Dua Jenderal Turun Tenangkan Adonara
Dua jenderal bintang satu menyambangi Adonara Timur, Kabupaten Flores Timur, Jumat (5/10/2012), untuk menenangkan warga
Laporan Wartawan Pos Kupang, Muchlis Al Alawy
TRIBUNNEWS.COM, KUPANG---Dua jenderal bintang satu menyambangi Adonara Timur, Kabupaten Flores Timur, Jumat (5/10/2012), untuk menenangkan warga Desa Lewobunga dan Lewonara yang berperang tanding merebut tanah ulayat, sejak Senin (1/10/2012). Dua jenderal itu adalah Kapolda NTT, Brigjen Polisi Ricky HP Sitohang, dan Komandan Korem (Danrem) 161/Wirasakti Kupang, Brigjen TNI Ferdinand Setiawan.
Dikonfirmasi melalu telepon selulernya, Jumat (5/10/2012) sore, Kapolda Sitohang mengakui situasi sudah terkendali. Tidak lagi terjadi peperangan antara dua kubu. Kendati demikian, Kapolda Sitohang meminta Pemkab Flotim segera menuntaskan persoalan penyebab terjadinya perang tanding tersebut agar tidak terulang.
Kapolda Sitohang menyebut personel polisi yang dikerahkan ke Adonara sudah mencapai 450 orang. Tak hanya anggota saja, pejabat utama polda seperti Karo Ops, Kasat Brimob, Dirintelkam, Dirpolair turun langsung memimpin jalannya pengamanan sesuai masing-masing tugas dan satuannya. Pasukan dikerahkan dari Kupang, Ende, Sikka, Flores Timur dan Lembata.
Dikatakannya, pengerahan pasukan yang cukup menonjol lantaran pihak yang bertikai dilengkapi dengan senjata api rakitan, bom molotov dan senjata tajam lainya. Dengan demikian membutuhkan pengamanan terpadu. "Terkadang mereka membawa ransel ternyata di dalamnya berisi bom ikan yang dibungkus seperti bom molotov," kata Kapolda Sitohang.
Ia menyayangkan pemerintah daerah lamban bertindak mengatasi persoalan inti sehingga berujung pertikaian di Adonara. Pasalnya jajaran kepolisian tidak bisa menyelesaikan persoalan tanah yang menjadi pemicu perang tanding dua kubu.
"Hukum tetap kami tegakkan. Kami siap memfasilitas dan mengamankan semua agar jangan terjadi benturan-benturan. Anggota kami yang ada di sini hanya mengamankan kedua belah pihak. Saya mengimbau kepada Pemerintah Daerah Flotim segera menuntaskan masalah ini," jelas Sitohang.
Sitohang mengharapkan DPRD Flotim dan Pemkab Flotim jangan hanya asal bicara saja. Semestinya selaku wakil rakyat segera turun ke lapangan dan meredam dua pihak bertikai agar tidak menelan korban jiwa lagi.
"Saya minta Bupati dan DPRD Flotim yang memiliki rakyat dan dipilih rakyat tolong segera turun untuk kepentingan rakyat. Bupati harus turun dan selesaikan masalahnya. Supaya diselesaikan dan cari akar masalah. Jangan dibiarkan berlarut- larut akan timbul korban yang lain," kata mantan Kapolres Alor.
Bila berlarut-larut penyelesaiannya, demikian Sitohang, justru pihaknya yang diperhadapkan dengan masyarakat. Bila kondisi makin memburuk, pihaknya akan berkoordinasi dengan Gubernur NTT, Frans Lebu Raya, agar turun ke lokasi menyelesaikan pertikaian dua kubu.
Gubernur NTT, Frans Lebu Raya, yang dihubungi terpisah kemarin, membenarkan dua jenderal bintang satu itu turun ke lapangan. Turunnya dua jenderal ke lapangan berdasarkan rapat koordinasi antara dirinya dengan Kapolda NTT dan Danrem Wirasakti 161/ Kupang. "Saya juga akan turun ke lokasi setelah mengetahui perkembangan kondisi di lapangan," kata Gubernur Frans.
Gubernur Frans sepakat bila aparat keamanan dari Polri dan TNI turun ke lokasi untuk mencegah makin meluasnya pertikaian tersebut. Dengan demikian kondisi di lokasi akan kembali aman.
Gubernur berharap suasana di Adonara dapat terkendali dengan kehadiran Kapolda dan Danrem. Karena itu, dia meminta tokoh masyarakat, tokoh agama dan tokoh adat agar turut membantu menjaga suasana agar lebih kondusif dan aman.
Dia berharap kedua kubu yang bertikai bisa menyelesaikan sengketa tanah ulayat itu melalui proses negosiasi, sehingga ditemukan solusi penyelesaian sengketa itu. Namun, jika negosiasi mengalami jalan buntu, gubernur mengimbau agar penyelesaian sengketa lahan itu dilakukan melalui jalur hukum. "Masih ada jalur hukum yang bisa dipakai untuk selesaikan sengketa tanah itu. Tidak perlu ambil tindakan yang menghakimi diri," katanya.
Danrem 161/Wirasakti Kupang, Brigjen Ferdinand Setiawan yang dikonfirmasi terpisah menyatakan jajarannya siap membantu polisi mengamankan lokasi manakala dibutuhkan.
"Saya turun bukan karena sangat genting. Pemimpin harus berada di tengah-tengah anak buah yang sementara menjalankan tugas. Tak hanya itu, saya juga ingin memberikan dukung moril kepada anggota saya," kata Danrem Setiawan.
Danrem menyatakan, setidaknya TNI AD sudah mengirimkan dua satuan setingkat pleton (SST) atau 60 personel ke Flores Timur. Bila situasi bertambah kacau, jumlah personel akan ditambah. "Mudah-mudahan situasinya kondusif. Apalagi sudah ada anggota polisi dan brimob di lokasi. Kami hanya mem-back up polisi saja," kata Danrem Setiawan.
Danrem Setiawan mengharapkan Bupati, DPRD Flotim, tokoh agama dan tokoh masyarakat bersatu padu bahu membahu menyelesaikan persoalan tersebut.*
Baca Juga :
- Kepala Cabang BNI Diduga Gelapkan Rp 5,9 Miliar 11 menit lalu
- Kerangka Manusia Ditemukan dalam Karung 19 menit lalu
- Tentara di Kalimantan Jadi Guru di Perbatasan 42 menit lalu
- Terbukti KKN Pemenang Tender Dibatalkan 1 jam lalu