Jumat, 10 April 2026

Tgk Aiyub dan Seorang Pengikutnya Dibakar Hidup-hidup.

Tiga orang tewas, termasuk Tgk Aiyub dan seorang pengikutnya yang dibakar hidup-hidup.

Editor: Budi Prasetyo

Waktu itu MPU belum bisa memastikan ajaran atau kegiatan yang dilakukan Tgk Aiyub serta pengikutnya sesat atau tidak. Sedangkan Tgk Aiyub dan pengikutnya secara tegas menganggap tuduhan yang dialamatkan kepada mereka adalah fitnah.

Dalam perjalanan selanjutnya, masyarakat Jambo Dalam tetap menolak kembalinya Tgk Aiyub meski telah menandatangani pernyataan dan ikrar bahwa mereka telah melakukan kesalahan.

Pada akhir Maret 2010, Tgk Aiyub dan belasan pengikutnya berharap pihak MPU dan Pemkab Bireuen segera mengambil sikap dan menyelesaikan persoalan yang membuat mereka harus berada di tempat penampungan, Kompleks Masjid Agung Bireuen.

“Kami ini korban fitnah, MPU dan Pemda hendaknya segera mengambil sikap, memanggil saksi kedua belah pihak sehingga dugaan keliru yang dialamatkan kepada kami dapat terjawab,” kata Tgk Aiyub dan sejumlah pengikutnya di tempat penampungan Masjid Agung Bireuen, Minggu 27 Maret 2010.

Tgk Aiyub yang diduga menjalankan ibadah melanggar akidah dan syariat Islam, saat disidang oleh MPU Bireuen di kantor MPU setempat di Kompleks Masjid Agung Bireuen, Rabu 6 April 2010 sempat membuka baju di hadapan hakim. Menurutnya, ia melakukan hal itu karena sakit ketika majelis hakim melontarkan sejumlah pertanyaan kepada dirinya.

Aksi buka baju itu dilakukan Tgk Aiyub ketika ditanya majelis hakim yang diiringi keterangan saksi. “Saya kalau banyak ditanya bertambah sakit. Kalau tak percaya saya sakit, boleh ditanya ke dokter,” katanya sembari membuka baju untuk memperlihatkan penyakitnya.

Setelah sempat diam selama 2011--bahkan Tgk Aiyub sudah kembali ke rumahnya karena sudah ada surat kesepakatan tidak mengulang kesalahan--akhirnya pada Oktober 2012, sejumlah warga Kecamatan Peulimbang melaporkan lagi aktivitas di balai pengajian Tgk Aiyub.

Dinas Syariat Islam Bireuen merespon laporan itu dengan mendatangi rumah Tgk Aiyub menanyakan berbagai informasi yang disampaikan warga. “Kami menanyakan beberapa hal yang berkembang di tengah-tengah masyarakat dan meminta penjelasan. Kami menanggapi serius laporan itu karena Tgk Aiyub pernah bermasalah beberapa waktu lalu dan kompleks tersebut sempat dibakar massa,” kata Kasi Penyidik dan Pencegahan Dinas Syariat Islam Bireuen, Tgk Daud kepada Serambi, akhir Oktober lalu.

Tgk Daud mengatakan, Tgk Aiyub mengaku tidak ada kegiatan pengajian di rumahnya. Pengajian yang dilakukan selama ini hanyalah mengajar mengaji Quran 30 juz dan juz amma untuk anaknya.

Menyangkut sering ramainya orang di rumahnya, Tgk Aiyub mengatakan hanya bentuk kepedulian tetangga menjenguk dirinya yang sakit-sakitan. “Bukan keramaian kegiatan pengajian yang diisukan oleh masyarakat,” begitu pengakuan Tgk Aiyub sebagaimana dikutip Tgk Daud.

Pasca-insiden di rumah Tgk Aiyub pada Jumat malam hingga Sabtu subuh (16-17 November 2012), sejumlah warga yang ditemui Serambi kemarin di Desa Jambo Dalam mengatakan, aktivitas Tgk Aiyub dan pengikutnya sangat tertutup. Istrinya juga jarang ke luar rumah.

Tgk Aiyub memiliki empat anak--dua laki-laki dan dua perempuan--namun warga tak ada yang tahu nama istri maupun anak-anak Tgk Aiyub. Sejak kejadian itu, istri Tgk Aiyub dan keempat anaknya tidak diketahui kemana.(yus)

Dari Suara Tembakan sampai Potongan Kuping
INSIDEN di Jambo Dalam, Kecamatan Peulimbang, Kabupaten Bireuen mulai Jumat (16/11/2012) malam hingga menjelang subuh, Sabtu (17/11/2012) benar-benar tak terkendali dan kacau balau. Suasana semakin tak karu-karuan ketika terjadi penyerangan dengan senjata parang dan pedang terhadap sekelompok massa yang datang ke rumah Tgk Aiyub Syahkubat sekitar pukul 23.00 WIB.

Penyerangan secara sporadis--setelah terlebih dahulu mati lampu di kompleks rumah dan balai pengajian Tgk Aiyub--telah menjatuhkan korban luka-luka sekitar 10 orang. Kabar ini langsung saja memicu emosi warga lainnya sehingga terjadi serangan balasan sejak Sabtu dini hari hingga menjelang subuh.

Dalam serangan susulan yang melibatkan massa sekitar 1.500 orang itu, aparat kepolisian dan TNI terpantau bekerja keras untuk mengendalikan keadaan, namun tak berhasil. Sempat terdengar beberapa kali suara tembakan, termasuk ketika massa mengepung dan merangsek masuk ke rumah Tgk Aiyub dan selanjutnya mengeluarkan secara paksa Tgk Aiyub dari dalam rumah.

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved