Jumat, 15 Mei 2026

Citra Ekspor Payung Geulis Hingga ke Jerman

Jerman mulai melirik payung geulis khas Tasikmalaya untuk kebutuhan pariwisata di negaranya.

Tayang:
Editor: Sanusi

TRIBUNNEWS.COM, TASIKMALAYA - Jerman mulai melirik payung geulis khas Tasikmalaya untuk kebutuhan pariwisata di negaranya.

Perajin di sentra produksi payung geulis Kelurahan Panyingkiran, Kecamatan Indihiang, Kota Tasikmalaya, mengekspor sedikitnya 60 unit payung geulis besar setiap bulannya.

"Kebutuhannya sebenarnya mencapai ratusan. Tapi karena keterbatasan bahan baku rangka, kami hanya bisa memenuhi 60 buah dalam sebulan," ungkap Citra (40), salah seorang perajin yang juga anak perintis sekaligus tokoh perajin payung geulis, almarhum H Syahrod, saat ditemui di rumah industrinya, belum lama ini.

Citra mengatakan, kemampuan pembuatan bahan baku rangka sangat terbatas. Pasalnya di Tasikmalaya kini hanya tinggal dua ahli pembuat rangka payung tradisional terbuat dari bambu, kayu dan kertas ini. 

Kedua pembuat rangka yang rata-rata sudah tua ini saat ini tinggal di kawasan Gobras, Kecamatan Tamansari. Seluruh perajin payung geulis di Tasikmalaya praktis hanya mengandalkan kedua pembuat rangka tersebut.

"Bisa memenuhi kebutuhan 60 buah dalam sebulan saja sudah bagus. Belum lagi order reguler yang selama ini sudah ada, yaitu dari Jakarta, Bandung, Bali, Surabaya, Yogyakarta, Singapura, Malaysia, dan Brazil.

Payung geulis yang diekspor ke Jerman melalui buyer ini hanya diberi warna dasar merah untuk kain payung serta warna alami untuk rangka. Satu buahnya dijual dengan harga Rp 400 ribu. Citra juga menjual ukuran lebih besar ke Bali dengan harga mencapai Rp 700 ribu.

Sementara untuk yang berukuran standar dengan payung yang terbuat dari kertas dan dihias dengan lukisan bunga, harganya bervariasi antara Rp 20 ribu hingga Rp 25 ribu per buah.

"Kebutuhan dalam negeri sendiri sebenarnya tinggi. Tapi kami tidak berani memenuhi seluruhnya karena keterbatasan bahan baku rangka," kata Citra.

Citra menambahkan, kendala kekurangan pembuat rangka sudah menjadi problem klasik perajin payung geulis. Pasalnya, generasi muda tak tertarik menjadi pembuat rangka, karena mereka lebih tergiru menjadi buruh bordir yang penghasilannya lebih besar.

"Kalau tidak ada regenerasi bisa dipastikan kerajinan payung geulis hanya tinggal kenangan," imbuhnya. (stf)

Sumber: Tribun Jabar
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved