur syar'i.
Dengan memberikan petunjuk bagi mereka yang telah uzur berpuasa, ayat ini semakin besar menunjukkan kepada kita betapa sisi kemanusian dalam beribadah puasa menjadi perhatian yang khusus yang telah diberikan oleh Allah kepada manusia.
Dari sinilah kita mendapati bahwa, selain bersifat ketuhanan, peribadatan dalam Islam juga menyeimbangkannya dengan sisi kemanusiaan, dan menegaskan sisi pengecualian yang terdapat di dalamnya.
Hadirin sidang Jumat yang dirahmati Allah Swt,
Sisi kemanusiaan tersebut bukan hanya tercermin dalam Al-Qur'an, namun juga tercermin dalam berbagai hadis Rasulullah saw. Di antara hadis yang menegaskan sisi kemausiaan dalam puasa adalah sebagai berikut:
عَنْ زَيْدِ بْنِ خَالِدٍ الْجُهَنِي رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: مَنْ فَطَرَ صَائِمًا، كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لَا يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْءٌ. رَوَاهُ التَّرْمِذِيُّ وَقَالَ: حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ.
"Dari Zayed bin Khalid Al-Juhanni dari Nabi saw, bersabda: Barang siapa memberi buka kepada orang yang berpuasa, maka ia akan mendapatkan pahala seperti orang yang berpuasa, tanpa dikurangi sedikit pun". (H.R. Al-Tirmidzi, hadis Hasan-Sahih)
Hadis ini menegaskan betapa istimewanya mereka yang memberi makan orang yang berpuasa, yang pahalanya sama dengan orang yang berpuasa. Artinya dalam hadis ini, Allah Swt memberikan penghargaan atas amal kemanusiaan setara dengan amal peribadatan.
Sungguh, hadis semacam ini semakin menegaskan bahwa di dalam peribadatan, Allah Swt tidak menghilangkan sisi kemanusiaan dan pada sisi kemanusiaan terdapat nilai peribadatan yang sangat tinggi dan luhur.
Semoga Allah Swt menjadikan kita semua semakin tersecerahkan dengan sisi peribadatan kita, yang pada dasarnya semakin menguatkan eksistensi kemanusiaan dan menjunjung tinggi ke tempat yang luhur di sisi Allah Swt.
Khotbah Kedua
الحَمْدُ للهِ العَزيزِ الغَفَّارِ الوَاحِدِ القَهَّارِ، سُبْحَانَهُ وَبِحَمْدِهِ، أَتُوبُ إِلَيْهِ وَأَسْتَغْفِرُهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ، وَصَفِيُّهُ مِنْ خَلْقِهِ وَخَلِيلُهُ، اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلَّمْ وَبَارِكْ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ، وَالتَّابِعِينَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا المُسْلِمُونَ فأُوصِيكُمْ عباد الله ونفسي بتقوى الله تعالى : يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيداً يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيماً. أما بعد.
وَصَلُّوا وَسَلِّمُوا عَلَى إِمَامِ الْمُرْسَلِينَ؛ مُحَمَّدٍ الهَادِي الأَمِينِ اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلَّم عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ وَسَلَّمتَ عَلَى نَبِيِّنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ نَبِيِّنَا إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى نَبِيِّنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ نَبِيِّنَا إِبْرَاهِيمَ فِي الْعَالَمِينَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنْ حُلَفَائِهِ الرَّاشِدِينَ، وَعَنْ أَزْوَاجِهِ أُمَّهَاتِ الْمُؤْمِنِينَ، وَعَنْ سَائِرِ الصَّحَابَةِ أَجْمَعِينَ، وَعَنِ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَعَنْ جَمْعِنَا هَذَا بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالمُؤْمِنَاتِ المُسْلِمِينَ وَالمُسْلِمَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ
يُحِيبُ الدُّعَاءِ اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلامَ وَاهْدِ الْمُسْلِمِينَ إِلَى الْحَقِّ، وَاجْمَعْ كَلِمَتَهُمْ عَلَى الخَيْرِ، وَاكْسِرُ شَوْكَةَ الظَّالِمِينَ، وَاكْتُبِ السَّلامَ وَالْأَمْنَ لِعِبَادِكَ أَجْمَعِينَ . اللَّهُمَّ كُنْ عَوْنًا لإِخْوَانِنَا فِي أَرْضِ الأَقْصَى المَبَارَكِ، وَكُنْ مَعَهُمْ وَثَبِّتْهُمْ وَارْبِط عَلَى قُلُوبِهِمْ وَصَبَرْهُمْ، وَاخْذُلْ عَدُوَّكَ وَعَدُوَّهُمْ، وَاجْعَلِ الدَّائِرَةَ عَلَيْهِ يَا ذَا الجَلالِ وَالإِكْرَامِ اللَّهُمَّ يَا حَيُّ يَا قَيُّومُ يَا ذا الجلال والإكرام، لا إِلَهَ إِلا أَنْتَ سُبْحَانَكَ بِكَ نَستَجِيرُ، وَبِرَحْمَتِكَ نَسْتَغِيثُ أَلا تَكِلَنَا إِلَى أَنْفُسِنَا طَرْفَةَ عَيْنٍ، وَلَا أدنى مِنْ ذَلِكَ، وَأَصْلِحْ لَنَا شَأْنَنَا كُلَّهُ يَا مُصْلِحَ شَأْنِ الصَّالِحِينَ . اللَّهُمَّ رَبَّنَا احْفَظْ أَوْطَانَنَا وَأَعِزَّ سُلْطَانَنَا وَأَيَّدْهُ بِالْحَقِّ وَأَيَّدْ بِهِ الْحَقَّ يَا رَبَّ العَالَمِينَ، اللَّهُمَّ أَسْبِغْ عَلَيْهِ نِعْمَتَكَ، وَأَيَّدَهُ بِنُورِ حِكْمَتِكَ، وَسَدِدْهُ بِتَوْفِيقِكَ، وَاحْفَظْهُ بِعَيْنِ رِعَابَتِكَ اللَّهُمَّ أَنْزِلْ عَلَيْنَا مِنْ بَرَكَاتِ السَّمَاء وَأَخْرِجْ لَنَا مِنْ خَيْرَاتِ الْأَرْضِ، وَبَارِكْ لَنَا فِي ثِمَارِنَا وَزُرُوعِنَا وَكُلِّ أَرزَاقِنَا يَا ذَا الْجَلالِ وَالإِكْرَامِ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. عِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرُكُمْ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ.
2. Teks Khutbah Jumat Awal Ramadhan 2026
Ramadan, Bulan Mereka yang Kurang Beruntung
الحمدُ للهِ الَّذي أكرمنا بشهر رمضان وَجَعَلَهُ شَهْرَ الرَّحْمَةِ وَالمَغْفِرَةِ وَالعِلْقِ مِنَ النِّيرَانِ. أَشْهَدُ أَنْ لا إلهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، لَا نَبِيَّ وَلَا رَسُولَ بَعْدَهُ اللَّهُمَّ صَلَّ وَسَلَّمْ عَلَى سَيِّدِ الْمُرْسَلِينَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ. فَيَا أَيُّهَا الحَاضِرُونَ المَحْبُوبُونَ أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ، فَقَدْ قَالَ فِي كِتَابِهِ الْعَزِيزِ } يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ {وَقَدْ قَالَ: وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَتُ وَبَشِّرِ الصَّبِرِينَ الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُّصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَجِعُوْنَ
Hadirin jemaah salat Jum'at yang dimuliakan Allah,
Bulan Ramadan selain menjadi bulan mulia bagi umat Islam yang menjalankan puasa di dalamnya, juga menjadi bulan yang memuliakan kalangan yang kurang beruntung.
Sebagai fenomena yang niscaya di tengah peradaban umat manusia, ketidakberuntungan bisa memiliki ragam bentuk.
Di dalam Al-Qur'an, ketidakberuntungan diistilahkan dengan balā' (ujian/cobaan) maupun mushibah (bencana/kemalangan), sebagaimana firman Allah Swt dalam Q.S. Al-Baqarah [2]: 155-156:
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَت وَبَشِّرِ الصَّبِرِينَ الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُّصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَجِعُوْنَ
"Kami pasti akan mengujimu dengan sedikit ketakutan dan kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Sampaikanlah (wahai Nabi Muhammad,) kabar gembira kepada orang-orang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan "Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un" (sesungguhnya kami adalah milik Allah dan sesungguhnya hanya kepada-Nya kami akan kembali)."
Al-Qur'an menjelaskan bahwa kondisi kurang beruntungnya manusia merupakan sunnatullah yang ditujukan sebagai ujian. Pada Q.S. Al-Baqarah [2]: 155, ada beberapa contoh bala' (ujian) yang Tuhan berikan kepada manusia untuk menguji keimanannya serta melatihnya untuk menjadi hamba yang sabar dengan segala ketetapan-Nya.
Seperti halnya kondisi finansial yang sempit yang menyebabkan kemiskinan dan menimbulkan rasa khawatir akan hari esok, kelaparan serta gizi buruk, lalu ada kemalangan yang datang berupa sakit, maupun karena kembalinya orang-orang yang disayang dan dikenal ke pangkuan-Nya.
Hadirin sidang Jum'at rahimakumullah,
Segala jenis kemalangan atau musibah yang menimpa manusia merupakan bagian dari ujian Tuhan terhadapnya.
Maka jika manusia mampu melewatinya dengan penuh kesabaran dan tetap mempertahankan imannya bahwa segala hal yang dialaminya merupakan kehendak Allah Swt dengan mengekspresikannya melalui kalimat istirja', maka merekalah yang masuk dalam kategori orang-orang yang sabar dan dijamin oleh-Nya untuk mendapatkan ampunan (maghfirah) dan rahmat-Nya, serta digolongkan menjadi orang-orang yang mendapatkan petunjuk (muhtadun), sebagaimana lanjutan firman Allah Swt pada Q.S. Al-Baqarah [2]: 157:
أُولَبِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوتٌ مِّنْ رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ
"Mereka itulah yang memperoleh ampunan dan rahmat dari Tuhannya dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk."
Jemaah yang dirahmati Allah,
Kondisi yang kurang beruntung itu mendapatkan tempat yang spesial dan dimuliakan oleh Allah Swt di bulan Ramadan yang mulia.
Bagi mereka yang ditimpa dengan cobaan kurangnya makanan dan kesempitan rezeki, mereka ditempatkan oleh Allah Swt sebagai golongan yang harus diperhatikan selama bulan Ramadan.
Syariat zakat fitrah yang termaktub dalam Q.S. At-Taubah [9]: 60 dan 103, menjadi bukti bahwa Islam begitu memperhatikan kalangan mustadh'afin.
Nabi Muhammad saw dalam hadisnya juga bersabda bahwa zakat tidak hanya diperuntukkan untuk membersihkan harta bagi golongan yang beruntung secara finansial, namun juga sebagai bantuan yang penting bagi mereka yang kurang beruntung.
فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةَ لِلصَّائِمِ مِنَ الرَّقَتِ وَاللَّغْوِ وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ
"Rasulullah mewajibkan zakat fitrah sebagai penyuci bagi diri seorang yang puasa dari segala hal keji dan sia-sia, serta sebagai bahan pangan untuk kaum miskin". (H.R. Abu Daud).
Dalam sabdanya yang lain, Nabi Muhammad saw merupakan sosok yang paling dermawan ketika bulan Ramadan, dan sebagai umatnya, kita seyogianya mampu meneladaninya.
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ وَكَانَ أَجْوَدَ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ
"Rasulullah merupakan orang yang paling dermawan di tengah manusia dan juga yang paling dermawan ketika bulan Ramadan". (H.R. Tirmidzi).
Hadirin hafizhakumullah,
Selanjutnya bagi kalangan yang ditimpa sakit yang menyebabkan ketidakmampuan berpuasa, maka mereka diberikan keringanan untuk mengganti puasanya baik melalui qadha' maupun fidyah.
Sebagaimana firman Allah Swt dalam Q.S. Al-Baqarah [2]: 184:
فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَّرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ وَعَلَى الَّذِيْنَ يُطِيقُوْنَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِيْنِ
"Maka, siapa di antara kamu sakit atau dalam perjalanan (lalu tidak berpuasa), (wajib mengganti) sebanyak hari (yang dia tidak berpuasa itu) pada hari-hari yang lain. Bagi orang yang berat menjalankannya, wajib membayar fidyah, (yaitu) memberi makan seorang miskin."
Jemaah yang mulia,
Lalu bagi orang yang meninggal di bulan Ramadan, sejatinya di bulan Ramadan pintu-pintu surga dibuka, dan hal ini yang menjadi pesan bahwa meninggal dalam kondisi menjalani ketaatan di bulan Ramadan menjadi salah satu tanda atas statusnya sebagai ahl al-jannah.
Maka pada hakikatnya, kesedihan hanya bagi keluarga dan kerabat terdekatnya namun tidak bagi orang yang diwafatkan di bulan Ramadan. Nabi bersabda:
إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ، وَعُلَقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ، وَصُقِدَتِ الشَّيَاطِينُ
"Ketika Ramadan datang, maka pintu-pintu surga dibuka dan pintu-pintu neraka dikunci serta setan-setan dibelenggu". (H.R. Muslim).
Islam tidak hanya memuliakan bulan Ramadan dengan syariat puasa Ramadan di dalamnya.
Allah Swt menjadikan Ramadan sebagai bulan yang mulia dengan juga memuliakan mereka yang kurang beruntung dengan membawa sekian banyak perhatian dan fadhilah melalui firman-Nya dalam Al-Qur'an dan sabda Nabi-Nya dalam hadis.
Maka bulan Ramadan tidak hanya merupakan bulan Al-Qur'an, namun juga bulan diamalkannya setiap ajaran Al-Qur'an yang ditubuhkan dalam diri dan dibagikan kepada sesama.
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ. أَقُولُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيمِ
KHUTBAH KEDUA
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِي لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللهُ. أَشْهدُ أنْ لَا إِلَهَ إِلَّا الله وحده لا شريك له، وأشهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ لَا نَبِيَّ وَلَا رَسُولَ بَعْدَهُ اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلَّمْ عَلَى سَيِّدِ الْمُرْسَلِينَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ. فَيَا أَيُّهَا الحَاضِرُونَ المَحْبُوبُونَ أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ فَالتَّقْوَى هِيَ وَصِيَّةُ رَبِّ العَالَمِينَ لِلْأَوَّلِينَ وَالْآخِرِينَ مِنْ خَلْقِهِ فَقَدْ قَالَ فِي كِتَابِهِ الْعَزِيزِ } يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ . وَأَمَرَ المُسْلِمِينَ وَالْمُؤْمِنِينَ بِالصَّلَاةِ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ كَمَا قَالَ فِي الْقُرْآنِ : إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلَّمُوا تَسْلِيمًا { اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ اللَّهُم يَسِّرْ لَنَا أُمُورَنَا وَحَصِلْ مَقاصِدَنَا وَأَحْسِنُ مَنْ أَحْسَنَ إِلَيْنَاءِ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. عِبَادَ اللَّهِ! إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللهَ العَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرٍ
3. Teks Khutbah Jumat Awal Ramadhan 2026
Puasa Ramadan untuk Kesehatan Mental
الحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ وَأَرْسَلَ رَسُؤلَه بِالقُرآنِ وَهُوَ أَحْسَنُ المُعْجِزَاتِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ لَا نَبِيَّ وَلَا رَسُولَ بَعْدَهُ اللَّهُمَّ صَلَّ وَسَلَّمْ عَلَى سَيِّدِ الْمُرْسَلِينَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ. فَيَا أَيُّهَا الحَاضِرُونَ المَحْبُوبُونَ أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ، فَقَدْ قَالَ فِي كِتَابِهِ العَزِيزِ } يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ { وَقَدْ قَالَ : وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانٌ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُوْنَ
Hadirin jemaah salat Jumat yang berbahagia,
Pada kesempatan ini, khatib ingin mengingatkan kita semua untuk senantiasa meningkatkan takwa dengan mematuhi segala perintah Allah Swt dan menjauhi larangan-Nya.
Seraya meneladani Baginda Nabi Muhammad saw sebagai penyampai risalah dan teladan sempurna, agar kita kelak dipertemukan dalam kebahagiaan abadi di jannah-Nya.
Hadirin sidang Jumat yang dimuliakan Allah,
Puasa Ramadan tidak hanya merupakan ritual ibadah yang secara khusus diwajibkan bagi umat Islam di bulan Ramadan. Puasa Ramadan juga tidak sekedar ibadah yang bernilai pahala bagi umat Islam yang mengerjakannya.
Lebih dalam, puasa Ramadan menyimpan berbagai hikmah yang begitu berharga bagi kehidupan setiap muslim yang menjalaninya dengan penuh ketaatan dan penghayatan.
Salah satu di antara hikmah puasa Ramadan ialah sebagai solusi kesehatan mental. Isu kesehatan mental menjadi salah satu pembicaraan yang menyita perhatian dewasa ini.
Belakangan ini cukup banyak dijumpai kasus bunuh diri yang diakibatkan oleh gangguan mental seperti depresi dan kecemasan berlebih. Salah satu penyebabnya ialah kurangnya kemampuan dalam mengendalikan serta mengelola emosi dan pikiran ketika berhadapan dengan masalah kehidupan.
Tercatat sebelum penghujung tahun 2024 terdapat 849 kejadian mengakhiri hidup dan hampir 50 persen terjadi pada remaja yang beranjak ke usia dewasa.
Hadirin yang dirahmati Allah,
Ada beberapa hikmah yang bisa diambil dari tradisi puasa Ramadan yang jika ditinjau dari sisi manajemen emosi dan pikiran, dapat menjadi solusi bagi masalah kesehatan mental.
Hikmah pertama dan utama berkaitan dengan aspek manajemen waktu yang memberikan pelajaran bagi manusia dalam menjalankan hidup yang disiplin.
Dalam Q.S. Al-Baqarah [2]: 187, Allah Swt berfirman:
وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرَ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى الَّيْلِ
"Makan dan minumlah hingga jelas bagimu (perbedaan) antara benang putih dan benang hitam, yaitu fajar. Kemudian, sempurnakanlah puasa sampai (datang) malam."
Puasa begitu identik dengan tata waktu, sebab puasa memiliki batasan durasi yang dimulai ketika fajar dan berakhir ketika waktu terbenamnya matahari.
Selama durasi puasa masih bergulir, maka umat Islam yang menjalaninya dilarang untuk melakukan hal-hal yang dapat membatalkan puasa, seperti halnya makan, minum maupun melakukan hubungan suami-istri. Juga, melakukan hal-hal negatif yang bisa mengurangi keutamaannya.
Aturan tersebut tidak hanya berlaku sebagai aturan ritualitas agama semata, namun juga memberi penekanan pada pembelajaran untuk menjalani hidup secara disiplin.
Sebab tanpa adanya ketaatan atas batasan maupun aturan yang berlaku, maka ritual puasa yang dilakukan tidak akan sempurna atau bahkan dinyatakan batal.
Sidang Jumat hafizhakumullah,
Hikmah kedua masih berkaitan aspek kedisiplinan, namun lebih spesifik dalam tata kelola makan. Puasa Ramadan memberlakukan aturan makan ketika sahur dan makan saat waktu berbuka tiba.
Aturan ini secara langsung mengharuskan siapapun yang ingin berpuasa untuk mampu membiasakan dirinya makan dengan batasan durasi yang ditentukan. Hal ini berakibat pada pembentukan pola makan teratur yang menjadi salah satu indikator dari pola hidup sehat.
Pola makan teratur dan disempurnakan dengan asupan gizi yang cukup juga sangat berpengaruh bagi kesehatan mental.
Bahkan hadis-hadis yang berkaitan dengan makan sahur dan berbuka, juga melengkapi pemahaman kita bahwa makan tidak hanya sekedar mengisi kekosongan perut namun juga rohani.
Sebagaimana sabda Nabi Muhammad saw tentang fadhilah sahur dan berbuka berikut:
تَسَخَّرُوا فَإِنَّ فِي السَّحُورِ بَرَكَةً
"Sahurlah kalian, sebab di dalam sahur terdapat keberkahan."
لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ: فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ، وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ
"Bagi orang yang berpuasa terdapat dua kebahagiaan: kebahagiaan tatkala berbuka dan kebahagiaan ketika berjumpa dengan Rabb-nya."
Kedua hadis ini memberikan pelajaran bahwa di dalam sahur maupun berbuka puasa terdapat keberkahan dan kebahagiaan yang dapat dirasakan secara rohani setelah menjalankan ritual yang mengasah spiritual.
Jemaah yang berbahagia,
Hikmah ketiga berkaitan dengan tata kelola emosi dan pikiran serta hal-hal negatif lain yang mengikutinya. Puasa Ramadan begitu kental dengan nuansa menahan diri, maka dalam literatur fikih, puasa dimaknai dengan "al-imsak" yang secara literal artinya "menahan".
Menariknya, dalam Q.S. Al-Baqarah [2]: 187, Allah Swt tidak hanya memberikan panduan aturan bahwa puasa hanya bertumpu pada menahan diri dari makan dan minum. Namun, Allah Swt justru membawa gambaran kasus hubungan suami istri secara dominan.
أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَتُ إِلَى نِسَابِكُمْ ۖ هُنَّ لِبَاسٌ لَّكُمْ وَأَنْتُمْ لِبَاسٌ لَّهُنَّ عَلِمَ اللهُ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَخْتَانُونَ أَنْفُسَكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ وَعَفَا عَنْكُمْ
"Dihalalkan bagimu pada malam puasa bercampur dengan istrimu. Mereka adalah pakaian bagimu dan kamu adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwa kamu tidak dapat menahan dirimu sendiri, tetapi Dia menerima tobatmu dan memaafkanmu."
Penggambaran ini tidak hanya bisa dipahami secara tekstual tapi juga metaforis bahwa seksualitas yang sangat berkaitan dengan emosi dan pikiran menjadi tantangan yang begitu besar bagi orang yang berpuasa.
Maka puasa Ramadan merupakan kawah candradimuka bagi umat Islam untuk mampu mengelola emosi serta pikirannya dengan baik sehingga mampu menata dirinya untuk menjalani hidup dengan positif dan produktif. Dalam hal ini, latihan kesabaran dan kemampuan mengelola diri dari sisi internal benar-benar diuji.
Jemaah Jumat rahimakullah,
Selanjutnya dua sabda Nabi Muhammad saw dalam hadisnya menekankan betapa pentingnya puasa Ramadan sebagai wasilah untuk menjalani hidup yang positif dan produktif, serta mengelola diri tidak hanya dari gangguan internal, melainkan juga eksternal sebagaimana berikut:
مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالعَمَلَ بِهِ وَالجَهْلَ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ أَنْ يَدَعْ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ
"Siapapun yang tidak mampu meninggalkan tutur lisan maupun perbuatan yang sia-sia (tidak bermakna) serta bertindak bodoh (maupun kebodohan itu sendiri), maka Allah Swt tidak memiliki kepentingan (tidak memberi apresiasi) terhadap orang yang meninggalkan makan dan minumnya (berpuasa)."
لَيْسَ الصِّيَامُ مِنَ الْأَكْلِ وَالشَّرْبِ إِنَّمَا الصِّيَامُ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَتِ، فَإِنْ سَابَّكَ أَحَدٌ أَوْ جَهِلَ عَلَيْكَ فَلْتَقُلْ إِنِّي صَائِمٌ إِنِّي صَائِمٌ
"Puasa tidak hanya sekedar menahan diri dari makan dan minum, tapi puasa yang sesungguhnya ialah menahan diri dari tutur lisan yang sia-sia (tidak bermakna) dan kotor/keji. Jika ada seseorang yang mencelamu atau bertindak bodoh terhadapmu, maka katakanlah: 'aku berpuasa', 'aku berpuasa."
Pada akhirnya, penghayatan terhadap puasa Ramadan tidak hanya memberikan kenikmatan dalam menjalaninya sebagai ibadah.
Lebih dari itu, puasa Ramadan juga melatih umat Islam untuk mampu hidup dan menjalani kehidupannya dengan baik lewat kedisiplinan, tata kelola emosi dan pikiran untuk tetap positif, baik secara internal maupun dari gangguan eksternal dan tetap menjaga produktivitas.
Bahkan, di sela-sela ayat-ayat yang berbicara perihal puasa Ramadan di Q.S. Al-Baqarah [2]: 183-187, Allah Swt menyisipkan satu ayat, Q.S. Al-Baqarah [2]: 186 yang hadir sebagai pengingat bahwa Allah Swt selalu siap mendengarkan kita dan dekat dengan kita sehingga tidak perlu ada yang terlalu dirisaukan.
وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ
"Apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Nabi Muhammad) tentang Aku, sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Maka, hendaklah mereka memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku agar mereka selalu berada dalam kebenaran."
بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ. أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ مِنْ كُلَّ ذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمِ
Khutbah Kedua
الحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِي لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللهُ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا الله وَحْدَهُ لا شَريكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ لَا نَبِيَّ وَلَا رَسُولَ بَعْدَهُ اللَّهُمَّ صَلَّ وَسَلَّمْ عَلَى سَيِّدِ الْمُرْسَلِينَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ. فَيَا أَيُّهَا الحَاضِرُونَ المَحْبُوبُونَ أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ، فَالتَّقْوَى هِيَ وَصِيَّةُ رَبِّ العَالَمِينَ لِلْأَوَّلِينَ وَالْآخِرِينَ مِنْ خَلْقِهِ، فَقَدْ قَالَ فِي كِتَابِهِ العَزيز } يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ . وَأَمَرَ المُسْلِمِينَ وَالْمُؤْمِنِينَ بِالصَّلَاةِ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ كَمَا قَالَ فِي الْقُرْآنِ : إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا { اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ اللَّهُمْ يَسِّرْ لَنَا أُمُورَنَا وَحَصِلْ مَقَاصِدَنَا وَأَحْسِنَ مَنْ أَحْسَنَ إِلَيْنَا رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ عِبَادَ اللَّهِ! إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللهَ العَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرِ
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/masjid-pusdai-jabar-laksanakan-sholat-jumat-berjamaah_20200320_204327.jpg)