Pengungsi Palue BAB di Kantong Plastik Lalu Buang di Laut
mereka mulai tidak merasa nyaman, bahkan bentrok dengan masyarakat sekitar gara-gara buang air besar (BAB) sembarangan di kebun warga.
-- Laporan Wartawan Pos Kupang, Feliks Janggu
TRIBUNNEWS.COM, MAUMERE--Ratusan pengungsi Palue sudah menempati sebagian rumah di Nangahure, Kecamatan Alok Barat, Kota Maumere. Tetapi mereka mulai tidak merasa nyaman, bahkan bentrok dengan masyarakat sekitar gara-gara buang air besar (BAB) sembarangan di kebun warga.
Namun, karena malu BAB di kebun warga, sebagian pengungsi Palue di Nangahure memutuskan untuk BAB di kantong plastik dan membuangnya ke laut. Jarak permukiman penduduk dengan laut hanya 100 meter.
Beberapa ibu yang ditemui dengan menggunakan bahasa daerah dengan malu-malu mengungkapkan hal itu. Mereka mengaku malu BAB di kebun warga, apalagi kalau dimarahi warga. "Kami taruh di kantong plastik, kami bawa ke laut," ujar seorang ibu dengan malu-malu ditemui Pos Kupang di lokasi pengungsian di Nangahure, Minggu (2/3/2014) sore.
"Kami malu sekali kalau bentrok dengan pemilik kebun, gara-gara berak di kebun mereka. WC ini yang susah, kami malu sekali," kata Anton Seba, salah satu tetua masyarakat di kompleks pengungsian Palue yang ditemui terpisah.
Warga pengungsi Palue berharap pemerintah daerah segera mengurus fasilitas mandi cuci kakus (MCK) untuk masyarakat pengungsi di Nangahure.
Setiap masyarakat yang ditemui Pos Kupang, mengeluhkan MCK, terutama toilet yang ada tidak memadai. Sebab, masalah BAB memicu marah warga sekitar yang mempunyai kebun di sekitar pemukiman penduduk pengungsi.
Dengan menggelengkan kepala, Anton mengatakan, tidak tahu bagaimana ratusan warga pengungsi Palue yang memadati pemukiman baru di Nangahure itu membuang hajat mereka setiap harinya. "Saya bingung, tidak tahu mereka buat bagaimana. Biasanya setiap jam 5 dan 6 pagi, orang jalan itu ke atas (ke kebun)," tutur Anton sambil menunjuk ke arah kebun-kebun warga di sekitarnya.
Pengakuan yang sama disampaikan Klemens Riba, tetua masyarakat yang lainnya. Klemens sambil menggelengkan kepala mengungkapkan bahwa mereka malu ketika pemilik kebun marah. "Kami malu sekali pak," ujar Klemens ditemui di rumah kediaman yang baru akan dibangunnya.
Bukan hanya persoalan toilet, ungkap beberapa warga pengungsi lainnya, masyarakat pengungsi juga seringkali tidak diperbolehkan warga sekitar untuk mendapatkan air minum dari air leding milik warga asli di Nangahure.
"Kami malu pak, kadang kami ambil air untuk minum, dilarang dan dimarahi. Kamu itu pendatang. Kami susah air di sini, kalau untuk mandi kami pakai air sumur," tutur beberapa ibu rumah tangga yang enggan menyebutkan nama mereka.
Klemens dan Anton menjelaskan, warga pengungsi Palue yang sudah menempati rumah di pemukiman Nangahure hampir mencapai 200 kepala keluarga (KK). "Mungkin sudah mencapai 200 KK dari 300 lebih rumah yang dibangun di sini," ujar Anton.
Anton mengatakan, tidak lama lagi masyarakat sudah bisa merampungkan semua rumah-rumah dan ditempati semuanya. "WC ini yang sangat kami butuhkan saat ini. Kami banyak orang, bingung mau BAB di mana," kata Anton.
Pantauan Pos Kupang, masyarakat sibuk memberesi rumah mereka. Rumah sederhana dengan anggaran Rp15 juta per rumah itu sudah banyak yang ditempati pengungsi meski tidak ada penerang listrik.
Pemukiman baru itu berada di tanah berlereng. Warga menyampaikan bahwa kalau hujan turun tempat itu penuh air banjir. Namun, yang mereka butuhkan saat ini adalah MCK, sebab gelombang pengungsi yang menempati rumah-rumah semakin hari memadati pemukiman baru itu. Sedangkan pengungsi gelombang kedua yang datang dari Palue per Agustus 2013 masih bertahan di eks Kantor Bupati Sikka di Kota Baru. Mereka direncanakan pemerintah direlokasi ke Pulau Besar.
Untuk mengisi hari-hari penantian itu, sebagian masyarakat kembali ke kampung halaman mereka di Palue untuk bertani. Sebagian lagi menjadi buruh pelabuhan, sebagian nelayan dan menjadi buruh bangunan. Sedangkan para ibu rumah tangga konsentrasi menenun dan menjual hasil tenunan mereka di pasar-pasar di Kota Maumere. *
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/20140303_140915_toilet.jpg)