Saat Keraton Yogyakarta Ikut Irit Pemerintah, Tradisi Gunungan Dihilangkan
Keraton Yogyakarta ikut irit. Tradisi Gunungan Garebeg Besar Iduladha 2026 ditiadakan demi efisiensi anggaran.
Ringkasan Berita:
- Keraton Yogyakarta menyederhanakan prosesi Garebeg Besar Iduladha 2026 dengan meniadakan arak-arakan Gunungan.
- Sultan HB X menyebut keputusan itu sebagai bagian dari efisiensi anggaran mengikuti penghematan pemerintah.
- Tradisi kirab prajurit hingga rebutan Gunungan tahun ini dipastikan tidak digelar.
TRIBUNNEWS.COM - Tradisi arak-arakan Gunungan dalam prosesi Hajad Dalem Garebeg Besar Keraton Yogyakarta tahun ini dipastikan ditiadakan.
Keputusan tersebut diambil langsung oleh Raja Keraton Yogyakarta, Sri Sultan Hamengkubuwono X sebagai bagian dari langkah penghematan anggaran di tengah kebijakan efisiensi yang juga dilakukan pemerintah pusat dan daerah.
Keraton Yogyakarta tetap akan menggelar Hajad Dalem Garebeg Besar dalam momentum Iduladha 1447 Hijriah pada Rabu (27/5/2026).
Namun, prosesi berlangsung lebih sederhana dibanding tahun-tahun sebelumnya.
Tidak adanya Gunungan yang keluar dari Keraton membuat sejumlah tradisi pengiring turut dihapus, mulai dari iring-iringan prajurit, Gladhi Resik Prajurit hingga Numplak Wajik.
Meski begitu, Keraton memastikan makna utama Garebeg tetap dipertahankan sebagai simbol sedekah raja kepada rakyat melalui pembagian ubarampe pareden kepada para Abdi Dalem.
“Ya penghematan aja. Kabeh (semua) kan penghematan. Ya kan? Ya kita juga menghemat lah, psikologisnya kan gitu. Nanti dikira mewah-mewah. Penghematan aja,” ujar Sultan HB X, dikutip dari video unggahan Instagram @tribunjogja.
Menurut Sultan, biaya terbesar dalam prosesi Garebeg memang berada pada pelaksanaan arak-arakan Gunungan dan keterlibatan pasukan prajurit Keraton.
“Yang pemerintah APBN ya penghematan, daerah ya penghematan. Karena biaya ya biaya yang terbesar itu kan di situ. Nah, nek kecil tur penghematan kan ora logis. Itu aja,” lanjutnya.
Jejak Adaptasi Tradisi
Baca juga: Momen Megawati dan Sri Sultan HB X Berbincang Hangat di Pernikahan Putra Hasto Kristiyanto
Dalam pemberitaan Tribun Jogja, penyederhanaan tradisi seperti penyelenggaraan Garebeg pernah terjadi juga sebelumnya.
Abdi Dalem senior berpangkat Bupati Nayaka di Keraton Yogyakarta, KRT. Kusumanegara, mengonfirmasi adanya instruksi langsung mengenai perubahan mendasar dalam struktur upacara adat ini.
"Betul bahwa kami, Abdi Dalem Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat, belum lama ini nampi Dhawuh Dalem (menerima dhawuh/perintah dari Sultan) untuk menyederhanakan prosesi Garebeg dimulai dari besok Garebeg Besar. Secara prosesi, karena ada dhawuh untuk disederhanakan jadi secara penyelenggaraan mirip seperti Garebeg ketika pandemi Covid-19 kemarin. Tidak ada gunungan yang keluar dari keraton, tidak ada iring-iringan prajurit juga. Seluruh ubarampe pareden nantinya hanya akan dibagikan kepada Abdi Dalem Keraton Yogyakarta. Sesuai arahan yang kami terima, para Abdi Dalem akan melaksanakan Dhawuh Dalem tersebut dengan sebaik-baiknya," ujar KRT. Kusumanegara.
Pihak Keraton Yogyakarta menegaskan bahwa perubahan format upacara adat ini bukan hal baru dalam sejarah internal kesultanan.
Upacara tradisi yang digelar tiga kali dalam setahun ini, yakni Garebeg Sawal (Idulfitri), Garebeg Besar (Iduladha), dan Garebeg Mulud (Maulid Nabi Muhammad SAW, tercatat kerap beradaptasi dengan dinamika zaman serta situasi yang berkembang.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/kunjungan-raja-malaysia-ke-keraton-yogyakarta_20190828_195801.jpg)