Ratusan Tandan Pisang Membusuk Akibat Cuaca Buruk
Sejak 7 Januari 2013 sampai sekarang, sekitar 20 kendaraan ekspedisi jalan darat tertahan di Pelabuhan Lorens Say Maumere.
Laporan Wartawan Pos Kupang, Aris Ninu
TRIBUNNEWS.COM, MAUMERE - Ratusan tandan pisang mentah yang hendak di bawa ke Surabaya, Jawa Timur menggunakan kendaraan ekspedisi dan diangkut kapal roro milik PT Dharma Kencana, membusuk di kendaraan ekspedisi.
"Kendaraan ekspedisi saya ini memuat ratusan tandan pisang milik orang Maumere ke Surabaya. Pisang yang saya muat ini sekali angkut Rp 4 juta. Pemilik pisang datang di pelabuhan dan menurunkan pisang yang sudah masak dan membusuk, untuk dibawa ke rumah," kata Pondet, sopir kendaraan ekspedisi Permata Hokky Bajawa kepada Pos Kupang (Tribunnews.com Network), di Pelabunan Lorens Say Maumere, Sabtu (12/1/2013) siang.
Pondet yang mengaku asal Kota Bajawa, Kabupaten Ngada mengatakan, sejak 7 Januari 2013 sampai sekarang, sekitar 20 kendaraan ekspedisi jalan darat tertahan di Pelabuhan Lorens Say Maumere.
Sebanyak 20 kendaraan ekspedisi, tutur Pondet, memuat pisang mentah untuk dibawa ke Surabaya, Jawa Timur menggunakan kapal milik PT Dharma Kencana, yang sudah seminggu tertahan di Pelabuhan Lorens Say Maumere.
Pondet menuturkan, kapal roro tidak bisa berlayar ke Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya, karena kondisi cuaca di laut buruk, dan tinggi gelombang laut mencapai empat sampai lima meter.
"Kapal sampai sekarang belum berangkat karena cuaca. Kami mau bilang apa, tunggu saja. Kalau Senin (14/1/2013) berangkat kami tinggal berangkat. Pisang yang sudah kami muat tidak bisa kami bongkar. Nanti di Surabaya dihitung berapa yang tandan rusak dan berapa yang baik," papar Pondet.
Ia menjelaskan, kapal roro bersandar di Pelabuhan Lorens Say Maumere sejak Sabtu (5/1/2013) pekan lalu, dan hingga kini belum bisa berlayar ke Surabaya.
Pondet memaparkan, penundaan keberangkatan kapal mengganggu jadwal, yang rencananya memuat barang dari Surabaya ke Flores.
"Yang jelas kami mengalami penurunan pendapatan. Kami parkir sudah seminggu, karena kapal tidak berlayar setelah ada larangan dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika," ungkap Pondet.
Pantauan Pos Kupang di Pelabuhan Lorens Say Maumere, puluhan truk ekspedisi yang parkir memuat pisang mentah, dan hasil bumi lainnya.
Ada beberapa pekerja yang sedang menurunkan pisang yang sudah masak dan membusuk di bagian atas kendaraan. Ada pula mobil pick up yang membawa kembali pisang yang masak ke rumah.
Sementara, Kepala Administratur Pelabuhan (Adpel) Maumere Wilibrodus Thaal di kantornya, Sabtu menyatakan, pihaknya terus memantau keadaan gelombang di laut, berkoordinasi dengan BMKG.
"Data yang kami peroleh, di Laut Maumere masih aman, tapi di Laut Flores gelombang mencapai empat sampai lima meter. Maka itu kami belum bisa mengizinkan kapal roro berangkat ke Surabaya. Kapal barang juga kami belum izinkan berangkat. Semua akan kami izinkan jika cuaca di laut sudah membaik," ucap Willy.
Di Pelra Wuring, lanjutnya, ada puluhan kapal yang akan ke Sulawesi Selatan, dan belum bisa berangkat karena cuaca. Willy menjelaskan, gelombang laut di parairan Flores mencapai empat sampai lima meter, hingga 16 Januari 2013.
"Menjelang Tahun Baru Cina, kami selalu pantau satu minggu sebelum dan satu minggu sesudah. Tadi ada informasi kapal dari Sulawesi ke Maumere sudah diizinkan berlayar. Di Maumere kami belum berani mengizinkan," tutur Willy.
Ia mengatakan, hingga kini Adpel Maumere juga belum berani mengeluarkan surat berlayar kepada kapal penangkap ikan di Sikka, sebab cuaca di laut belum bersahabat. (*)